RUTENG, FLORESPOS.net – Orang Manggarai memiliki pandangan sendiri tentang alam yang mempengaruhi seluruh tatanan kehidupan masyarakatnya.
Namun, dalam konteks gereja, konsep alamnya perlu diluruskan dengan ajaran Alkitab dan ajaran sosial gereja.
Dosen Unika St. Paulus Ruteng, Romo Ino Sutam yang berbicara pada sidang pastoral post Natal Keuskupan Ruteng, Selasa (9/1/2024) mengatakan, kita tinggal dan hidup di, dalam dan dengan alam.
“Alam adalah eksistensi kita. Kita memperoleh segalanya dari alam dan membuang segala sesuatu kepadanya, ” katanya.
Dikatakan, bersinode berarti berjalan bersama alam: alam menjadi jalan, sahabat atau saudara seperjalanan, panggilan dan perutusan (apa yang dibuat) dalam perjalanan itu.
Kita tidak bisa berziarah tanpa alam. Karena itu panggilan (vocatio), persekutuan (communio) dan missio (vocatio) harus selalu berdimensi ekologis.
Dalam hal ini, sejarah keselamatan (penciptaan, inkarnasi, paskah dan eskatologi) selalu dikaitkan dengan sejarah manusia : ruang dan waktu (masa lalu, kini dan mendatang).
Persahabatan dan persaudaraan dengan alam kita rayakan dalam liturgi. Karena itu liturgi kita selalu pasti bersifat ekologis karena bahan persembahan: roti, anggur, air dari alam;
Lalu, karena dalam liturgi kita merayakan penciptaan dan penebusan ciptaan, termasuk alam; liturgi adalah kekuatan bagi kita dalam mentransformasi alam sesuai dengan kehendak Tuhan;
Kemudian, perjanjian dengan Tuhan dan sesama sekaligus menjadi perjanjian dengan alam.
Tetapi liturgi dirayakan dalam ruang dan waktu tertentu, dan untuk kita, ruang dan waktu riil adalah konteks Manggarai.
Karena itu, pandangan Alkitab dan Ajaran Sosial Gereja tentang alam harus diinterpretasi dengan pandangan orang Manggarai tentang alam.
Sebaliknya konsep alam orang Manggarai harus diluruskan dengan ajaran Alkitab dan Ajaran Sosial Gereja.
Karena itu liturgi kita dan pandangan kita tentang alam harus bersifat inkulturatif : liturgi inkulturatif ekologis.
Menurutnya, manusia adalah titik tolak ajaran Alkitab dan Ajaran Sosial Gereja tentang alam. Hal ini bukan sebuah antriposentrisme tetapi sebuah dialog dan relasi.
Karena manusia adalah makhluk relational, dan imannya juga bersifat relasional: dengan dirinya (Makhluk Individu dan Pribadi), dengan orang lain (Makhluk Sosial), dengan alam (Makhluk Kosmis/Ekologis) dan dengan Tuhan (Makhluk Religius/Spiritual). Jadi, antara manusia ada relasi timbal atau mutualisme.
Dalam mutualisme ini, manusia mengalami sebagai sesuatu yang esensial dan eksistensial seperti alam adalah kehidupan itu sendiri: nafas, makanan, pakaian, tempat tinggal manusia dan segala sesuatu yang dimilikinya dan yang mengitarinya.
Lalu, bahwa alam adalah guru bijak yang selalu memberi dan menerima tanpa syarat. Dan, alam adalah saudara, sahabat, cermin yang memantulkan suara kita, wajah kita.
Alam adalah dia yang memberi segalanya. Rumusan ilmu pengetahuan sudah ada di alam. Manusia adalah penemu bukan pencipta.
Karena itu belajarlah pada alam. Dengarlah alam, sebab ia menggemakan kembali apa yang kita pikirkan, kita rasakan, yang kita lakukan.
Tetapi gemaan itu tentu tidak di luar dan tidak boleh lain dari Wahyu Allah yang diinterpretasi dalam berbagai ajaran Gereja.
“Jika alam rusak, kita tidak kehilangan rumah kita, kita kehilangan sahabat dan saudara kita, kita kehilangan dan cermin yang bisa memantulkan diri kita, ” katanya.
Apa yang terjadi ini merupakan akibat dosa yang merusak harmoni relasi manusia.
Karena itu dosa dipahami sebagai rusaknya relasi manusia dengan dirinya, sesama, alam dan Tuhan.
Inkarnasi, misteri paskah dan eskatologi menghantar manusia pada pemulihan atau harmoni awal yang diperolehnya.
Sebelumnya Ketua Komsos Puspas, Rm. Erik Ratu Pr, mengatakan, para pakar dan ahli yang membawakan materi dalam sidang pastoral ini, selain tokoh awam Sonny Keraf, juga Direktur Puspas Rm. Marthin Chen Pr, Rm. Fery Sutrisna Wijaya dari Bandung, dan Rm. Ino Sutam Pr.
“Para pakar berbicara pada hari kedua sidang pastoral post Natal yang dalam tahun ini, Keuskupan Ruteng memprogramkannya sebagai Tahun Ekologi integral,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










