RUTENG,FLORESPOS.net – Pastoral ekologi integral yang diprogramkan Keuskupan Diosis Ruteng, Flores, NTT yang dijalankan tahun ini bertujuan juga untuk mendukung kesejahteraan ekonomi dan kebahagiaan hidup umat.
“Kita ingin juga mengembangkan ekonomi ekologis,”ujar Uskup Sipri Hormat dalam surat gembala Paskah 2024 yang kopiannya diterima wartawan dari Komsos Puspas Keuskupan Ruteng, Sabtu (16/3/2024).
Hal itu nantinya terungkap dalam program-program paroki di bidang pertanian organik hortikultura dan buah-buahan, penanaman kayu bernilai ekonomi di lahan paroki dan tanaman hias di taman Gereja dan pastoran, serta gerakan “pohon sakramen”.
Kita ingin mengembangkan ekonomi yang berpijak pada kearifan lokal yang ramah lingkungan.
Hal ini terungkap dalam tiga festival pastoral Keuskupan, yakni Festival Golo Koe di Labuan Bajo, Mabar, Festival Golo Curu di Ruteng, Manggarai, dan Festival Lembah Sanpio di Kisol, Matim.
Di dalamnya terlibat berbagai kelompok ekonomi UMKM lokal dan komunitas seni kultural kreatif.
Selebrasi iman dalam festival ini sejatinya bertujuan untuk menumbuhkembangkan partisipasi umat dalam mewujudkan pariwisata dan ekonomi hijau, yang ramah lingkungan, dan berakar dalam keanekaragaman kekayaan kearifan lokal di bumi Congkasae tercinta.
Dikatakan, gerakan ekologi yang kita lakukan tahun 2024 ini bukanlah sekedar aksi sosial belaka. Tetapi semua itu adalah gerakan pastoral dan gerakan iman.
Relasi yang harmonis dengan alam hendaknya mengantar kita kepada perjumpaan dengan yang ilahi.
Sebaliknya kesadaran iman menuntun kepada penemuan penuh sukacita akan yang abadi dalam dunia yang fana.
“Alam semesta berkembang dalam Allah yang memenuhinya sepenuhnya. Oleh karena itu ada makna mistis dalam sehelai daun, dalam sebuah lintasan alam, dalam embun, dalam wajah orang miskin… Kita belajar menemukan Allah dalam segala makhluk di luar kita.” (LS 233).
Harmoni dengan Sang Khalik ini kiranya menuntun kepada harmoni alamiah yang ditemukan dalam jati diri manusia.
Paus Benediktus XVI berbicara tentang “ekologi manusia” (Oekologie des Menschen).
Menurutnya, “juga manusia memiliki suatu kodrat alamiah, yang mesti dia perhatikan, dan tidak bisa dia manipulasi seenaknya.”
Manusia perlu menyadari dan menghayati ritme alam dalam kehidupannya. Dirinya seperti alam adalah hadiah sang Pencipta dengan pola dan proses kehidupan yang teratur dan harmonis.
Penerimaan diri sebagai kodrat alamiah yang dianugerahkan oleh Allah ini memungkinkan kita menyambut dan menerima alam semesta sebagai anugerah dari Bapa dan rumah kita bersama (LS 155).
Sebelumnya RD. Erik Ratu dari Komsos Puspas mengatakan, surat gembala Uskup ini telah diberikan ke mana-mana, terutama di paroki-paroki guna dibacakan setiap momen pertemuan umat.
“Surat gembala ini harus dibacakan guna diketahui, dipahami, dan dilaksanakan siapapun di Keuskupan ini,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










