GEREJA “pulau batu” Pulau Solor telah menorehkan sejarah pembaruan peradaban inkulturatif, merombak tradisi budaya tempo itu kuat menganut kepercayaan mitos magis dalam lingkaran kearifan lokal Koke Bale (rumah adat) sebagai kekuatan Lewo dan Duli Balawelin kala itu.
Melintas pada sejarah itu tak dipungkiri pernah dihadapi komunitas suku Balawelin, Solor, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT.
Suku yang bernama Balawelin memiliki adat kuat, digadang-gadang sangat sakral. Bisa saja mendatangkan tumbal dan malapetaka bagi ata (orang) yang berkhianat.
Tapi terlepas dari itu, masih ada kekuatan transenden dari yang lebih berkuasa, yaitu Tuhan atau Lera Wulan dan juga belas kasih Maria Reinha Balawelin diyakini mematahkan sakralnya adat Balawelin.
Balawelin di kandung badan menganut falsafah Lewo: “Lewo Bala Lama Harun, Tanah Harun Lama Dike”. Lewo ini mengandung kebaikan adab, adat, dan budaya yang tak lekang oleh panas dan lapuk karena hujan.
Suku Balawelin, dalam titisan sejarah sebagai penyintas kebudayaan lokal. Menanamkan iman Kristiani yang mengakar kuat.
Balawelin perdana mendirikan Kapela Maria Reinha Balawelin sekitar 63 tahun silam (Agustus 1960). Lahirnya Kapela Maria sebagai fakta iman beralihnya kepercayaan lokal Koke Bale sebagai kekuatan Lewo waktu itu. Berikut segala ritus adat dan menimba kekuatan lainnya dilangsungkan di tempat sakral bernama Koke Bale itu.
Hadirnya arca Maria Reinha Balawelin, menggeser dan mematahkan kekuatan mitos magis selama itu berada dan berlangsung di Koke Bale. Mulai saat itu, seremonial religi berlangsung di ruang Kapela Maria Reinha Balawelin.
Lantas Balawelin beralih menyintasi sejarah inkulturasi terang Ilahi, tentang belas kasih Bunda Maria Reinha Balawelin yang diserahkan Raja Larantuka dalam wujud arca sakti dan keramat.
Upacara serah terima arca Maria selanjutnya ditakhtakan di kapela perdana dibangun masyarakat adat Lewo Bala pada tahun 1960.
Cahaya Ilahi telah menerangi “kegelapan iman” orang-orang Balawelin yang jauh sebelumnya menganut dan mengandalkan kesaktian Koke Bale.
Sejak Raja Larantuka II/Raja Bintang, Antonio Bulan Terang De Rosari menghadiakan arca Maria dengan maksud sinar Ilahi menaungi orang Balawelin.
Arca penyerahan raja diberi nama Maria Reinha Balawelin kemudian ditakhtakan di kapela yang dibangun tahun 1960 dan diresmikan sekaligus pentakhtaan oleh Uskup Larantuka, Mgr. Gabriel Manek, SVD pada Senin (22/8/1960).
Arca Maria Reinha Balawelin, oleh Raja Larantuka diberi nama identik arca Maria Reinha Rosari Larantuka. Dengan begitu di wilayah Keuskupan Larantuka hanya ada dua Reinha, yaitu Maria Reinha Larantuka dan Maria Reinha Balawelin.
Kehadiran arca Maria di kepala Balawelin diterima para pemangku adat dan tokoh-tokoh agama se-Lewo Bala setelah melalui suatu perjuangan dan pendekatan rumit dengan pemangku kepentingan Duli.
Dalam spirit persatuan ribu ratu (masyarakat adat Balawelin), mereka seia sekata menetapkan waktu (nuan eran) setiap 5 tahun diselenggarakan pesta inkulturasi syukur panen se-Lewo Bala yang disatukan dengan keberadaan arca Maria Reinha Balawelin dan berdirinya Kapela Balawelin di kampung lama bukit batu Lamalewo.
Dalam tutur sejarah Lewo Bala, tradisi Wu’un Nuran bukannya baru terjadi bersamaan datangnya arca Bunda Maria, namun ritual adat syukur panen memang berlangsung jauh sebelumnya.
Wu’un Nuran telah menyintas perjalanan Nuan Eran ratusan tahun silam. Syukur panen ata Balawelin identik syukur panen orang Israel.
Sejarah perjalanan Israel, juga hampir mirip dengan eksodus ata Balawelin yang selalu berpindah-pindah tempat kediaman lantaran kala itu mereka selalu saja menghadapi malapetaka bencana yang mencederai kehidupan mereka.
Syukur panen yang dirayakan 5 tahunan sebagai implementasi iman dan persatuan ata nomaden Balawelin ratusan tahun lalu.
Syukur kolosal dipersembahkan kepada Yang Ilahi, Yang Transenden, Yang Utama dan Yang Kudus yakni “Bapa Kelake Lera Wulan Teti Wan Puluh Pito, Ema Kewae Tata Ekan Lali Wade Puluh Lema” (Tuhan Allah dan Bunda Maria).
Wujud syukur dan kasih masyarakat adat Balawelin kepada Allah Bapa di surga dan Maria Reinha Balawelin digelar melalui tradisi Wu’un Nuran dijalani seturut detak waktu yang disebut Nuan Eran.
Syukur yang tepat pasca petik hasil kebun, sudah tentu menuju kesempurnaan abad, menyatukan iman dan persaudaraan, menyongsong tibanya Tuhan dalam setiap momen nafas kehidupan orang Serani Balawelin yang sebelumnya tercerai berai dan berpindah-pindah tempat hunian karena selalu ditimpah kemalangan hidup.
Gereja Balawelin telah melintasi jalan yang dirintis oleh Perawan Maria melalui ziarah persembahan iman-Nya bersama putera-Nya di salib keselamatan.
Balawelin yang tempo itu sugesti akan kekuatan manusiwi melalui kepercayaan Koke Bale kini menyatu dengan kekuatan besar Yang Utama (Ilahi).
Syukur atas hasil panen komunitas Balawelin dinamakan Wu’un Nuran. Puncak pesta adat Wu’un Nuran diagendakan sedari nenek moyang. Tradisi ini digelar dalam nuansa agung dan akbar setiap 5 tahunan.
Syukur ini diawali perayaaan misa di Kapela Maria Reinha Balawelin yang berlokasi di puncak bukit berbatu kampung lama Lamalewo.
Seusai perayaan ekaristi kudus yang meriah, seluruh ribu ratu (masyarakat) dan tetamu undangan dipersilakan kembali ke kampung baru Lamalewo mengikuti rangkaian prosesi adat termasuk makan lamak (jamuan makan bersama) dan ritual “Eden Dein Peran Sadik, yakni pelaksanaan belo buno (pemotongan hewan kurban yang dipersembahkan setiap Duli/kampung filial (6 Duli) dan 1 Lewo/kampung induk Lamalewo.
Gelar ritual adat lanjutan pada esok harinya yaitu bau baku (cacah jiwa) yang dilaksanakan setiap Suku masing-masing Duli dan Lewo.
Upacara Bau Baku ini terpusat di halaman (Namang) rumah adat Lewo Bala di Lamalewo. Rumah adat ini dihuni penguasa Lewo (Bapa Lewo) Suku Niron Maran.
Kapela Reinha Balawelin 63 tahun
Di atas puncak bukit berbatu lokasi berdirinya Kapela Maria Reinha Balawelin, Rabu (5/7/2023) pagi pukul 07.00 WITA, dan momen-momen penting dalam liturgi misa syukur Wu’un Nuran terdengar gegap gempita bahana gendang dan gong adat.
Selain tabuhan gendang dan gong, jalannya upacara misa inkulturasi juga berlangsung khidmat dan semarak.
Momentum Wu’un Nuran tahun 2023 pasca bangsa kita dilanda pandemi Covid-19, lantas menyatukan sedikitnya 5.000 orang Balawelin yang berdomisili di kampung maupun perantau yang mudik mengikuti pesta adat ini.
Semarak pesta adat ini dihadiri termasuk para undangan dari unsur Pemerintah Kabupaten, Penjabat Bupati Flotim, Doris Alexander Rihi dan sejumlah Kepala OPD, Raja Larantuka, Don Martinus DVG bersama keluarga, Pemerintah Kecamatan di Pulau Solor, biarawan/biarawati, kerabat dan sahabat suku bangsa Balawelin.
Misa agung Wu’un Nuran yang semarak dan meriah mengusung tema: “Puin Epun Onet Ta’an Tou, Boit Matik Ta’an Ehan, Geleka Lewo Gewayan Tana.”
Misa agung dipimpin imam selebran utama Pater Ardy Hayon, SVD, kelahiran Balawelin yang saat ini berkarya sebagai misionaris di tanah misi Negeri Zakura, Jepang. Pater Ardy didampingi 7 imam konselebrantes.
Dalam homilinya Pater Ardy menyatakan Balawelin memiliki dua kekuatan utama, sabda atau koda dan roh. Sabda atau Koda, sesuatu yang bisa mendatangkan rahmat dan kekuatan. Koda diwariskan para leluhur Balawelin.
Peter Ardy menandaskan bahwa Wu’un Nuran atau syukur atas hasil panen merupakan Petenkosta-nya bangsa Balawelin.
“Hari ini kita persembahkan hasil panen kepada Tuhan. Hari ini bertempat di atas bukit ini ribu ratu Lewo dan Duli bersatu di hadapan Bunda Maria Reinha Balawelin menimba kekuatan menjadi bangsa Balawelin yang tetap bersatu, ” katanya.
Di tempat Kapela Maria Reinha Balawelin lanjut Pater Ardy, para leluhur kita mengikrarkan sumpah persatuan. Untuk itu pesan misionaris yang berkarya di Jepang itu agar generasi muda Balawelin jangan sekali-kali melupakan sejarah warisan leluhur.
Generasi muda mesti taat terhadap aturan adat Balawelin yang senantiasa membawa kekuatan dan mempersatukan.
Pewaris rumah adat Niron Maran, Sirilius S. Niron, selaku tuan rumah dalam sambutan menyampaikan terima kasih kepada Raja Larantuka, Penjabat Bupati Flotim, Pemerintah Kecamatan, pastor Paroki Pamakayo, Pastor Paroki Ritaebang, biarawan/biarawati dan undangan lain, serta ribu ratu Balawelin yang hadir mengikuti rangkaian acara adat Wu’un Nuran.
Sirilius menyatakan, etnis Balawelin merupakan etnis paling besar di Pulau Solor. Etnis ini terdiri dari 1 kampung induk dan 6 kampung filial.
Mereka tersebar di 2 desa (Desa Balawelin I dan Desa Balawelin II), dan 1 Kelurahan (Kelurahan Ritaebang).
“Hari ini dilaksanakan inkulturasi di Balawelin. Wu’un Nuran merupakan perwujudan syukur atas hasil panen yang disatukan perayaan misa setiap tahun. Wu’un Nuran diagendakan dirayakan akbar setiap 5 tahun. Paket Wu’un diawali Pori Krian, Misa, Inkulturasi, Bau Baku, dan ditutup dengan seremonial adat Lepe Lian Lulun Nama,” sebut Sirilius, dosen pada Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang itu.
Raja Larantuka, Don Martinus DVG dalam sambutan mengingatkan masyarakat Balawelin tetap bersatu membangun kekuatan iman.
Orang Balawelin tidak boleh kendur dalam iman dan selalu bersemangat membangun Lewo. Iman umat Balawelin tetap percaya kepada Bunda Maria Reinha Balawelin.
“Saya bangga masyarakat Balawelin memiliki persaudaraan dan persatuan yang tidak bisa diceraiberaikan. Iman orang Balawelin juga tetap kuat. Mari kita membangun Lewo dalam semangat iman dan persatuan,” apresiasi dan harapan Don Tinus yang setiap hajatan akbar Wu’un Nuran selalu hadir memenuhi undangan Sematan Lewo dan Duli Balawelin.
Penjabat Bupati Flotim, Doris Alexander Rihi dalam sambutan singkatnya menyampaikan kebanggaan dan rasa bahagia karena acara adat Wu’un Nuran benar-benar mengumpulkan suku Balawelin di seluruh pelosok tanah air bahkan luar negeri.
“Persatuan Balawelin menjadi modal kekuatan membangun Lewo khususnya dan Flotim umumnya. Saya bahagia kebersamaan hari ini sangat dibutuhkan untuk membangun Solor. Untuk diketahui Pemerintah Provinsi NTT telah membangun jalan aspal hotmix di Solor sepanjang 19 km. Presiden akan membangun jalan dari Ritaebang-Tanah Lein-Lewotanah Ole. Saya sebagai penjabat bupati juga sedang perjuangkan pembangunan rumah sakit umum (RSU) di Solor. Solor maju, Bupati di Larantuka tidur pasti ngorok,” pungkasnya.
Kemeriahan Wu’un yang berlangsung di namang rumah adat Suku Niron Maran di Lamalewo disuguhi atraksi seni dari kelompok kesenian adat Sason Nuren yakni narasi Teden Bala dan tarian Nogo Oe.
Kemeriahan syukur panen ala Balawelin diakhiri atraksi “Eden Dein, Peran Sadik” atau upacara “Belo Buno” hewan kurban yang menjadi tanggungan 6 Duli/Kampung dan 1 Lewo masing-masing seekor babi besar dan juga kambing. Penumpahan darah hewan kurban ini diyakini sebagai simbolisme sejuk dingin terhadap Lewo dan ribu ratu. *
Penulis: Frans Kolong Muda / Editor: Anton Harus










