MAUMERE, FLORESPOS.net-Ribuan umat Katolik Keuskupan Maumere bersama keluarga korban menggelar misa requem dan aksi seribu lilin di Patung Kristus Raja Maumere, Rabu (18/3/2026).
Aksi Diwali dengan berjalan kaki selepas Gereja Katolik Spiritu Santo Misir yang diikuti oleh keluarga korban, teman seperguruan korban dari THM dan THS serta ribuan umat Katolik di Maumere.
Noni nama panggilan Noni sapaan karib Stevania Trisanti Noni, korban pembunuhan sadis yang diduga dilakukan FRG, seorang remaja putra berusia 16 tahun yang tak lain merupakan kakak kelasnya di SMP MBC Ohe.
“Selama ini pihak polisi Polres Sikka bekerja berdasarkan tekanan dan ini terbukti.Kami keluarga sampai hari ini merasa pihak penyidik Polres Sikka belum professional dalam mengungkap kasus ini,” sebut Fabianus Beto, perwakilan keluarga korban usai aksi doa di Patung Kristus Raja Maumere,Rabu (18/3/2026).
Fabi sapaannya mengatakan, keluarga korban bersama Forkoma PMKRI, PMKRI Maumere, GMNI Sikka, BEM Unipa, perguruan THM dan THS serta GRIB Sikka akan terus menggelar aksi.
Pihaknya akan tetap melakukan upaya untuk meminta proses hukum ini tetap berjalan dan memaksa Polres Sikka agar siapapun yang terlibat dalam kasus ini harus bertanggungjawab.
“Kami akan terus melakukan aksi dan aksi yang kami lakukan akan semakin besar dengan melibatkan banyak massa,” tegasnya.
Fabi mengakui pihak keluarga sering katakan proses pencarian, proses pemberitahuan dari keluarga kepada pihak kepolisian tidak dianggap.
Ini terbukti dimana pihak keluarga sendiri yang melakukan pencarian korban dan menemukan sendiri jenasah korban di pinggiran Kali Napun Koja Gelo, Dusun Woloklereng pada hari Senin 23 Februari 2026 lalu.
Dia menegaskan, proses penetapan tersangka yang dilakukan Polres Sikka juga sangat lambat bahkan sejak proses pulbaket dan penyidikan.
“Sampai sekarang penyidik juga belum menemukan barang bukti sehingga keluarga mengatakan polisi lambat dalam menangani perkara ini,” ungkapnya.
Empat barang bukti yang belum ditemukan beber Fabi yakni pakaian korban, telepon genggam milik korban, tiga jari korban yang terpotong hingga rambut korban.
Ia menyebutkan sebuah fenomena yang sangat tidak masuk akal dimana garis polisi hanya dipasang di depan rumah tersangka, tidak menyeluruh hingga ke belakang rumah.
Bahkan saat keluarga dan kuasa hukum keluarga korban melakukan napak tilas di lokasi kejadian, pihaknya mendapati berkas darah namun belum berani menyimpulkan ini darah apa.
“Di tempat kami menemukan bercak darah dan lokasi adanya bekas pembakaran sesuatu, tidak ada garis polisi.Kemampuan berpikir polisi untuk menentukan zona TKP itu seperti apa sebab garis polisi hanya dipasang di depan rumah,” ucapnya.
Fabi menambahkan, di bagian belakang rumah yang merupakan satu kesatuan kejadian tidak dipasang police line (garis polisi) dan sampai sekarang pun empat barang bukti saja belum ditemukan. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










