Oleh: Pater Steph Tupeng Witin, SVD
Saudara, Saudari, Sahabat dan Kenalan Terkasih
Dalam psikologi ada istilah ” Dunning-Kruger Effect” artinya orang yang tidak mampu mengendalikan ilusi superioritas dalam diri. Penyebab utama adalah ego. Orang memiliki tingkat kepercayaan sangat tinggi sehingga menganggap rendah orang lain. Salah satu ciri adalah merasa diri paling benar. Orang-orang ini selalu merasa bahagia hidup dalam ilusi sebagai sosok terhebat.
Gejala psikis kronis ini hidup dalam keseharian orang-orang Farisi ketika Yesus hidup di tanah Palestina. Mereka merasa paling suci, paling benar dan serentak pada momen sama menempatkan orang lain yang pasti berlawanan dalam posisi selalu salah dan berdosa.
Konteksnya orang berdosa. Memang dalam tradisi Yahudi, pemungut cukai digolongkan sebagai kaum pendosa. Pekerjaan ini distigma paling kotor, najis karena bekerja sama dengan penjajah Romawi untuk memeras keringat rakyat kecil tanah jajahan. Maka orang-orang ini harus disingkirkan.
Tuhan hadir melawan kesesatan bernalar yang didominasi oleh elite agama Yahudi sehingga diterima orang banyak sebagai sebuah kebenaran. Yesus justru membuktikan bahwa kesesatan berpikir elite agama itu memiliki motif ekonomi-politik yang sangat kuat.
Tuhan hendak melawan satu istilah bahasa Latin “argumentum ad populum” yang secara harafiah berarti apa yang dianggap sebagai pendapat orang banyak itu dianggap benar. Sebuah kesesatan cara bernalar yang sangat berbahaya bagi hidup bersama.
Cara bernalar yang sesat ini menjamur di lembaga legislatif ketika proses pengambilan keputusan melalui voting. Ibarat badut-badut tanpa otak dan nurani. Ini bahaya ketika taruhannya adalah martabat kemanusiaan.
Hidup kita adalah ziarah mansiawi menuju kekudusan. Bagi Tuhan, kekudusan itu tidak personal, tidak pribadi tapi kesalehan sosial ketika kita keluar dari zona nyaman internal Gereja dan seperti Yesus, terlibat aktif dalan karya sosial kemanusiaan, menyentuh orang berdosa, makan bersama kaum yang distigma sebagai pendosa.
Orang-orang kudus dalam sejarah Gereja adalah orang-orang biasa yang keluar dari kesalehan privat memasuki dunia kesalehan sosial melalui tindakan kasih penuh korban. Belas kasih dan pengampunan tanpa batas.
Salam sehat. Tuhan berkati. *










