MAUMERE, FLORESPOS.net-Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu meminta elemen umat dan warga berjuang gigih untuk memerangi praktik perdagangan orang.
Uskup Edwaldus juga mengimbau umat agar dengan penuh keyakinan berjalan bersama pejuang kemanusiaan lainnya dalam bidang kehidupan yang beranekaragam saat ini.
“Mari kita berjuang gigih untuk memerangi praktik perdagangan orang,” kata Uskup Edwaldus dalam homilinya saat memimpin perayaan ekaristi memperingati Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia Tingkat Keuskupan Maumere di Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere, Minggu (30/7/2023).
Uskup Edwaldus menyampaikan dua pesan penting dalam kurban misa memperingati Hari Antiperdagangan Manusia Sedunia tahun ini.
Pertama, keutamaan yang dibutuhkan: kebijaksanaan untuk membedakan yang baik dan yang buruk, memilih yang terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri. Kita memohonkan kepada Allah, dalam penyerahan diri dan keterbukaan pada kehendak Allah yang luhur.
“Memperjuangkan gerakan antiperdagangan manusia, perempuan dan anak, adalah tugas panggilan kita di tengah dunia saat ini dan kita tidak boleh terbelit dalam koorporasi kekuasaan dan kekayaan, yang meninabobokan dalam keuntungan dan kenikmatan hidup.”
“Dunia tidak seramah yang kita yakini, dan karenanya kita harus membela orang-orang yang tertindas dan terpinggirkan, dan orang yang dengan mudah jatuh dalam perdagangan manusia,” kata Uskup.
Kedua, cinta Allah tidak boleh kita tutup-tutupi dan kita tenggelamkan dalam diam yang egois, yang memberikan kesan kita tidak peduli pada situasi dunia yang semakin bobrok dengan begitu banyak modus perdagangan manusia.
Kita harus menghormati manusia sebagai cintra Allah yang tidak boleh dengan mudah diperjualbelikan hanya untuk kepentingan dan keuntungan kelompok tertentu yang rakus dan tamak.
“Mari kita berjuang gigih untuk memerangi praktik perdagangan orang, dan dengan penuh keyakinan berjalan bersama pejuang kemanusiaan lain dalam bidang kehidupan yang beranekaragam saat ini,” katanya.
“Semoga Tuhan memberkati kita dalam perjuangan iman untuk bertolak ke tempat yang dalam dan hidup dalam hadirat Tuhan untuk mempersembahkan korban perdagangan manusia yang telah meninggal dunia. Semoga Tuhan melindungi kita semua,” kata Uskup Ewald.
Perjuangkan Keadilan dan Perdamaian
Uskup Edwaldus menggarisbawahi bahwa kita terpanggil ke tengah dunia, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian serta keutuhan ciptaan , dalam suka duka kehidupan saat ini.
Menurut Uskup, ajakan untuk bertolak ke tempat yang dalam (Duc In Altum) membawa setiap umat Katolik di mana pun berada, termasuk umat Keuskupan Maumere untuk peduli pada persoalan kemanusiaan seraya memohon kepada Allah, rahmat kebijaksanaan agar dapat menimbang mana yang baik dan mana yang buruk atau yang jahat.
Menurut Uskup, di tengah maraknya tindakan pidana perdagangan orang, kita terpanggil untuk melawan arus kerakusan manusia yang memenjarakan hak-hak manusia untuk dapat memenuhi tuntutan hidup dalam mencari nafkah.
“Kita terpanggil untuk mencari kerajaan surga, dengan meninggalkan kesenangan duniawi dan memilih hidup dalam hadirat Tuhan seperti harta yang terpendam yang harus kita gali dan kita temukan. Kita terpanggil untuk bisa membedakan kejahatan dan kebaikan, sebagaimana Salomo memohonkannya pada hati Allah, dan seperti nelayan yang membedakan hasil panen ikan yang baik dan yang busuk,”katanya.
Uskup Ewaldus mengajukaan dua pertanyaan penting untuk direnungkan saat itu.
Pertama, apakah kita telah memohonkan kepada Tuhan, rahmat dalam Roh Kudus untuk bisa membedakan kebaikan dan keburukan, dan memperjuangkannya dalam kehidupan kita setiap hari, yang kini dilanda kerasukan dan ketamakan?
Kedua, apakah kita bertolak ke tempat yang dalam, dan dengan penuh cinta, membela mereka yang tertindas, dan terjebak dalam koorporasi perdagangan manusia, yang bahkan terselubung oleh mekanisme hukum manusia saat ini?
Uskup menggarisbawahi bahwa ziarah bangsa Israel, dari masa ke masa, menghadirkan rahmat sekaligus tanggung jawab, ketika kesetiaan dan ketaatan pada Yahwe adalah sikap iman yang tidak bisa diabaikan.
“Kesetiaan Abraham dipertaruhkan di hadapan keluarganya sendiri, ketika ia harus mempersembahkan Iskak Putranya. Yakub pun tetap setia pada janji Yahwe, meskipun ia ditipu oleh anak-anaknya dan ia terus menerus merindukan putra bungsunya, Yusuf.
“Yusuf pun mengalami sebuah pergulatan hidup yang tidak mudah, terasa pahit, ketika ia diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudaranya, dan bahkan dijual kepada orang asing. Yusuf bertatih-tatih mulai hidup sebagai orang asing, dengan budaya baru dan perjuangan hidup yang keras, dan kejam di Tanah Mesir,” kata Uskup.
Menurut Uskup, proses pergulatan hidup, itu terasa pahit namun Yusuf diberkati Tuhan, meskipun ia diperdagangkan seperti budak oleh keluarganya sendiri, tanpa sepengetahuan Yakob ayahnya.
“Berkat Tuhan menyelamatkan Yusuf dan bahkan ia menjadi sosok sentral yang berkontribusi bagi pembangunan kerajaan Mesir.Kasih Tuhan tidak pernah pudar dalam setiap tantangan Bangsa Israel, dan sebagaimana Yusuf dilindungi dari praktik tidak adil, demikian pun raja Salomo, memohonkan kepada Tuhan, diberikan rahmat kebijakan dan roh penguasaan diri,” katanya.
Merujuk pada bacaan Minggu itu, Uskup Edwaldus menggarisbabawahi ada dua hal yang Paulus ingin agar kita perjuangkan dalam hidup ini.
Pertama, kita menjadi duta cinta kasih Ilahi di tengah kebencian dunia yang begitu mengenaskan. Kekuatan cinta kasih Kristus telah menobatkan Paulus yang hidup dalam kebencian pada pengikut Kristus.
Cinta kasih membalikan hati yang lalim menjadi hati yang rahim dan berbekas kasih.
Kedua, pertobatan harus bisa menggerakkan hati untuk menjadi pribadi yang baru dan dibaharui, dan perjuangan untuk menjadi benar dan baik, harus sudah dimulai oleh seorang pewarta kerahiman cinta Allah.
Menurut Uskup, bacaan Injil Matius minggu ini mempertegas sikap seorang murid Yesus dalam mengambil sikap yang benar dan baik. Ada hal yang mesti dilepas, meski terlihat nyaman dan mapan, untuk mencapai sesuatu yang lebih menyelamatkan, yakni kasih Allah sendiri seperti harta terpendam di ladang, pukat dan pedagang mutiara.
“Seperti Salomo yang melepaskan hal-hal duniawi dalam kekuasannya, dan memilih untuk memohon rahmat kebijaksanaan, demikian pun kita harus melepaskan kesenangan duniawi untuk sampai pada sukacita dalam kasih Allah.”
“Paulus meninggalkan godaan duniawi, kehebatannya sebagai kaum terpelajar Yahudi yang anti-Kristus, dan pengikut-pengikutnya dan berbalik pada pertobatan untuk mewartakan khabar sukacita kepada duniawi yang luas.Kerajaan Surga itu seperti harta yang terpendam di ladang, juga seperti seorang pedagang yang mencari mutiara dan di sanalah kita menemukan betapa iman harus dibuktikan dalam hidup nyata,” kata Uskup Ewaldus.
Terima Kasih
Ketua Perkumpulan Perempuan TRUK yang juga Ketua Komisi KPKC Keuskupan Maumere Sr. Fransiska Imakulata, SSpS atau yang akrab disapa Suster Ika dalam sambutannya pada kesempatan ini menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Uskup Maumere, Jajaran SSpS Flores Bagian Timur, para pastor paroki, OMK, dan elemen umat dan organisasi rohani yang terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan untuk memaknai Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia.
“Dari hati yang tulus kami menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Bapak Uskup dan kita semua yang terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan untuk memaknai Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia tahun ini,” kata Sr. Ika.
Pantauan media ini jalannya perayaan ekartisti memperingati Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia di Paroki Katedral St. Yoseph Maumere berjalan sangat meriah.
Misa dipimpin Uskup Edwaldus didampingi tiga imam yakni RP. Marsel Vande Raring, SVD; RP. Ve Nahak, SVD, dan RP. Remi Hambur, CJD.Kemeriahan ditandai dengan kemasan liturgis yang disiapkan secara baik, dan tampilan koor dari OMK Paroki Katedral Santo Yoseph Maumere yang luar biasa.
Hadir dalam perayaan ini di antaranya, Uskup Edwaldus didampingi Ketua KPKC Keuskupan Maumere Sr. Fransiska Imakulata, SSpS; Ketua Stasi Pusat Santo Yoseph Maumere, Paul Papo Belang, Anggota Dewan Provinsi SSpS FBT Sr. Marsekal, pimpinan tarekat/biara, dan elemen umatnya. *
Penulis: Wall Abulat/Editor: Wentho Eliando










