Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik - FloresPos Net

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hendrikus Maku, SVD

KEMATIAN seorang siswa sekolah dasar di Pemalang hanyalah puncak gunung es. Kasus tersebut mendapat perhatian langsung dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi.

Fauzi meminta aparat mengusut kasus tersebut secara menyeluruh untuk mengungkap fakta yang sebenarnya serta memastikan kepentingan terbaik bagi anak tetap menjadi prioritas dalam proses hukum.

Ia juga menegaskan bahwa setiap anak berhak berada di lingkungan yang aman, termasuk ketika berada di sekolah (Kompas, 06/10/2026). Namun, perhatian negara terhadap kasus ini justru mengungkap persoalan yang lebih besar: kekerasan telah menjadi bagian dari pengalaman hidup jutaan anak Indonesia.

Baca Juga :  Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Pilu nian, data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan bahwa 50,78 persen anak Indonesia usia 13-17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan dalam hidup mereka, dan sekitar 70 persen di antaranya mengalami kekerasan secara berulang.

Lebih mengkhawatirkan lagi, survei tersebut menemukan bahwa sebagian besar pelaku kekerasan fisik terhadap anak adalah teman sebaya mereka sendiri. Sementara itu,

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa laporan yang paling banyak diterima dari lingkungan pendidikan adalah kekerasan fisik dan psikis berupa perundungan (bullying). Pada saat yang sama, pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan tren peningkatan kasus kekerasan di satuan pendidikan, dari 91 kasus pada 2020 menjadi 614 kasus pada 2025.

Baca Juga :  Sekelumit Kampanye dan Sosialisasi Menjelang Pemilu 2024

Dan, hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa 36,31 persen peserta didik Indonesia atau sekitar satu dari tiga siswa berpotensi mengalami perundungan di sekolah. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kekerasan di sekolah bukan lagi sekadar peristiwa sporadis yang melibatkan sejumlah oknum peserta didik. Kita sedang berhadapan dengan masalah yang bersifat sistemik.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Berita Terbaru

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA

Advertorial

Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:52 WITA