MBAY, FLORESPOS.net-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, NTT, melalui Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) Kabupaten Nagekeo, menggelar bimbingan teknis (Bimtek) pembuatan alat permainan edukatif (APE) bagi guru TK/PAUD dan Kober.
Kegiatan Bimtek yang digelar di aula VIP Lantai 2 Kantor Bupati pada Selasa (6/6/2023) tersebut dibuka oleh Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do.
Bupati Don Bosco dalam sambutannya mengharapkan kegiatan Bimtek tersebut dapat menghasilkan dan merangsang guru menggunakan bahan pembelajaran yang bukan saja dari bahan daur ulang plastik, tetapi juga dari bahan organik.
“Salah satu yang saya bayangkan adalah pusumuku dengan bagian kuning dalamnya (Jantung Pisang). Ini juga bahan belajar yang menarik buat anak TK/PAUD dan Kober karena tidak menimbulkan alergi, bersih dan organik. Jika tidak digunakan lagi bisa dibuang jadi sampah organik (pupuk),” katanya.
Menurut Bupati Don, APE bisa digunakan dari bahan yang ada di sekitar kita baik bahan daur ulang maupun bahan organik lainnya. Dengan demikian, para guru juga dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan APE yang ramah lingkungan.
“Bahan-bahan yang sudah ada terlalu banyak di sekitar kita tapi jika tidak ada kreatifitas maka tidak akan jadi apa-apa,” katanya.
Bupati Don juga menyarankan kepada para guru agar anak sejatinya diajari cara menghasilkan uang sendiri sejak usia belia. Sebab pengetahuan menghasilkan pendapatan sendiri itu penting bagi tumbuh kembang anak.
“Ajar anak-anak kita dari PAUD, TK, SD itu cari uang sendiri ya, cari uang jajan sendiri. Kita bisa lihat orang Cina, anaknya sudah sejak kecil diajari membuat adonan kue, bola-bola roti. Mereka sudah diajarkan keterampilan tangan. Anak sudah dilatih dari kecil untuk kerja,” ungkapnya.
Salah satu contoh sederhana yang bisa dikerjakan anak dalam menghasilkan uang sendiri, menurut Bupati Don, adalah mengumpulkan barang rongsokan ataupun kemasan botol plastik kemudian dijual.
“Anak-anak kita dari TK/PAUD, saya kasih contoh anak bawa botol plastik apa saja dari rumah, kumpulkan, panggil tukang timbang di timbang dan bisa dapatkan uang. Mereka akhirnya tahu bahwa ini bisa jadi uang,” katanya.
Selain itu, kepada para guru, Bupati Don juga berpesan agar dalam membimbing dan mendidik anak tidak pilih kasih. Guru harus bisa memahami setiap individu siswa secara detail tanpa memilah satu dengan yang lainnya.
Sebab, umumnya, kecenderungan guru-guru lebih dekat dengan anak-anak yang bersih, segar, pintar. Jika praktek seperti ini terjadi, maka guru sebagai penyumbang disparitas (perbedaan) dan sudah mulai diskriminasi di kelas dengan adanya beda perlakuan.
“Nanti kemudian tu ada perlakuan antara orang yang miskin sama orang yang mampu, orang yang bodoh sama orang yang pintar,” kata Bupati Don.
Bupati Don juga berharap para pendidik lebih serius dalam mengurusi peserta didik dengan fokus perhatian kepada anak berkebutuhan khusus.
Kepada mereka, kata Bupati Don, perlu dilakukan bimbingan dan pendampingan yang lebih dan perlu juga lakukan kunjungan rumah. Untuk itu, setiap guru harus mengenali secara baik setiap siswanya, mengetahui dengan pasti kemampuannya sehingga ketika ada persoalan yang di hadapi bisa segera temukan solusi apa yang akan dilakukan.
“Saya ajak kita berpikir serius karena ini perilaku guru dalam kelas. Saya minta ibu-ibu guru harus memberikan perhatian lebih kepada anak-anak berkebutuhan khusus,” saran Bupati Don.
“Saya tidak bilang mereka miskin, bodoh, kotor, tidak. Saya hanya sebut mereka berkebutuhan khusus lalu kalau tidak bisa, apa persoalan anak ini sampai modelnya begini, kunjung di rumahnya,” katanya.
Bupati Don lebih lanjut mengajak elemen untuk lebih peka dan peduli kepada anak yang berkebutuhan khusus mulai dari level RT, Dasawisma, jika itu tidak dilakukan maka mereka tidak menjadi bonus demografi karena tidak kompetitif.
“Kalau ibu guru semua ini punya hubungan pribadi, punya hubungan personal dengan setiap anak minimal bisa komunikasi personal yang bagus, interaktif sehingga bisa merangsang mimpi mereka,” katanya.
“Mungkin kata-kata menurut kita sederhana tapi buat mereka itu sangat termotivasi jadi bagaimana mendorong mereka untuk maju meraih mimpinya,” tambah Bupati Don.
Bupati Don kembali menekankan, selain pembelajaran praktis, juga bagaimana memanfaatkan bahan di sekitar dijadikan bahan pembelajaran, alat bantu belajar memahami konsep bentuk, jumlah, numerik dan mungkin juga huruf.
“Kita sekalian punya imajinasi yang lain, ada barang-barang lain lagi yang bisa digunakan, selain pusumuku sebagai bahan belajar dan itu akan sangat membantu,” katanya.
Sedikitnya 42 guru TK/PAUD dan Kober yang berasal dari 7 kecamatan di Kabupaten Nagekeo, NTT, mengikuti Bimtek pembuatan APE tersebut.
Prudentiana Tueng dalam laporannya, Selasa (6/6/2023) mengatakan, tujuan dari kegiatan itu, adalah untuk meningkatkan SDM berbasis kompetensi, menguatkan pemahaman guru TK/PAUD dan Kober dalam pembuatan APE bahan daur ulang untuk diimplementasikan dalam pembelajaran, serta perbaikan pembelajaran.
APE bagi Guru TK/PAUD dan Kober, kata Prudentiana Tueng memegang peranan penting sebagai media simulasi, pembelajaran dan permainan. Bagi guru merupakan sarana untuk membantu dalam penyampaian pembelajaran.
Menurut Prudentiana, penggunaan APE sangat terbatas pada satuan pendidikan tersebut. Karena di satu sisi, soal keterbatasan Guru TK/PAUD dan Kober memanfaatkan APE yang sudah ada secara maksimal.
Di sisi lain, kata Prudentiana, keterbatasan pengadaan juga disebabkan oleh keengganan guru untuk membuatnya sendiri APE.
“Untuk itu diperlukan kreativitas dari Guru untuk dapat membuat APE sendiri karena banyak bahan bekas yang dapat dijadikan sebagai alternatif pembuatan APE dari bahan daur ulang,” katanya.
Sementara narasumber pada kegiatan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, Venantius Minggu, S.Pd, Dosen Universitas Terbuka PG-PAUD, Gabriel Winda Astuti, M.Pd dan Ketua IGTKI Kabupaten Nagekeo, Clementina Y. Sina,S.Pd.*
Penulis: Arkadius Togo / Editor: Wentho Eliando










