Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’ - FloresPos Net

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI BAWAH langit Larantuka yang menyimpan ribuan lapis memori, panggung Taman Kota Felix Fernandez kembali berdenyut oleh napas seni dan sejarah. Komunitas Teater Seminari San Dominggo Hokeng hadir menyulut nyala pertunjukan dalam Festival Bale Nagi 2026. Mereka seakan menegaskan bahwa teater di tanah ini tidak pernah berhenti menjadi ruang perjumpaan antara tubuh, suara, dan derita yang terpendam.

Dari tangan kreatif Romo Ino Koten, lahirlah ‘Yang Runtuh Lalu Satu’, sebuah karya yang membongkar konstruksi sosial atas ruang, mengaduk endapan memori kolektif, dan menelanjangi patologi konflik yang telah menggerogoti relasi antarmanusia melintasi generasi. Di atas panggung itu, setiap gerak dan diam menjelma pertanyaan besar. Adakah ‘reruntuhan’ yang kita warisi masih bisa disatukan kembali?

Narasi yang dibangun dalam pertunjukan ini berakar pada realitas historis di mana manusia terus mereproduksi cerita mengenai batas teritorial, klaim leluhur, dan legitimasi kebenaran. Fenomena ini secara berangsur bertransformasi menjadi sentimen primordial, prasangka, hingga eskalasi konflik yang seolah tak berkesudahan.

Baca Juga :  Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum

Dalam dialektika sejarah, terdapat kecenderungan masyarakat mengalami distorsi kognitif. Mereka gagal membedakan antara kearifan leluhur dengan ‘residual dendam’ yang terinstitusionalisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di atas panggung, semiotika ruang bermetamorfosis melalui harmoni ekspresi somatik dan resonansi musik yang menggetarkan kesadaran. Di tengah pusaran artistik itu, ‘sapu lidi’ tampil sebagai artefak filosofis yang merefleksikan agregasi elemen-elemen renik. Ketika terikat dalam kesatuan, ia memancarkan kekuatan strategis. Namun saat ego sektorial merenggut simpulnya, ia menyisakan metafora yang menyayat tentang rapuhnya tenunan sosial di tengah manusia.

Melalui orkestrasi simbolik ini, penonton diajak menyelami sebuah penelusuran epistemologis atas labirin identitas dan friksi antarkelompok. Setiap gerak dan diam di panggung mengupas lapis demi lapis realitas konflik, membawa hadirnya sebuah kesadaran kultural yang utuh. Bahwa di ujung segala pencarian dan pertikaian, terdapat sebuah ‘terang kebenaran’ yang menanti untuk direngkuh bersama.

Pada puncaknya, pertunjukan ini mengartikulasikan sebuah tesis filosofis yang membantah determinisme teritorial. Tanah, dalam pemahaman ontologisnya, tidak pernah menagih pertumpahan darah sebagai syarat kesuburan maupun persembahan ritual. Bumi sesungguhnya merentang sebagai rahim yang menampung segala kehidupan, menuntut kesadaran bahwa batas-batas geografis tidak seharusnya dibasahi oleh ambisi yang mengorbankan esensi kemanusiaan.

Baca Juga :  Menurunnya Jumlah Petani Milenial dan Ancaman Masa Depan Pertanian Indonesia

Kesadaran kolektif ini kemudian bermanifestasi dalam resolusi simbolis, terekam apik melalui adegan rekonsiliasi di mana faksi-faksi yang bertikai akhirnya saling merangkul. Gestur pelukan tersebut melampaui ekspresi fisik. Ia merepresentasikan pergeseran paradigma dari kultus kebencian menuju keberanian memutus rantai trauma masa silam.

Momen katarsis ini menjadi katalisator bagi reorientasi nilai-nilai bersama, mengarusutamakan perdamaian sebagai satu-satunya jalan untuk ‘merawat tanah’ yang selama ini disalahpahami.

Kehadiran ‘Yang Runtuh Lalu Satu’ di Festival Bale Nagi 2026 sejatinya menegaskan posisi seni teater yang melampaui batas estetika pertunjukan, serta bertransformasi menjadi instrumen sosiokultural untuk membongkar narasi konflik yang mengakar.

Bagi saya, pementasan ini menggarisbawahi urgensi pembebasan manusia dari belenggu prasangka, demi mewujudkan koeksistensi yang harmonis di atas tanah yang sama. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Sabtu, 19 Sep 2026 - 11:05 WITA