Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik - FloresPos Net - Page 3

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Regulasi sering kali berhenti pada level administratif, sementara mekanisme pengawasan, pelaporan, penanganan kasus, serta pembentukan budaya sekolah yang aman belum berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Kesenjangan tersebut semakin diperparah oleh budaya normalisasi kekerasan yang masih mengakar dalam sebagian lingkungan pendidikan. Ejekan, hukuman fisik, senioritas, atau tindakan merendahkan martabat peserta didik kerap dianggap sebagai bagian dari proses pendewasaan, pembentukan karakter, atau sekadar “kenakalan biasa anak-anak”.

Cara pandang ini menyebabkan banyak kasus tidak ditangani secara serius sejak awal, bahkan sering kali ditutup demi menjaga citra sekolah. Akibatnya, korban dipaksa beradaptasi dengan kekerasan, sedangkan pelaku tidak memperoleh edukasi maupun konsekuensi yang mendidik.

Baca Juga :  Peran Keluarga Mengatasi Krisis Moral Merujuk Ensiklik Familiaris Consortio

Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai culture of silence and cycle of violence, yaitu situasi ketika kekerasan diterima sebagai sesuatu yang wajar sehingga terus direproduksi dari satu generasi peserta didik ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu, strategi pencegahan tidak cukup hanya berupa penyusunan regulasi atau pembentukan tim penanganan, melainkan harus diarahkan pada transformasi budaya sekolah. Sekolah perlu membangun ekosistem yang menumbuhkan empati, penghormatan terhadap martabat manusia, keberanian untuk melapor, serta keterlibatan aktif guru, orang tua, dan peserta didik sebagai agen pencegah kekerasan.

Baca Juga :  Mahfud: Pendekar Hukum dan Pemerhati Wong Cilik

Tanpa perubahan budaya tersebut, berbagai program perlindungan anak berisiko hanya menjadi formalitas administratif yang gagal menyentuh akar persoalan.

Di tengah rentetan tragedi kemanusiaan di dunia pendidikan, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar siapa yang bersalah atau hukuman apa yang pantas diberikan, melainkan: mengapa sekolah yang seharusnya memanusiakan manusia justru kerap menjadi ruang yang melukai kemanusiaan anak-anak?

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Berita Terbaru

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA

Advertorial

Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:52 WITA