Catatan Redaksi: Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
MAUMERE, FLORESPOS.net-Kasus bunuh diri pelajar baik jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tergolong tinggi. Hal ini menjadi keprihatinan semua pihak.
Tahun 2026 ini saja, sejak bulan Maret, terdapat 4 pelajar yang meninggal dimana 3 meninggal bunuh diri dan 1 pelajar dibunuh. Sementara untuk lingkungan sekolah ada 5 kasus karena 1 kasus terjadi pada pendidik.
Kasus yang baru saja terjadi pada seorang siswa kelas V SDN Lirikelang, Desa Wuli Wutik, Kecamatan Nita.
Bunuh Diri di Dapur Rumahnya
Siswa berinisial AP (12) itu meninggal dunia dengan cara gantung diri di dapur rumahnya di Dusun Lirikelang pada Selasa (20/10/2026).
Menurut penjelasan Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasie Humas) Polres Sikka, Ipda Leonard Tunga, korban ditemukan ibunya di dapur rumah sekitar pukul 19.00 Wita.
Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun Polres Sikka, ibu korban sebelumnya sempat menemani korban di dapur bersama adiknya berusia 5 tahun.
Sekitar setengah jam kemudian ibunya membawa sang adik ke kamar untuk tidur. Saat kembali lagi ke dapur, sang ibu menemukan AP dalam kondisi tergantung pada tiang atap dapur menggunakan tali rafia berwarna hitam.
Lalu ibunya berusaha menurunkan putranya dan membawanya ke RS TC Hillers Maumere.
“Setelah menjalani pemeriksaan oleh dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS TC Hillers Maumere, korban dinyatakan telah meninggal dunia,” ungkap Leo Tunga.
Korban Meminta Telepon Genggam
Leo Tunga menambahkan, ibu korban mengatakan sekitar pukul 07.00 Wita, korban AP meminta telepon genggam untuk dibawa ke sekolah namun permintaan itu tidak dituruti ibunya.
Saat pulang sekolah sekitar pukul 16.30 Wita, korban sempat marah serta memukul ibunya pada bagian bahu dan mereka berada di dapur hingga ibu korban membawa adiknya ke kamar untuk tidur.
“Polisi masih melakukan pendalaman untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai kejadian ini,” sebutnya.
Leo Tunga menjelaskan, Polres Sikka menerima informasi mengenai peristiwa itu pada Selasa malam sekitar pukul 21.13 Wita dan Tim identifikasi Polres Sikka bersama anggota Polsek Nita kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Ia mengatakan, seorang saksi berinisial A.D. (66) yang datang setelah kejadian, mendapati korban telah diturunkan dan berada dalam pelukan ibunya.
Saksi itu sempat memegang dada korban dan merasakan tubuhnya masih hangat sehingga menyarankan agar korban segera dibawa ke rumah sakit TC Hillers Maumere.
Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah korban dimandikan di ruang jenazah RS T.C. Hillers Maumere sebelum dibawa ke rumah duka di Dusun Lirikelan, Desa Wuli Wutik.
“Keluarga menolak pemeriksaan fisik luar dan bersedia membuat surat pernyataan penolakan autopsi.Saat ini, polisi masih melakukan olah TKP dan mengumpulkan keterangan untuk mendalami peristiwa yang menyebabkan meninggalnya korban,” kata Leo Tunga.
Korban Anak yang Cerdas, Rajin dan Periang
Wali Kelas V SDN Lirikelang tempat korban bersekolah kepada Pelaksana Tugas Kepala Dinas Penddikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, mengatakan tidak menyuruh para siswa membawa telepon genggam ke sekolah.
Saat bertatap muka dengan Kadis PKO Sikka, Rabu (21/10/2026) di sekolah tersebut, kepala sekolah dan para guru mengakui korban merupakan anak yang cerdas, rajin dan periang.
Para guru dan wali kelas menyebutkan selama satu dua hari terakhir tidak ada perubahan sikap yang menyolok pada diri korban dan perilaku korban seperti biasa seperti sebelumnya.
Minggu lalu hari Jumat (16/10/2026) para guru ke rumah korban karena korban tidak sekolah sebelumnya dan setelah kunjungan tersebut korban pun kembali rajin ke sekolah lagi.
Keprihatinan Semua Pihak
Kasus pelajar bunuh diri di Kabupaten Sikka yang tergolong tinggi tersebut menjadi keprihatinan semua pihak, termasuk Pemerintah Daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko mengatakan, kondisi itu memang sangat memprihatinkan sekali.
“Kita harus lakukan upaya untuk penguatan secara psikososial, baik kepada bapak ibu gurunya maupun juga kepada para siswanya,” katanya, ditemui media di SDN Lirikelang, Desa Wuli Wutik, Kecamatan Nita, Rabu (21/10/2026) saat mengecek kasus bunuh diri siswa di sekolah tersebut.
Patris mengatakan, penguatan psikososial terhadap para guru penting agar bisa melakukan identifikasi para siswa sejak dini.
Ia mengatakan kasus bunuh diri di kalangan pelajar ini terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Sikka dan tidak terfokus pada wilayah-wilayah tertentu, tetapi ini menyebar di berbagai wilayah.
“Maka itu kita membuat konsep untuk melakukan penguatan psikososial kepada seluruh guru dan para siswa,” ungkapnya.
Patris menambahkan, dirinya sudah sampaikan kepada Kepala Sekolah dan semua guru dan ini selalu ia sampaikan agar setiap Wali Kelas itu wajib untuk mengetahui setiap anak mulai dari kemampuan akademiknya, karakter dan juga mentalnya.
Para guru kata dia, mempunyai kewajiban untuk bisa melakukan bimbingan ataukah juga melakukan pendampingan agar kondisi-kondisi ini, mental anak didik bisa diperkuat.
Program Layanan Dukungan Psikososial
Dia menerangkan, Dinas PKO Sikka akan membuat program Layanan Dukungan Psikosoial (LDP) yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 sampai dengan tanggal 31 Oktober 2026.
“Kegiatan ini melibatkan fasilitator daerah dari para pengawas dan kepala sekolah. Ada 34 fasilitator daerah yang akan melakukan bimbingan kepada 1.136 guru di Kabupaten Sikka,” terangnya.
Patris menerangkan, setiap sekolah diminta mengirimkan satu orang guru untuk mengikuti pelatihan LDP dan setelah mengikuti pelatihan masing-masing guru memberikan pelatihan kepada para guru di sekolahnya.
Setelah itu nanti guru mempraktekannya pada anak didik dengan memberikan penguatan secara psikologi sehingga diharapkan bisa ada deteksi dini kondisi mental peserta didik.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan sehingga diharapkan semua pihak bekerjasama agar kasus bunuh diri khususnya di kalangan pelajar dan masyarakat di Sikka bisa menurun,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










