Sepenggal Cerita Warga Dusun Klotong, Air Batang Pisang untuk Masak dan Minum - FloresPos Net

Sepenggal Cerita Warga Dusun Klotong, Air Batang Pisang untuk Masak dan Minum

- Jurnalis

Jumat, 6 Oktober 2023 - 18:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Air batang pisang ini kami gunakan untuk masak nasi dan minum. Kalau dapat cukup banyak, air batang pisang kami gunakan juga untuk cuci pakaian.”

HIDUP di wilayah pegunungan dengan tidak ada sumber mata air, apalagi di musim kemarau panjang seperti saat ini menjadi ancaman serius bagi warga dalam mendapatkan air bersih untuk konsumsi setiap hari.

Pada Senin, (2/10/2023) siang, bersama sejumlah wartawan, kami mengunjungi Dusun Klotong di bawah kaki bukit Bora, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, NTT.

Di ujung Kampung Klotong, kami bertemu Yoseph Rizal. Pria paruh baya berusia 32 tahun ini tengah mencedok air dari kubangan batang pisang.

“Air batang pisang ini kami gunakan untuk masak nasi dan minum. Kalau dapat cukup banyak air batang pisang, kami gunakan juga untuk cuci pakaian,” ungkap Yoseph.

Yoseph Rizal tengah mencedok air dari kubangan batang pisang. Gambar diambil, Senin (2/10/2023) siang

Sambil terus mencedok air dari kubangan batang pisang, Yoseph menuturkan, terpaksa mengkonsumsi air batang pisang, lantaran penghasilan pas-pasan sehingga tidak mampu beli air tengki Rp. 250.000 hingga Rp.350.000.

Baca Juga :  Keadilan untuk Noni, Keluarga Korban Ungkap Empat Barang Bukti Belum Ditemukan Polres Sikka

“Saya sebulan Rp. 400.000 dari menjual hasil pertanian yang kini mulai terasa penyakit akibat musim panas. Kalau beli air tengki, maka kebutuhan makan dan anak sekolah tidak cukup,” kisah Yoseph.

Yoseph yang merupakan tulang punggung sepuluh anggota keluarga ini mengaku, selama ini, dia dan warga Dusun Klotong khususnya mengandalkan air tadah hujan.

Menurut Yoseph, di wilayah Dusun Klotong khususnya dan Desa Bura Bekor pada umumnya, tidak memiliki sumber mata air, pasca diguncang gempa bumi dan tsunami tahun 1992 lalu.

Jadi, saat musim hujan, warga menampung air pada bak-bak penampung. Ketersediaan air tadah hujan juga kini semakin menipis, bahkan sama sekali tidak ada, apalagi musim kemarau panjang ini.

“Bagi warga yang punya uang bisa beli air tengki. Bagi kami, ya terpaksa minum air batang pisang,” kata Yoseph.

Untuk mendapatkan air bersih, warga biasanya berjalan kaki 8 km menuju mata air Pomat di Desa Hokor.

Baca Juga :  Prakiraan BMKG:Wilayah NTT Berpotensi Dilanda Hujan Lebat dan Angin Kencang pada 8-9 Juni 2024

“Kadang, saya dan warga lainnya, harus jalan kaki ke mata air sejauh 8 km untuk mendapatkan air minum bersih,” kisah Yoseph,

“Kami pasrah. Konsumsi air yang kami ambil dari batang pisang,” kata Yoseph.

Warga Kampung Bora Bupur, Desa Bura Bekor menampung air hujan di bak penampung. Gambar diambil Juni 2023 lalu.

Hermiana Hamseh, Kepala Dusun Klotong mengaku, saat ini sedikitnya 250 kepala keluarga kesulitan air bersih.

Kesulitan air bersih itu, menurut dia, lantaran pasokan air tadah hujan pada bak penampung di rumah-runah warga terus berkurang, bahkan ada sama sekali sudah habis.

“Saat ini, kami kesulitan air. Hanya warga yang punya uang yang bisa beli air tengki Rp. 300.000 agar bisa digunakan untuk kebutuhan setiap hari,” kata Hermiana.

Sepenggal cerita warga terpencil Dusun Klotong mesti berujung. Tidak hanya sekadar tanggap darurat dengan bantuan atau distribusi air bersih sesaat, termasuk saat kemarau panjang.

Lebih dari itu, harus ada upaya dan tindakan permanen agar warga terpencil Dusun Klotong khususnya dan Desa Bura Bekor umumnya tidak lagi masak nasi dan minum air dari batang pisang. *

Penulis: Shinto Koban/Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Baru 3 Paket Proyek di Flores Timur yang Ditender, Yudit Tulit: Lebih Banyak Mini Kompetisi
Yayasan Papha Gandeng AWAS Laksanakan Workshop Terkait Pemberitaan dan Masalah Kesehatan Jiwa
Wujudkan Mimpi Kerja di Luar Negeri, Hantarkan Para Mahasiswa Kuliah di Stikes Santa Elisabeth Keuskupan Maumere
Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17
Empat Jabatan Lowong, Pemkab Manggarai Timur Gelar Seleksi Terbuka
Pasar Pulau Ende Terbengkalai, Camat: Kami Siap Aktifkan dan Mulai dengan Pasar Murah
29 Tim Berlaga di Turnamen Sepak Bola Mini Watutura II U-12
SMPK Tri Bhakti Reo Masuk 10 Besar TKA 2026 Manggarai, Dua Siswa Raih 90.00 Bahasa Indonesia
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 21:19 WITA

Baru 3 Paket Proyek di Flores Timur yang Ditender, Yudit Tulit: Lebih Banyak Mini Kompetisi

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:10 WITA

Yayasan Papha Gandeng AWAS Laksanakan Workshop Terkait Pemberitaan dan Masalah Kesehatan Jiwa

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:00 WITA

Wujudkan Mimpi Kerja di Luar Negeri, Hantarkan Para Mahasiswa Kuliah di Stikes Santa Elisabeth Keuskupan Maumere

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:45 WITA

Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:36 WITA

Empat Jabatan Lowong, Pemkab Manggarai Timur Gelar Seleksi Terbuka

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17

Selasa, 9 Jun 2026 - 19:45 WITA

Nusa Bunga

Empat Jabatan Lowong, Pemkab Manggarai Timur Gelar Seleksi Terbuka

Selasa, 9 Jun 2026 - 16:36 WITA