“Air batang pisang ini kami gunakan untuk masak nasi dan minum. Kalau dapat cukup banyak, air batang pisang kami gunakan juga untuk cuci pakaian.”
HIDUP di wilayah pegunungan dengan tidak ada sumber mata air, apalagi di musim kemarau panjang seperti saat ini menjadi ancaman serius bagi warga dalam mendapatkan air bersih untuk konsumsi setiap hari.
Pada Senin, (2/10/2023) siang, bersama sejumlah wartawan, kami mengunjungi Dusun Klotong di bawah kaki bukit Bora, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, NTT.
Di ujung Kampung Klotong, kami bertemu Yoseph Rizal. Pria paruh baya berusia 32 tahun ini tengah mencedok air dari kubangan batang pisang.
“Air batang pisang ini kami gunakan untuk masak nasi dan minum. Kalau dapat cukup banyak air batang pisang, kami gunakan juga untuk cuci pakaian,” ungkap Yoseph.

Sambil terus mencedok air dari kubangan batang pisang, Yoseph menuturkan, terpaksa mengkonsumsi air batang pisang, lantaran penghasilan pas-pasan sehingga tidak mampu beli air tengki Rp. 250.000 hingga Rp.350.000.
“Saya sebulan Rp. 400.000 dari menjual hasil pertanian yang kini mulai terasa penyakit akibat musim panas. Kalau beli air tengki, maka kebutuhan makan dan anak sekolah tidak cukup,” kisah Yoseph.
Yoseph yang merupakan tulang punggung sepuluh anggota keluarga ini mengaku, selama ini, dia dan warga Dusun Klotong khususnya mengandalkan air tadah hujan.
Menurut Yoseph, di wilayah Dusun Klotong khususnya dan Desa Bura Bekor pada umumnya, tidak memiliki sumber mata air, pasca diguncang gempa bumi dan tsunami tahun 1992 lalu.
Jadi, saat musim hujan, warga menampung air pada bak-bak penampung. Ketersediaan air tadah hujan juga kini semakin menipis, bahkan sama sekali tidak ada, apalagi musim kemarau panjang ini.
“Bagi warga yang punya uang bisa beli air tengki. Bagi kami, ya terpaksa minum air batang pisang,” kata Yoseph.
Untuk mendapatkan air bersih, warga biasanya berjalan kaki 8 km menuju mata air Pomat di Desa Hokor.
“Kadang, saya dan warga lainnya, harus jalan kaki ke mata air sejauh 8 km untuk mendapatkan air minum bersih,” kisah Yoseph,
“Kami pasrah. Konsumsi air yang kami ambil dari batang pisang,” kata Yoseph.

Hermiana Hamseh, Kepala Dusun Klotong mengaku, saat ini sedikitnya 250 kepala keluarga kesulitan air bersih.
Kesulitan air bersih itu, menurut dia, lantaran pasokan air tadah hujan pada bak penampung di rumah-runah warga terus berkurang, bahkan ada sama sekali sudah habis.
“Saat ini, kami kesulitan air. Hanya warga yang punya uang yang bisa beli air tengki Rp. 300.000 agar bisa digunakan untuk kebutuhan setiap hari,” kata Hermiana.
Sepenggal cerita warga terpencil Dusun Klotong mesti berujung. Tidak hanya sekadar tanggap darurat dengan bantuan atau distribusi air bersih sesaat, termasuk saat kemarau panjang.
Lebih dari itu, harus ada upaya dan tindakan permanen agar warga terpencil Dusun Klotong khususnya dan Desa Bura Bekor umumnya tidak lagi masak nasi dan minum air dari batang pisang. *
Penulis: Shinto Koban/Editor: Wentho Eliando










