ENDE, FLORESPOS.net-Persekutuan Adat Wolobalu di wilayah Lio, Kabupaten Ende, NTT, tepatnya di Detukeli dan Maurole menggelar pesta adat pengresmian rumah adat.
Acara itu dilaksanakan pada Sabtu (16/9/2023) sejak pagi hingga malam di Desa Maurole Selatan, Kecamatan Detukeli. Acara diawali ritual adat pengresmian rumah adat dan ditutup dengan gawi bersama.
Rumah adat yang diresmikan itu dibangun masyarakat adat setempat menggantikan rumah adat lama yang dibangun sekitar 40-an tahun silam.
Hadir menyaksikan pengresmian rumah adat persekutuan adat Wolobalu Wakil Bupati Ende, Erikos Emanuel Rede, anggota DPD RI Angelius Wake Kako, Anggota DPRD Ende Vinsen Sangu, Yulius Cesar Nonga, Ambros Reda dan Direktur Perumda Ende, Yustinus Sani serta para imam dan tokoh agama yang berada di wilayah tersebut.
Mosalaki Pu’u Persekutuan Adat Wolobalu, Herman Dala menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, anggota DPD dan DPRD Ende yang telah hadir pada pesta adat ini.
Mosalaki Herman Dala mengatakan, rumah adat ini dibangun dalam waktu dua bulan karena atas dukungan dari semua pihak dan seluruh masyarakat adat di wilayah persekutuan Wolobalu.
Mosalaki Herman Dala, juga berharap masyarakat adat di wilayah ini tetap mendukung kegiatan- kegiatan selanjutnya.
“Rumah adat ini jadi karena dukungan dari semua pihak dan masyarakat persekutuan adat tanah Wolobalu. Mari kita tetap berjalan bersama mempertahankan warisan leluhur,” katanya.
Dihadapan Wakil Bupati Ende, Anggota DPD RI dan Anggota DPRD Ende, Mosalaki Herman Dala menyampaikan persoalan di wilayahnya khususnya di Desa Maurole Selatan, Kecamatan Detukeli.
Di wilayah ini, kata Mosalaki Herman Dala, infrastruktur jalan dan air bersih masih menjadi kendala utama dihadapi oleh masyarakat.
“Kami susah air bahkan pada acara adat hari ini air kami beli dari mobil tangki. Kami minta agar pemerintah memperhatikan masalah yang kami hadapi,” katanya.
Anggota DPRD, Vinsen Sangu mengatakan kehadiran mereka di acara ini diundang oleh mosalaki. Kehadiran DPRD Ende juga sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat adat dalam melestarikan budaya dan adat di wilayah ini.
Terkait dengan persoalan jalan dan air yang dihadapi masyarakat di wilayah ini, kata Vinsen akan menjadi catatan penting untuk dibahas bersama pemerintah.
“Agenda pertama pembangunan rumah adat sudah kita selesaikan dan agenda berikutnya adalah penataan kampung adat. Kita akan bahas bersama pemerintah untuk agenda ini dan persoalan air bersih serta jalan yang disampaikan oleh mosalaki,” katanya.
Anggota DPD RI, Angelius Wake Kako mengatakan pesta adat itu sangat bermakna bagi generasi muda. Karena ritual seperti ini adalah warisan leluhur yang mesti dijaga dan dilestarikan ditengah peradaban zaman.
“Bagi kami generasi muda sangat berterimakasih karena diajarkan ritual ini sekaligus mengingatkan kepada kami kemana pun melangkah harus kembali ke akar. Ini warisan yang luar biasa kepada kami generasi muda,” katanya.
Angelus Wake Kako juga mengatakan persoalan air bersih dan jalan yang disampaikan oleh mosalaki menjadi persoalan bersama untuk mengatasi masalah tersebut.
“Soal air itu kebutuhan vital maka kita harus prioritaskan. Kita semua akan bergerak mengatasi masalah ini dengan cara kita,” katanya.
Wakil Bupati (Wabup) Ende Erikos Emanuel Rede mengatakan, pesta adat ini dihadiri oleh pemerintah dan tokoh agama.
Dikatakannya, kehadirannya di tempat ini sebagai bentuk dukungan dan bagian dari komitmen sinergitas tiga batu tungku (pemerintah, adat dan agama) di Kabupaten Ende.
“Ini komitmen bersama untuk lestarikan tatanan adat dan warisan leluhur. Kita menegaskan kepada orang bahwa kita punya adat dan jati diri sebagai anak adat,” kata Wabup Erik.
Wabup Erik meminta agar Dinas PUPR dan Perumda Ende turun lapangan melihat langsung keluhan dari masyarakat yang disampaikan melalui mosalaki.
Soal air bersih, kata Wabup Erik, tim teknis dari PUPR dan Perumda akan survei lokasi mata air terdekat.
Sementara untuk penanganan jangka pendek, kata Wabup Erik, pemerintah akan memberikan pelayanan dengan menggunakan mobil tangki. *
Penulis: Willy Aran / Editor: Wentho Eliando










