MAUMERE, FLORESPOS.net-Bendungan Napun Gete di Desa Ilinmedo, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum berdampak maksimal dan merata bagi kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya.
Faktanya, sebagain warga di wilayah RT 01, RW 01, Desa Tua Bao yang berada di bagian paling hilir dalam kawasan bendungan yang dibangun dengan alokasi anggaran ratusan miliar rupiah itu, justru mengalami kesulitan air bersih.
Selain debit air bendungan menurun akibat kemarau panjang, juga pasokan air dari sejumlah sumber mata air pun kini sangat minim.
“Di wilayah kami air dari jaringan yang ada tidak keluar, karena debit airnya sangat kecil, apalagi saat ini sedang kemarau panjang,” kata Yuliana Lodan, warga Desa Tua Bao kepada media ini, Sabtu (5/10/2024).

Akibatnya, warga yang sebagian merupakan kaum ibu terpaksa berjalan kaki sejauh 6 kilometer menuruni bukit dan lembah menuju bantaran kali Nuba Tua Bao untuk mengambil air yang digunakan hanya untuk minum dan masak.
“Mau tidak mau, kami harus ambil air di sini walaupun tidak bersih karena tidak saja untuk minum dan masak, namun air ini juga untuk mencuci pakaian,” ungkap Yuliana Lodan diaminkan Theresia, warga Desa Tua Bao lainnya.
Yuliana mengatakan, kalau tidak mengambil air dari kali Nuba Tua Bao, warga setempat terpaksa mengeluarkan uang Rp.500.000, untuk membeli air tangki dengan kapasitas 5.000 liter.
“Belum lagi kami harus sewa jasa ojek untuk beli dan angkut air sebesar Rp.20.000 untuk 4 jerigen air,” katanya.
Sebagaimana diketahui, Bendungan Napun Gete dibangun dengan anggaran Rp 880 miliar dengan masa pelaksanaan tahun 2016-2020. Bendungan ini diresmikan Presiden Joko Widodo pada Selasa (23/2/2021) sore.
Bendungan ini mempunyai kapasitas tampung 11,22 juta meter kubik dengan luas genangan 99,78 hektar, memiliki manfaat untuk penyediaan air irigasi seluas 300 hektar dan penyediaan air baku sebesar 0,2 meter kubik per detik.
Bendungan Napun Gete juga mempunyai potensi penyediaan listrik tenaga air sebesar 0,1 megawatt, serta pengendalian banjir daerah hilir dan potensi untuk kebutuhan pengembangan sektor pariwisata. *
Penulis : Shinto Koban (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando










