ENDE, FLORESPOS.net-Musim kemarau ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Ende dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada sektor perkebunan lokal.
Dinas Pertanian Kabupaten Ende memprediksi adanya penurunan drastis pada hasil produktivitas komoditas perkebunan milik petani mencapai 70 hingga 80 persen akibat panas berkepanjangan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Ibrahim Gadir Dean kepada Florespos.net, di riang kerjanya, Jumat (23/10/2026) siang menjelaskan fenomena cuaca ekstrem ini telah memberikan dampak nyata bagi para petani di lapangan selama dua hingga tiga bulan terakhir.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa fenomena ini tidak berdampak pada gagal panen tetapi berdampak pada penurunan produktivitas. Penurunan produktivitas terjadi pada tanaman perkebunan.
“Untuk tanaman perkebunan, kemarau ekstrem ini pasti produktivitasnya turun, bukan gagal panen,” kata Gadir.
Ia menyebutkan beberapa komoditas perkebunan unggulan masyarakat Ende yang terdampak paling parah di antaranya adalah jambu mete dan cengkeh. Minimnya pasokan air akibat ketiadaan curah hujan mengganggu fase kritis tanaman, terutama saat memasuki masa pembungaan.
Bunga-bunga tanaman perkebunan tersebut menjadi kering dan berguguran sebelum sempat berkembang menjadi buah, sehingga jumlah panen merosot tajam.
Gadir juga menyebutkan ada faktor lain yang menyebabkan menurunnya produktivitas tanaman perkebunan di Ende.
Berdasarkan laporan dari petani dan kajian dari tim Dinas Pertanian Kabupaten Ende menurunnya produktivitas tanaman perkebunan juga dipengaruhi faktor lain yaitu gempa bumi dan abu vulkanik letusan gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur.
“Gempa bumi dan abu vulkanik letusan gunung Lewotobi juga menjadi penyebabnya. Getaran gempa menyebabkan bunga tanaman gugur dan abu vulkanik mengganggu proses pembuahan pada bunga tanaman”.
Wilayah yang terdampak adalah Kecamatan Nangapanda, Kecamatan Maukaro, Maurole dan Kota Baru.
Gadir Dean mengatakan untuk sektor pertanian khsususnya pada sawa irigasi hingga saat ini tidak berdampak karena pada Oktober 2026 sebagian besar padi di lahan pertanian irigasi sudah memasuki musim panen.
Lahan pertanian yang terdampak adalah lahan pertanian tadah hujan. Hingga akhir Oktober 2026 lahan ini belum bisa dimanfaatkan atau ditanam karena belum hujan.
Dinas Pertanian Ende juga mengimbau agar saat hujan petani bisa memanfaatkan lahan untuk menanam umbi- umbian untuk antisipasi terjadi Kemarau panjang di tahun yang akan datang.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










