MAUMERE, FLORESPOS.net-Puncak musim kemarau panjang hingga pekan kedua Oktober 2024 telah menyebabkan sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami krisis air bersih.
Sebelumnya, krisis air bersih ini hanya dialami warga Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda di bagian barat Sikka. Namun kini meluas menjadi 4 kecamatan, yakni Bola, Kangae dan Talibura di bagian timur Sikka.
Rasdiana Nona Densi, warga Dusun Koro, Kecamatan Magepanda yang saat itu sedang mengantri mendapat pelayanan air bersih bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka mengaku saat ini warga yang ada di wilayah dusunnya tengah mengalami kesulitan air bersih.
Dia mengatakan, sejak beberapa waktu lalu, warga saling berebut air di wilayah mereka yang disalurkan melalui jaringan perpipahan. Namun karena kemarau panjang, debit air pada jaringan perpipaan mengering sehingga sebagian warga tidak kebagian.
“Terkadang kami hampir berkelahi (ribut) karena tidak kebagian air dari jaringan perpipahan. Karena debit mulai mengering,” kata Rasdiana kepada media ini, Kamis (10/10/2024).
Menurut dia, sejumlah sumber mata air di wilayah tersebut saat ini tengah mengalami penurunan debit bahkan ada yang hampir mengering karena musim kemarau.
“Kami sudah menunggu mulai tadi karena ada infomasi tim Penanggulan Bencana akan datang bawah air untuk kami,” kata Rasdiana sambil terus mengisi air bantuan BPBD Sikka dalam jerigennya.
Yulens Siswanto, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Sikka ditemui di lokasi Dusun Koro, Kecamatan Magepanda mengatakan, berdasarkan data BPBD Sikka saat ini sejumlah kecamatan tengah mengalami krisis air akibat musim kemarau.
Menurut dia, sudah 4 kecamatan di wilayah Kabupaten Sikka tengah mengalami krisis air bersih, yakni Magepanda, Bola, Kangae dan Talibura.
“Data kita saat ini krisis air meluas di 4 kecamatan akibat kemarau panjang,” kata Yulens Siswanto.
Yulens Siswanto mengatakan, akibat kemarau panjang, hampir sebagian debit air di kecamatan terdampak mengalami penurunan yang sangat drastis.
Selain itu, katanya, juga akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur yang menyebabkan sumber mata air terpapar abu vulkanik.
“Di Kecamatan Talibura misalnya, selain debit air menurun, sebagaian besar sumber mata air sudah terpapar abu vulkanik Gunung Lewotobi. Bahkan ada sumber mata air yang sudah mengering,” kata Yulens Siswanto.
Yulens Siswanto menambahkan, pihaknya juga meminta agar Pemerintah Kecamatan hingga Pemerintah Desa lebih pro aktif melihat kondisi warga di lapangan terkait krisis air bersih saat ini dan membuat laporan.
“Kami berharap pemerintah desa bisa buatkan laporan jika ada warga yang mengalami kesulitan air sehingga kami segera mengirimkan bantuan,” harap dia.
Sebagaimana diketahui, sejak dua hari ini, BPBD Sikka turun mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak krisis air akibat kemarau panjang. *
Penulis : Shinto Koban (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando










