BAJAWA, FLORESPOS.net-Kegiatan bertaraf nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) melalui Dirjen Kebudayaan akan dilaksanakan di Kabupaten Ngada, Provinsi NTT.
Kegiatan yang disebut Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) 2024 menghadirkan 50 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia akan dilaksanakan tanggal 25 Oktober-25 November 2024.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Elisius Kletus Watungadha didampingi Kepala Bidang Kebudayaan, Asry Moi dalam konferensi pers, Senin ( 21/10-2024) menjelaskan kegiatan yang berlangsung selama sebulan tersebut hadir di Kabupaten Ngada melalui proses yang panjang.
Ngada terpilih setelah dilakukan survei dan verifikasi di lima daerah lainnya, yaitu Gorontalo, Ternate, Tumohon, dan Wakatobi.
Kegiatan KBKM di Kabupaten Ngada setelah dilakukan survei oleh tim dari Kementerian Desa di 6 Kecamatan yang akan dijadikan tempat kegiatan tersebut.
Sembilan desa tersebut masing-masing Lengkosambi Utara dan Tadho di Kecamatan Riung, Watumanu di Kecamatan Jerebu’u, Wawowae dan Langagedha di Kecamatan Bajawa, Boba Satu di Kecamatan Golewa Selatan, serta Dadawea dan Wogo di Kecamatan Golewa serta dan Mengeruda di Kecamatan Soa.
Dijelaskannya, kegiatan tersebut dilakukan dengan spirit untuk kemajuan budaya dengan pendekatan inovatif berbasis potensi lokal, seperti menciptakan aplikasi dan prakarya yang dapat menjawab berbagai masalah dalam pemajuan kebudayaan melalui pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics).
Tim survey telah melakukan pemetaan berdasarkan potensi desa seperti di Desa Wawowae di bidang peternakan, Kopi, kerajinan rakyat yang terbuat dari daun pandan, permainan rakyat, cagar budaya, ekologis serta wisata alam.
Di Desa Langagedha dikembangkan beberapa potensi seperti kopi, perkebunan, tenun dan Kampung Adat Lama Langagedha.
Desa Watumanu, ada beberapa potensi yang akan juga dibantu untuk dikembangkan yaitu cengkeh, kopi, kelapa, vanili dan dari aspek budaya adalah cagar budaya.
Tentunya ada inovasi yang ditawarkan oleh para mahasiswa untuk menjadi destinasi wisata yang lebih memikat.
Untuk Desa Wogo potensi yang diunggulkan adalah Kampung tradisional serta Kampus Bambu juga di Desa Dadawea yang memiliki potensi budaya, UMKM pangan lokal, pengelolaan air bersih serta wisata rohani .
Untuk Desa Boba 1 inovasi yang akan dilakukan adalah pengembangan wisata air panas, perkebunan juga penanganan penyakit pisang dengan menggunakan arak Boba.
Desa Mengeruda potensi yang dikembangkan adalah Peternakan Babi, pertanian dan kawasan cekungan Soa.
Di Desa Lengkosambi Utara dari kegiatan KBKM tersebut adalah pengembangan pariwisata Pantai Watulajar, peternakan, pertanian dan juga kuliner. Desa Tadho kegiatannya adalah pengembangan sektor pariwisata.
Harapannya, dengan kegiatan yang melibatkan 50 mahasiswa ditambah dengan mentor yang berpengalaman dan memahami bidangnya akan mentransfer ilmu dan pengetahuan yang telah diperolehnya kepada masyarakat di desa-desa tersebut.
Para mahasiswa menyebar di setiap titik KBKM sesuai kapasitas, inovasi, kemampuan yang mereka miliki sesuai potensi lokal setiap lokasi. Pemerintah daerah membantu memfasilitasi agar program dapat berjalan dengan baik.
Diharapkannya juga, ketika para mentor dari pusat dan mahasiswa telah kembali dapat dilanjutkan oleh para mentor lokal dan masyarakat dapat memanfaatkannya dari inovasi yang diperoleh.
Kepala Bidang Kebudayaan Asry Moi pada kesempatan tersebut juga menambahkan kegiatan KBKM bukan merupakan kegiatan KKN Mahasiswa.
Namun 50 mahasiswa yang terseleksi dari sejumlah universitas di Indonesia tersebut akan membagikan pengetahuan lewat inovasi yang mereka ketahui.
Dicontohkannya, untuk Kopi inovasi yang dilakukan adalah non minuman seperti aroma terapi, pembuatan masker wajah dan inovasi lainnya.
Hal lain yang dilakukan adalah digitalisasi kebudayaan di Desa Langagedha ataupun penanganan hama pisang di Desa Boba 1 dengan menggunakan bahan-bahan lokal.
Hal yang luar biasa yang akan juga dilakukan adalah Revitalisasi rumah adat Riung di Desa Lengkosambi Utara yang merupakan momentum bersejarah, karena di sana rumah adat boleh dikatakan sudah punah .
Dengan kegiatan KBKM yang akan diterima secara resmi pada tanggal 25 Oktober 2024 di aula John Thom sebelum peserta KBKM akan berada dan tinggal di desa Residence KBKM tersebut. *
Penulis : Wim de Rozari
Editor : Anton Harus










