Pertanyaan ini menggemakan refleksi Paus Leo XIV dalam pidatonya di UNESCO (25/9/2026). Menurutnya, akar berbagai krisis sosial, politik, teknologi, dan pendidikan terletak pada cara manusia memahami dirinya dan sesamanya sebagai pribadi yang bermartabat.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik, keterampilan, atau produktivitas, tetapi harus membantu manusia semakin menjadi, bukan sekadar memiliki. Pendidikan sejati membentuk hati nurani, kepekaan etis, dan penghormatan terhadap sesama.
Paus Leo juga menegaskan bahwa setiap manusia adalah anak yang menerima hidup sebagai anugerah. Karena itu, pada dasarnya semua manusia adalah saudara dan saudari. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi fondasi budaya sekolah.
Dalam terang pandangan tersebut, perundungan, kekerasan fisik, maupun kekerasan verbal bukan sekadar pelanggaran tata tertib, melainkan pengingkaran terhadap persaudaraan dan martabat manusia.
Akhirnya, jika seorang anak pergi ke sekolah untuk belajar tetapi pulang sebagai jenazah, maka yang sedang bermasalah bukan hanya perilaku individu tertentu, melainkan kultur pendidikan yang belum sepenuhnya menjadikan martabat manusia sebagai nilai tertinggi.
Sekolah seharusnya menjadi tempat seorang anak belajar tentang kemanusiaan. Namun, jika di tempat itu ia justru belajar tentang ketakutan, penghinaan, dan kekerasan, maka yang sedang terluka bukan hanya seorang anak, melainkan masa depan kita sebagai negara bangsa.
Karena itu, pesan Paus Leo merupakan kompas moral bagi dunia pendidikan: kembalikan pendidikan kepada tujuan hakikinya, yaitu merawat manusia agar semakin manusiawi.
Candraditya – Maumere, 7 Oktober 2026
Penulis adalah Dosen IFTK Ledalero, Tinggal di Pusat Penelitian Agama dan Budaya, Candraditya, Anggota Tim Penulis Buku Isu Kontemporer Pendidikan










