Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik - FloresPos Net - Page 4

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertanyaan ini menggemakan refleksi Paus Leo XIV dalam pidatonya di UNESCO (25/9/2026). Menurutnya, akar berbagai krisis sosial, politik, teknologi, dan pendidikan terletak pada cara manusia memahami dirinya dan sesamanya sebagai pribadi yang bermartabat.

Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik, keterampilan, atau produktivitas, tetapi harus membantu manusia semakin menjadi, bukan sekadar memiliki. Pendidikan sejati membentuk hati nurani, kepekaan etis, dan penghormatan terhadap sesama.

Paus Leo juga menegaskan bahwa setiap manusia adalah anak yang menerima hidup sebagai anugerah. Karena itu, pada dasarnya semua manusia adalah saudara dan saudari. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi fondasi budaya sekolah.

Baca Juga :  Orang Pintar Restui Tindakan Main Hakim Sendiri (PT Krisrama Pelanggar HAM atau Sebenarnya Korban?)

Dalam terang pandangan tersebut, perundungan, kekerasan fisik, maupun kekerasan verbal bukan sekadar pelanggaran tata tertib, melainkan pengingkaran terhadap persaudaraan dan martabat manusia.

Akhirnya, jika seorang anak pergi ke sekolah untuk belajar tetapi pulang sebagai jenazah, maka yang sedang bermasalah bukan hanya perilaku individu tertentu, melainkan kultur pendidikan yang belum sepenuhnya menjadikan martabat manusia sebagai nilai tertinggi.

Sekolah seharusnya menjadi tempat seorang anak belajar tentang kemanusiaan. Namun, jika di tempat itu ia justru belajar tentang ketakutan, penghinaan, dan kekerasan, maka yang sedang terluka bukan hanya seorang anak, melainkan masa depan kita sebagai negara bangsa.

Baca Juga :  Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Karena itu, pesan Paus Leo merupakan kompas moral bagi dunia pendidikan: kembalikan pendidikan kepada tujuan hakikinya, yaitu merawat manusia agar semakin manusiawi.

Candraditya – Maumere, 7 Oktober 2026

Penulis adalah Dosen IFTK Ledalero, Tinggal di Pusat Penelitian Agama dan Budaya, Candraditya, Anggota Tim Penulis Buku Isu Kontemporer Pendidikan

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Berita Terbaru

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA

Advertorial

Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:52 WITA