Oleh: Pater Steph Tupeng Witin, SVD
Saudara, Saudari, Sahabat dan Kenalan terkasih,
Hari ini Tuhan mengkritik cara pandang dan pola hidup para murid Yohanes Pembaptis yang bertanya soal puasa. Pertanyaan ini muncul setelah Yesus dan murid-murid-Nya makan perjamuan besar di rumah Matius, pemungut cukai. Rupanya mereka gusar dan iri. Memang di kalangan Yahudi, ada banyak aturan puasa dan hari raya keagamaan. Orang Farisi dan murid-murid Yohanes mengikuti aturan itu dengan ketat.
Orang Farisi dan para murid Yohanes terjebak aturan sebagai kewajiban agama. Mereka abaikan makna puasa dalam relasi dengan Allah. Kewajiban agama tidak berdaya menyelamatkan tapi relasi dengan Tuhanlah jaminan kepastian itu.
Tuhan hadir untuk mengubah cara pandang dan pola hidup lama yang terikat dengan aturan dan adat. Tuhan adalah mempelai yang hadir membawa kebahagiaan dan keselamatan. Anggur dan kantong baru adalah lukisan wajah hukum baru yang dihadirkan Tuhan yaitu cintakasih.
Hukum kasih ini menghancurkan dominasi hukum lama yang membelenggu kebebasan manusia. Keselamatan adalah anugerah kasih Allah. Dia menghendaki kebahagiaan dan keselamatan.
Ajaran kasih sarat sukacita itu mesti disimpan dalam hati dan pola pikir baru. Kantong baru. Tawaran anggur sukacita Allah mesti diterima dan ditempatkan dalam hidup baru. Anggur baru: ajaran kasih Tuhan mesti disimpan dalam kantong baru yaitu cara pandang dan pola hidup baru.
Puasa mesti monolong kita menjadi baru dengan cara pandang Tuhan. Kita jadi lebih rendah hati, jujur melihat kelemahan, terbuka mengakui kerapuhan dan bukan jadi angkuh lalu merasa diri paling suci dan benar. Kekudusan selalu berdimensi sosial.
Kita lebih mengasihi sesama terutama yang lemah, kecil dan terpinggirkan. Tuhan menghendaki agar hati kita diliputi kasih sehingga hadir damai dan keselamatan bagi sesama.
Salam sehat. Tuhan berkati!










