Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan - FloresPos Net

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Desiderius Dirmanus

FLORES belum selesai memulihkan diri dari gempa, tetapi asap kembali mengusik kehidupan masyarakat. Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 dan meninggalkan kerusakan serta penderitaan di sejumlah kabupaten.

Hingga 8 September 2026, Florespos.net melaporkan 135 korban meninggal, 1.763 orang luka-luka, dan 70.382 orang mengungsi (Ebed de Rosary, Flores Pos, 2026). Pemulihan masih berjalan.

Di tengah proses itu, udara kabur kembali menyelimuti sejumlah wilayah. Masyarakat belum pulih dari bencana pertama, tetapi sudah menghadapi kecemasan baru.

Gempa dan kabut asap memang berbeda penyebab. Gempa adalah fenomena geologis. Asap dapat berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan serta kondisi atmosfer. Namun keduanya menunjukkan betapa rentan kehidupan manusia ketika ruang hidupnya terancam.

Baca Juga :  Waspada Gigitan Hewan Penular Rabies pada Anak

Gempa mengingatkan kita pada keterbatasan manusia di hadapan kekuatan alam. Asap mengajak kita menilai tindakan manusia yang dapat memperburuk kerusakan lingkungan.

Laporan media menunjukkan fenomena ini muncul di beberapa tempat. Pada 30 September 2026, Harian Flores melaporkan haze di Ende. Pada 12 Oktober, detikBali memberitakan kondisi serupa di Flores Timur.

Baca Juga :  Kebebasan Berekspresi di Ujung Tanduk

Sehari kemudian, VoxNtt.com melaporkan udara kabur di Ruteng, Manggarai. Laporan itu mengutip penjelasan BMKG tentang partikel hasil pembakaran dan kondisi atmosfer yang membuat partikel bertahan di udara (Harian Flores, 2026; detikBali, 2026; Sello Jome, VoxNtt.com, 2026).

Fenomena ini perlu perhatian serius. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seluruh asap berasal dari kebakaran lokal di Flores. Namun asap mengurangi jarak pandang dan berpotensi menurunkan kualitas udara. Karena itu, masyarakat berhak memperoleh informasi yang akurat dan perlindungan yang memadai.

Berita Terkait

Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA