Madin Tekankan Kerja Sama Penanganan Bencana di Manggarai Barat - FloresPos Net

Madin Tekankan Kerja Sama Penanganan Bencana di Manggarai Barat

- Jurnalis

Senin, 1 April 2024 - 10:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Kerja sama dan koordinasi lintas sektoral serta keterlibatan semua pihak di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) amat penting dalam menyusun perencanaan daerah itu terkait penanganan/penanggulan bencana.

Demikian ditekanan Asisten Bidang Pemerintahan (Asisten 1) lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar, Hilarius Madin, ketika membuka kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Awal Dokumen (KPRAD) Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Mabar 2024-2029 di Labuan Bajo baru-baru ini.

Hadir antara lain Ketua KRB Mabar RP. Marsel Agot, SVD, Ketua KRB Provinsi NTT Norman, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mabar Isfridus S. Tobong, Sekretaris BPBD Mabar Yohanes Stat serta lain-lain.

Menurut Madin, BPBD Mabar dibantu Program Siap Siaga melaksanakan penguatan sistim penanggulangan bencana di daerah itu. Salah satu yang akan dilakukannya adalah kegiatan penyusunan  KRB Kabupaten Manggarai Barat 2024-2029.

Dokumen KRB merupakan dokumen induk dan wajib dimiliki oleh BPBD sesuai dengan amanat Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana.

Pemkab Mabar memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Siap Siaga yang secara kolaboratif dengan BPBD Manggarai Barat yang ditargetkan selesai pada Juni 2024 mendatang, kata Madin.

Baca Juga :  Ende Selatan Champion Bupati Ende Cup 2025

Perlu diketahui bersama, kata Madin, bahwa dokumen ini tidak hanya sekadar kumpulan data statistik, tetapi juga merupakan hasil kolaborasi dan pemikiran dari berbagai pihak, termasuk ahli, praktisi dan masyarakat umum.

Dalam KPRAD-KRB Mabar ini, ungkap Madin, akan membahas secara mendalam berbagai aspek terkait dengan risiko bencana, termasuk identifikasi, analisis, dan strategi mitigasi dan juga indeks ketangguhan daerah Mabar tahun 2024.

Dengan beragamnya potensi bencana di Mabar, diperlukan upaya penanggulangan bencana yang melibatkan pemangku kepentingan secara luas. Konsep penanganan bencana mengalami pergeseran dari paradigma konvensional menjadi paradigma holistik. Dalam artian telah dimulai perubahan cara pandang bencana dari yang bersifat tanggap darurat menjadi pengurangan resiko bencana.

Proses ini berjalan dengan baik apabila ada kerja sama lintas sektoral dan keterlibatan semua pihak di Mabar untuk menyusun perencanaan daerah terkait penanggulangan bencana.

“Saya ingin menekankan pentingnya kerja sama dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan ini,” ujar Madin yang mantan Camat Sano Nggoang Mabar itu.

Kita semua, lanjut Madin, memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya penanggulangan bencana untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Melalui diskusi dan kolaborasi yang konstruktif hari ini, yakin kita akan menghasilkan dokumen kajian resiko bencana yang komprehensif dan berdampak nyata.

Baca Juga :  Tingkatkan SDM Unggul, Pemerintah Akan Bangun Poltekpar Negeri di Labuan Bajo

“Mari kita manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, dan saya harap hasil dari Konsultasi Publik Rancangan Awal Dokumen Kajian Resiko Bencana (KRB) Kabupaten Mabar ini dapat menjadi pijakan yang kuat dalam upaya kita untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya dalam menghadapi bencana, tutup Madin.

Norman, Ketua Kajian Risiko Bencana Prov. NTT yang juga  Dosen Undana Kupang pada kesempatan itu antara lain mengungkapkan, KRB merupakan dokumen dasar. Mabar kawasan rawan bencana, karena begitu faktanya, katanya.

Masih Nurman, untuk tingkat Prov. NTT selama ini ada 14 jenis bencana. Sedangkan untuk Mabar ada sekitar 10 jenis bencana, antara lain tanah longsor, banjir, angin puting beliung, dan kekeringan.

Penanganan bencana tidak hanya BPBD, tetapi mesti kolaboratif, antara lain melibatkan pihak gereja, perguruan tinggi, TNI, Polri, dan pemerintah. *

Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Dampak Gempa Bumi di Ende, 1.820 Rumah Warga Rusak, Pemerintah Mulai Salurkan Sembako
Tinjau Korban Gempa Flores di Riung, Kepala BNPB Pastikan Dukungan Terus Diberikan Sesuai Kebutuhan Masyarakat
Keluarga Besar PDI Perjuangan Kembali Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Korban Bencana
Korban Gempa Flores, Manggarai Barat 2 Meninggal, 21 Cedera
Bupati Ngada: Peringatan Kemerdekaan Momentum untuk Memperkuat Kepedulian
Tim SAR Gabungan Evakuasi WNA Cina yang Terjatuh Saat Pendakian di Pulau Padar
Rapat Cepat dengan Bupati Ngada, Kepala BNPB Sampaikan 17 Point Penting
Tim SAR Gabungan Terus Evakuasi Korban Gempa M 7,7 Manggarai Timur ke Labuan Bajo
Berita ini 65 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:00 WITA

Dampak Gempa Bumi di Ende, 1.820 Rumah Warga Rusak, Pemerintah Mulai Salurkan Sembako

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:19 WITA

Tinjau Korban Gempa Flores di Riung, Kepala BNPB Pastikan Dukungan Terus Diberikan Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:08 WITA

Keluarga Besar PDI Perjuangan Kembali Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Korban Bencana

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:59 WITA

Korban Gempa Flores, Manggarai Barat 2 Meninggal, 21 Cedera

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:56 WITA

Bupati Ngada: Peringatan Kemerdekaan Momentum untuk Memperkuat Kepedulian

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Korban Gempa Flores, Manggarai Barat 2 Meninggal, 21 Cedera

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:59 WITA