RUTENG, FLORESPOS.net-Umat Katolik tidak boleh asal memilih dalam pesta demokrasi, melainkan harus mendasari pilihan pada kriteria-kriteria yang bersumber dari ajaran sosial gereja dan falsafah Pancasila.
Uskup Diosis Ruteng, Mgr. Sipri Hormat seperti tertuang dalam surat gembala khusus untuk Pemilu 2024 yang kopiannya diterima wartawan, Selasa (16/1/2024) mengajak semua untuk mencari dan menentukan pemimpin bangsa yang tepat dalam Pemilu yang akan datang.
“Kriteria-kriteria sudah ada yang bersumber dari Ajaran Sosial Gereja dan falsafah negara Pancasila,” katanya.
Kiranya dua sumber itu dapat mencerahkan dan menginspirasi kita dalam menentukan pilihan politik yang benar dan bijaksana.
Gereja berwewenang dan terpanggil untuk membimbing umat-Nya dan semua orang berkehendak baik agar secara bebas dan dengan hati nuraninya dapat membuat putusan politik yang bertanggungjawab dalam terang nilai-nilai Injili.
Kriteria dalam menentukan pilihan itu, yakni, Pertama, carilah pemimpin yang memiliki kemampuan dan integritas untuk menahkodai bangsa ini menuju kemakmuran, keadilan dan solidaritas sosial bagi seluruh rakyat (Sila Kelima).
Prinsip kesejahteraan umum (bonum commune) ini menolak praktik nepotisme, kolusi dan korupsi (KKN).
Kapabilitas kepemimpinan dan integritas moral calon pemimpin tersebut mesti teruji dan terpuji tidak hanya dalam visi-misi mereka ke depan.
Tetapi juga terbukti dalam rekam jejak kinerjanya di masa lampau.
Kedua, ajaran Sosial Gereja menegaskan bahwa pribadi manusia adalah dasar dan tujuan dari semua kehidupan politik.
Seluruh dinamika kenegaraan bertujuan untuk mengembangkan dan menegakkan martabat dan harkat kemanusiaan setiap insan (Sila Kedua).
Oleh sebab itu, carilah pemimpin yang peduli dan berbelarasa terhadap sesama anak bangsa khususnya yang lemah dan rentan.
Dan pilihlah calon pemimpin kuat yang dapat menegakan HAM serta mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bernegara.
Ketiga, sejarah kelam bangsa dalam zaman Orde Baru dihantui oleh praktik penyalahgunaan kekuasaan, otoriter, rekayasa dan kekerasan.
Kita bersyukur atas fajar demokrasi yang terbit sejak era reformasi yang dimotori oleh para mahasiswa.
Demokrasi berarti dinamika politik dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang mengandung unsur partisipasi dan tanggung jawab.
Oleh sebab itu, marilah kita memilih pemimpin yang sungguh lahir dari proses demokratis yang benar dan tepat.
Serta yang berkomitmen untuk menegakkan kedaulatan rakyat, etika dan demokrasi (Sila Keempat).
Keempat, suatu bangsa pertama-tama merupakan kebersamaan kehidupan dan nilai, yang membentuk persekutuan rohani dan moral.
Menurut Paus Yohanes XXIII kehidupan bersama suatu bangsa adalah sebuah peristiwa spiritual.
Maka politik harus menjamin warga untuk beriman dan beribadat menurut keyakinannya masing-masing serta menemukan Allah sebagai sumber kekuatan dan kebahagiaannya yang sejati (Sila Pertama).
Karena itu, carilah pemimpin yang beramanah dan beribadah, yang religius, toleran dan inklusif.
Sebaliknya hindarilah memilih pemimpin yang dalam rekam jejaknya memanfaatkan agama sebagai kendaraan politik kekuasaan belaka (politik identitas).
Kelima, Indonesia adalah sebuah lukisan bangsa magis mempesona karena dibentuk oleh mosaik-mosaik indah keunikan dan keanekaragaman suku, adat istiadat, bahasa, dan agama.
Kesatuan dalam keragaman yang saling menghargai dan melengkapi inilah yang menjamin kelanggengan dan kemakmuran bangsa dalam sejarah.
Sosialitas manusia tidaklah seragam tetapi beragam. Kesejahteraan bersama ditentukan oleh kemajemukan yang sehat.
Karena itu pilihlah calon yang paling mampu menegakkan empat pilar kebangsaan: NKRI, Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 45 (Sila Ketiga).
Kepada para calon pemimpin bangsa, calon anggota legislatif, dan para pendukungnya, Uskup Sipri mengimbau untuk bertarung dalam Pemilu secara jujur dan ksatria, menolak cara hoaks dan manipulasi, melawan kekerasan serta menggelorakan semangat persaudaraan dan kebangsaan.
“Pemilu terjadi hanya sekali dalam lima tahun, tetapi kita semua adalah anak-anak ibu pertiwi Indonesia yang satu dan sama untuk selama-lamanya,” ujar Uskup Sipri yang pernah menjadi Sekretaris eksekutif KWI itu.
Tak lupa saya mengingatkan Penyelenggara Pemilu (KPU, PPS, Bawaslu), Pemerintah, TNI/Polri, Instansi Hukum dan aparat negara lainnya untuk menjalankan fungsinya dengan netral, jujur dan bertanggungjawab.
Karena Pemilu tahun ini bertepatan dengan hari Rabu Abu, menurut Rm. Manfred Habur, Uskup Sipri juga mengatakan, untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu, sekaligus pelaksanaan ibadat, saya menetapkan bahwa perayaan hari Rabu Abu diadakan, Kamis (15 Februari) dari pagi sampai dengan sore hari.
“Sedangkan penerimaan abu di stasi-stasi boleh dilakukan pula hari Minggu, 19 Februari 2024,” katanya.
Akhirnya mari kita terus menjaga situasi tenang dan nyaman di wilayah kita menjelang Pemilu ini.
Mari kita berdoa dan turut berjuang demi Pemilu yang Luber dan Jurdil. Dan terimalah hasil Pemilu dengan sportif dan damai.
Dan, Pemilu kali ini juga bertepatan dengan hari raya Valentine. Kiranya cinta kasih merangkul dan memeluk semua pihak yang bertarung.
Serta cinta kasih pula yang senantiasa meresapi seluruh derap kehidupan politik bangsa kita selanjutnya. Omnia in Caritate. Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih. *
Penulis: Christo Lawudin I Editor: Anton Harus










