MAUMERE, FLORESPOS.net-Tanaman jagung di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), tumbuh kerdil. Parahnya lagi, hampir seluruh tanaman jagung para petani di sejumlah wilayah juga diserang ulat grayak.
Penelusuran Florespos.net, di Dusun Wairhubing, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kamis (15/2/2024) siang, tanaman jagung baik di tanam di pekarangan rumah maupun di kebun di wilayah setempat tumbuh kerdil.
Sebagian besar tinggi jagung yang ditanam Desember 2023 dan Januari 2024, tidak lebih dari lutut orang dewasa.
Ada lagi tanaman jagung tumbuh lebih dari lutut orang dewasa sudah berbunga dan berbuah tapi tidak ada isi.
Monika Grasiana (50), warga Desa Watuliwung mengaku tanaman jagung miliknya ditanam pada Januari 2024. Tapi sampai sekarang tidak tumbuh baik karena cuaca terlalu panas–hujan tidak menentu dan diserang ulat grayak.

“Saya tanam bulan Januari lalu. Mestinya sekarang sudah lebih dari lutut. Tanaman jagung ini tidak tumbuh dengan baik karena terlalu panas. Belum lagi sekarang, banyak ulat makan daun dan batang,” kata Monika ketika ditemui Florespos.net, di kebunnya, Kamis (15/2/2024) siang.
Sambil terus membersihkan rumput liar di sela-sela tanaman jagung, Monika mengatakan, ulat grayak tidak hanya menyerang tanaman jagungnya. Tapi sebagian besar tanaman jagung di wilayah itu sudah diserang ulat grayak.
“Di sini, hampir semuanya diserang ulat. Kami sudah obati dengan cara kampung. Campuran jeruk nipis, tapi sampai sekarang masih ada ulat,” katanya.

“Ada petani sudah cabut jagung yang rusak diserang ulat. Saya sendiri pasrah saja. Mungkin siapkan saja untuk tanam kacang ijo,” tambah Monika.
Monika mengaku, sampai sekarang belum ada intervensi dari dinas terkait. Dia berharap selain mengatasi serangan hama ulat grayak, dinas terkait bisa membantu bibit jagung yang kebal dengan ulat grayak.
Pantauan Florespos.net, Kamis (15/2/2024) siang, selain di Watuliwung, sepanjang jalan menuju Brai, Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur juga serupa. Tanaman jagung setempat tumbuh kerdil dan diserang ulat grayak. *
Penulis: Wentho Eliando I Editor: Anton Harus










