LARANTUKA, FLORESPOS.net-Siang itu, Jumat 5 Januari 2024, hujan baru saja selesai turun. Seluruh tanah beserta tanaman di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), basah.
Abu vulkanik tebal yang turun menyelimuti dan melumuri wilayah itu selama tiga hari sejak erupsi, Senin 1 Januari 2024 dini hari, seketika lebur bercampur tanah.
Wajah warga di wilayah itu seketika beruba ceria. Begitu pun tanaman padi dan jagung yang baru saja tumbuh dalam dua pekan. Tampak tegak dan segar.
Tak jauh dari Posko Utama Pengungsian Erupsi Lewotobi Laki-laki di Kantor Camat Wulanggitang, tepatnya di areal pematang sawah tadah hujan di Boru, Desa Boru, tampak dua orang tua petani duduk menggembur tanah.

Mata Anastasia Raha Palue (42) dan Hendrikus Endi Lewuk (68) penuh siaga. Tangan mereka terus bergerak menggembur dan membersihkan rumput liar disela-sela hijaunya padi yang masih berusia tiga minggu.
“Dua hari ini turun hujan, sehingga saya datang lihat sekaligus gembur tanah supaya padi ini tetap bertumbuh,” ungkap Agnastasia tersenyum.
Agnastasia dan Hendrikus, adalah warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang. Mereka merupakan warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Kami cemas, karena tanaman ini sudah berlumuran abu vulkanik. Semua padi jadi putih, sayuran juga tidak bisa kami petik,” katanya.
Anastasia mengaku sangat gembira karena dalam dua hari, wilayah tersebut turun hujan setelah para tetuah adat di Desa Nawokote, membuat ritual adat meminta maaf.
“Setelah ritual adat langsung turun hujan. Kami bersyukur karena tanaman yang selama tiga hari ini penuh dengan abu vulkanik sudah bisa lebur bercampur dengan tanah. Tanaman ini pasti tumbuh dengan baik,” kata Anastasia.
“Senang sekali, hujan turun. Kalau tidak mau jadi apa padi yang sudah berusia tiga minggu ini,” kata Hendrikus menambahkan, “Semoga bencana ini cepat berlalu.”
Serupa juga tampak tak jauh dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGI) Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera. Sejumlah warga juga masuk dan keluar kebun melihat tanaman jagung dan ubi kayu (singkong) yang sedang tumbuh.

Sudah satu pekan, aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki belum juga mereda. Gunung Lewotobi Laki-laki masih terus menebar ancaman. Asap dan abu vulkanik terus keluar dari lubang-lubang erupsi selama sepekan.
Setiap enam jam, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, tak henti melaporkan pengamatannya. Erupsi masih terus terjadi dan ancaman lanjutan, banjir lahar dingin ketika hujan turun.
Ribuan warga yang bermukim di lereng gunung, mengungsi. Tercatat, saat ini berjumlah 4.681 jiwa.
Selain secara mandiri di rumah-rumah warga di Desa Hewa, Desa Pululera, Desa Boru Kedang, warga terdampak langsung mengungsi secara terpusat di 2 Posko Utama, yakni SMP Negeri Wulanggitang, di Boru, Kecamatan Wulanggitang, dan Posko Konga di Kantor Desa Konga, Kecamatan Titehena.
Wilayah terdampak langsung, yakni Desa Dulipali, Desa Klatonlo, Desa Hokeng Jaya, Desa Boru, Desa Nawokote. Bahkan dalam beberapa hari belakangan, warga terdampak langsung meluas hingga Desa Nobo. *
Penulis: Wentho Eliando I Editor: Anton Harus










