Ketika Provinsial SSpS FBT dan Ketua TRUK Merenda Perjuangan Kemanusiaan Suster Eustochia, SSpS di Bawah Pohon Kersen - FloresPos Net

Ketika Provinsial SSpS FBT dan Ketua TRUK Merenda Perjuangan Kemanusiaan Suster Eustochia, SSpS di Bawah Pohon Kersen

- Jurnalis

Senin, 10 Juli 2023 - 14:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Senin 10 Juli 2023. Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 Wita. Udara pagi di lingkungan Kantor Perkumpulan Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK), Advokasi dan Litigasi yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 30 , RT 011/RW 03, Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka tampak berembus pelan sehingga memanjakan siapa saja yang bertandang ke sana.

Suasana pagi itu di sekitar kantor TRUK, termasuk di depan Shelter Santa Monika –tempat penampungan warga dampingan TRUK diwarnai suasana persaudaraan.

Hadir di halaman depan Shelter Santa Monika TRUK saat itu, di antaranya Provinsial Kongregasi Susteran Misi Abdi Roh Kudus atau Servae Spiritus Sanctus (SSpS) Flores Bagian Timur (FBT) Suster Ines Surat Lanan, SSpS; Ketua Perkumpulan Perempuan TRUK, Advokasi dan Litigasi Sr. Fransiska Imakulata, SSpS, S.H.; Staf Bagian Hukum Falentinus Pogon, S,H.,M.H. yang juga Ketua Tim Pengacara di LBH TRUK, Pengawas TRUK Suster Thomasin, SSpS, dan beberapa kru TRUK.

Kehadiran mereka menebarkan suasana persaudaraan di sana. Tampak Suster Ines Surat Lanan, SSpS dan Suster Fransika Imakulata, SSpS berbaur bersama 22 warga dampingan TRUK yang datang dari pelbagai pelosok Flores, plus seorang berasal dari Papua. Warga dampingan ini menghuni Rumah Aman Shelter Santa Monika karena sedang dalam masa pendampingan karena menjadi korban kekerasan seksual.

Suster Ines dan Suster Ika menyalami warga dampingan dengan penuh keramahan. Kedua Biarawati ini juga terlihat berbicara dari hati ke hati dengan

warga binaan. Tak hanya sampai di situ, Suster Ines kemudian menggendong salah seorang bayi bernama Arnoldus yang berusia 8 bulan dalam suasana penuh keibuan. Sementara Suster Ika juga mengendong bayi berusia 2 Minggu yang bernama Yohanes Ignasius. Kedua bayi ini lahir di Shelter Santa Monika-saat kedua Ibu mereka yang menjadi warga binaan TRUK.

Usai menggedong kedua bayi itu, Suster Ines dan Suster Ika memasuki salah satu ruang Shelter Santa Monika. Kedua biarawati ini menyalami salah seorang warga binaan, dan menyapa penuh akrab salah seorang balita anak salah seorang ibu penghuni Shelter Santa Monika.

Setelah menyambangi ruang Shelter Santa Monika dan berbicara dari hati ke hati dengan warga binaan, Suster Ines dan Suster Ika juga mengunjungi beberapa  ruangan di Kantor TRUK, termasuk Aula di Gedung Lantai II yang menjadi pusat  kegiatan Advokasi dan Litigasi TRUK saat ini.

Gedung berlantai II itu sendiri dibangun saat TRUK dipimpin Suster Eustochia Monika Nata, SSpS atau yang akrab disapa Suster Eustochia, SSpS yang ditandai  dengan peletakan batu pertama oleh Mantan Provinsial SVD Ende, Pater Leo Kleden, SVD pada 15 Desember tahun 2020 atau 10 bulan 23 hari menjelang meninggalnya Suster Eustochia pada 8 November 2021.Aula berlantai II tempat di mana ruang pertemuan, advokasi dan litigasi diberi nama Aula Eustochia.

Baca Juga :  Kunjungi SDN Wolomoni Ende, Wapres RI Bawa Pulang Sejumlah PR

Nama Aula ini untuk mengenang jasa Biarawati asal Nggela Kabupaten Ende itu yang telah mencurahkan segala waktu, pikiran, dan tenaganya  untuk menyuarakan aspirasi kaum tak bersuara (voice of the voiceless) yang menjadi korban kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kasus perdagangan orang, dan pelbagai kasus lainnya selama masa hidupnya.

Tampak di ruangan ini, terlihat foto Suster Eustochia berukuran besar. Tampilan sosok gadis berkerudung putih di foto ini menyiratkan optimisme, semangat

membara dan pesan mendalam untuk terus menggelorakan perjuangan kemanusiaan, khususya yang dialami kaum perempuan dan anak di Sikka dan Flores, khusus, dan Indonesia umumnya yang telah selalu melekat dalam sosok Suster Eustochia.

Ruangan di mana dipajangkan Foto Mendiang Suster Eustochia ini juga didatangi Suster Ines, Suster Ika, dan Suster Thomasin.

Selain berbicara terkait warga binaan TRUK saat ini, ketiga biarawati itu dalam sesi bincang santai juga membangun komitmen bersama untuk terus menelusuri jejak-jejak pengabdian dan jiwa perjuangan Suster Eustochia, baik dari jejak dokumen yang tertata rapi, maupun dari peninggalan gedung, dan aneka fasilitas pendukung yang memudahkan akses pelayanan bagi warga binaan.

Ketiga suster ini juga membangun komitmen bersama untuk meneruskan perjuangan kemanusiaan Suster Eustochia dalam ziarah perjalanan TRUK dan Kru lembaga ini selanjunya.

Semangat untuk meneruskan jiwa perjuangan Suster Eustochia tak hanya dibingkai  dalam pertemuan di Lantai Dua itu, tetapi juga dilanjutkan oleh Suster Ines dan Suster Ika di bawah Pohon Kersen atau Muntingia calabura (Bahasa ilmiah/latin) yang terletak di halaman tengah Kantor TRUK.

Pohon kersen yang ditanam menjelang kematian Suster Eustochia, SSpS pada 8 November 2021 itu, kini bertumbuh subur. Rindangan daun kersen ini sangat lebat.

Pada rantingnya terlihat buah yang ranum, dan enak kalau dimakan. Di bawah rindangan pohon ini diletakkan belasan batu yang didesain khusus agar bisa dijadikan tempat duduk santai bagi siapa saja yang bertandang ke sana,termasuk kru TRUK.

Di bawah rindangan pohon Kersen ini terlihat Suster Ines dan Suster Ika melanjutkan penelusuran jiwa perjuangan Suster Eustochia, SSpS sejak TRUK dibentuk tahun 1997 hingga Suster Eustochia, SSpS wafat pada 8 November 2021.

Baca Juga :  BMKG Petakan Wilayah yang Berpotensi Banjir pada 5-10 Februari 2025, NTT Termasuk?

Wartawan Florespos.net Wall Abulat yang turut duduk santai dan bergabung dengan diskusi lepas untuk menelusuri jiwa Suster Eustochia di bawah pohon kersen saat itu mencatat beberapa topik pembicaraan lepas yang dibahas Suster Ines dan Sr. Ika saat itu di antaranya terkait komitmen bersama untuk terus menggelorakan semangat perjuangan kemanusiaan yang telah diletakkan Suster Eustochia dan yang sudah dilanjutkan Kru TRUK di bawah kepemimpinan Sr. Fransiska Imakulata, SSpS saat ini, terutama perjuangan untuk mewujudkan keadilan kaum perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual, korban perdagangan orang, dan aneka korban kemanusiaan lainnya.

“Kami siap meneruskan semangat Suster Eustochia yang selalu menggelorakan agar perjuangan kemanusiaan tidak boleh mati,” kata Ketua Perkumpulan Perempuan TRUK, Suster Fransiska Imakulata, SSpS.

Komitmen yang sama disampaikan Provinsial SSpS FBT, Suster Ines Surat Lanan, SSpS. “Provinsi SSpS FBT terus memperkuat lembaga TRUK, memperkuat SDM lembaga ini sehingga visi dan misinya, serta komitmen pendiri dan Mantan Ketua Lembaga ini Suster Eustochia, SSpS agar perjuangan kemanusian tidak boleh mati, tetapi terus hidup dan digemakan kapan dan di mana pun, apa pun situasinya,” kata Suster Ines.

Itulah secara sekilas kisah perjuangan kemanusiaan yang selalu melekat dalam diri  Suster Eustochia selama masa hidupnya, bahkan perjuangan itu ditunjukkannya hingga saat menjelang hari-hari terakhir hidupnya, tatkala ia masih memimpin aksi demo menuntut penuntasan proses hukum 17 perempuan pekerja pub di Kantor Mapolres Sikka pada tanggal 3 November 2021 atau lima hari menjelang kematiannya pada 8 November 2021. Kisah perjuangan kemanusiaan ini direnda kembali oleh Provinsial SSpS FBT, Suster Ines Surat Lanan, SSpS dan Ketua Perkumpulan Perempuan TRUK, Advokasi dan Litigasi, Sr. Fransiska Imakulata di bawah Pohon Kersen di Halaman Kantor TRUK pada Senin 10 Juli 2023.

“Karya Kemanusiaan yang telah diperjuangkan dan dihidupi oleh Suster Eustochia, SSpS tidak boleh mati,” demikian komitmen bersama Suster Ines dan Suster Ika dengan penuh optimistis di bawah rindangan pohon kersen.

Kiranya pesan kemanusiaan Suster Eustochia, SSpS dan yang telah digemakan kembali oleh Suster Ines dan Sr. Ika ini kiranya memotivasi para pegiat kemanusiaan, khususnya Kru TRUK untuk terus menghidupkan, dan menyalakan jiwa perjuangan kemanusiaan ini dalam keseharian hidup, diaktualisasikan kapan dan di mana pun Untuk Keagungan Allah yang lebih besar (Ad Majorem Dei Gloriam). Tuhan memberkati.*

Penulis Wall Abulat/Editor:Anton Harus

Berita Terkait

DPRD NTT Setujui, Jembatan Pomakeke Nagekeo Akan Dibangun dengan Dana Rp9 Miliar Lebih
Ratusan Siswa dan Orang Tua Murid Mendaftar Ulang di Smansa Maumere
Tim URC Burhan Polres Ende Amankan Seorang Pemuda Saat Pesta Sambut Baru
Djafar Achmad Silaturahmi ke Uskup Budi Kleden, Kami Cerita Tentang Ende di Masa Lalu
Tips Cerdas Sewa Bus Wisata Sekolah: Liburan Seru, Rombongan Aman dan Tenang
Pemkab Sikka Tegaskan Tidak Pernah Melarang Penjualan BBM Eceran Untuk Kebutuhan Ekonomi Rumah Tangga
Puluhan Putra Terbaik Flobamora Jadi Pengurus DPD IKAL Lemhannas Provinsi NTT Periode 2026-2031
Kantor Pertanahan Nagekeo Genjot PTSL 2026 dan Pendaftaran Tanah Ulayat di Dua Desa
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 21:04 WITA

DPRD NTT Setujui, Jembatan Pomakeke Nagekeo Akan Dibangun dengan Dana Rp9 Miliar Lebih

Senin, 22 Juni 2026 - 19:35 WITA

Ratusan Siswa dan Orang Tua Murid Mendaftar Ulang di Smansa Maumere

Senin, 22 Juni 2026 - 19:17 WITA

Tim URC Burhan Polres Ende Amankan Seorang Pemuda Saat Pesta Sambut Baru

Senin, 22 Juni 2026 - 14:40 WITA

Djafar Achmad Silaturahmi ke Uskup Budi Kleden, Kami Cerita Tentang Ende di Masa Lalu

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:18 WITA

Pemkab Sikka Tegaskan Tidak Pernah Melarang Penjualan BBM Eceran Untuk Kebutuhan Ekonomi Rumah Tangga

Berita Terbaru