Pulihkan Populasi Pisang Kepok, Butuh Gerakan Seluruh Flores - FloresPos Net

Pulihkan Populasi Pisang Kepok, Butuh Gerakan Seluruh Flores

- Jurnalis

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Untuk memulihkan populasi pisang kepok serta pisang marmi di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) perlu gerakan bersama semua pihak di Pulau Flores, karena penyakitnya sudah akut dan menyebar di seluruh daratan Nusa Bunga, Flores.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Mabar, Tarsi Gonsa, mengatakan itu kepada Florespos.net, di Labuan Bajo belum lama ini.

Pendampingnya Kepala Bidang (Kabid) Hortikultura dan Perkebunan, Nasarus Natar, serta Kabid Produksi Tanaman Pangan, Blasius Apen.

Diberitakan media ini sebelumnya, genjot potensi pisang kepok, dewan segera undang DTPHP Manggarai Barat.

Menurut Gonsa, jika benar DPRD Mabar mengundangnya terkait tanaman pisang kepok/pisang marmi di Mabar, dia siap menyampaikan hal terkait turunnya produksi, populasi dan penyakit yang menggerogoti komoditi satu itu sejauh ini, termasuk solusi.

Diungkapkan Gonsa dan Natar, tanaman pisang marmi/pisang kepok di Manggarai Barat tahun-tahun terakhir terserang penyakit layu bakteri dan sudah akut, masal, karena semua jenis pisang yang sama di kabupaten itu sepertinya sudah terkena penyakit tersebut.

“Dari data yang ada, semua tanaman pisang marmi/pisang kepok kita di Manggarai Barat ini sudah terkena penyakit tadi itu, layu bakteri itu. Habis sudah kita, selesai sudah kita,” kata Gonsa, diamini Natar.

Penyakit serupa yang disebabkan bakteri itu juga sepertinya sudah lama menggerogoti tanaman pisang kepok/pisang marmi di tanah Flores tahun-tahun belakangan. Penyakit layu bakteri bersifat menular, ujar keduanya.

Baca Juga :  Ketahuilah, 7 Manfaat Stroberi untuk Kesehatan

Di semua kecamatan di Manggarai Barat, kata Gonsa dan Natar, hampir semua masyarakat membudidayakan pisang kepok/pisang marmi. Dan bagi penduduk Flores sejak dulu, pisang adalah salah satu sumber pendapatan/perekonomian, disamping untuk makan, konsumsi, tak terkecuali masyarakat Mabar.

Hanya, masih keduanya, produksi dan populasi tanaman pisang marmi/pisang kepok di Mabar tahun-tahun belakangan sudah turun tajam, bahkan hampir hilang, karena digerogoti penyakit mematikan bernama layu bakteri itu. Serangannya masif.

Penyakit ini menular dan sepertinya belum ada obat, kecuali basmi total dan tanam anakan baru yang belum terkontaminasi penyakit semacam, penyakit darah pisang. Dan tanaman pisang kepok/pisang marmi di seantero Flores sepertinya mengalami nasib yang sama.

“Di Manggarai Barat penyakit ini terjadi mulai Tahun 2024 sampai sekarang. Dan sepertinya di seluruh Flores juga mungkin begitu,” kata Natar.

Memutuskan siklus penyakit layu bakteri, kata Natar, kecuali musna total dan bersifat masal, karena penyakit ini bersifat menular. Basminya tuntas sampai ke akar-akar. Akar-akarnya digali, dibongkar habis, dikumpul satu dengan batang-daun dan lainnya lalu dibakar. Karena penyakit ini antara lain bisa tular melalu parang atau pisau bekas potong pisang yang sudah terkena penyakit layu bakteri.

Baca Juga :  1.322 PPPK Paruh Waktu di Manggarai Barat Mulai Kerja 2026

Gonsa menegaskan, untuk mengatasi penyakit layu bakteri perlu kerja sama semua pihak di Flores, pemerintah kabupaten se-Flores, masyarakat/petani se-Flores dan lain sebagainya,  termasuk Mabar.

Dan semua ini mesti dikoordinasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov)Nusa Tenggara Timur (NTT), karena penyakit ini sudah melandai satu daratan. Tidak hanya di Mabar tetapi satu daratan, Flores. Ini seperti penyakit babi, ASF, yang juga melanda seluruh Flores selama ini.

“Penanganan penyakit layu bakteri tidak bisa spot. Nanti di sini atasi, tetapi sana, dan akhirnya kemabli lagi ke sini. Maka penanganannya serempak satu Flores. Selama penanganan total, masal, menyeluruh,” kata Gonsa diamini Natar dan Apen.

Diketahui, penyakit utama yang mematikan dan menyerang tanaman pisang kepok serta pisang marmi di pulau Flores selama ini adalah penyakit darah pisang (blood disease), disebabkan oleh infeksi bakteri Ralstonia Solanacearum (Blood Disease Bacterium), (buah/daging pisang jadi rusak/busuk).

Penyakit ini tular melalu serangga pengunjung bungah (vektor) pada jantung pisang, lewat parang/pisau yang terkontaminasi, via tanah, air larian, dan dari bibit/anakan dari induk yang sudah sakit. Penyakit darah pisang juga disebut penyakit layu bakteri atau layu darah. *

Penulis : Andre Durung

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Nando Watu Serahkan Beasiswa PIP Aspirasi AHP untuk 30 SDK Marsudirini Detusoko- Ende
Tingkatkan Penemuan Kasus TBC, Tim Peneliti Dosen Prodi Keperawatan Ende Latih Kader Kesehatan di Wolowaru
Dugaan Pencurian Berulang Kali, Orang Tua Terduga Pelaku Curi Kambing Dituding Selalu Bela Anaknya
Pemkab Ngada Dukungan Program Cetak Sawah Rakyat
Wabub Ngada Berni Dhey Serahkan Sembako Bagi Lansia di Desa Sobo
Kasus Curi Kambing, Polres Nagekeo Masih Lakukan Penyelidikan dan Pemeriksaan
Festival Bale Nagi 2026 Siap Digelar, Heri Lamawuran: Ada Pameran Ekraf, UMKM dan Job Fair
Polres Ende Kembali Ungkap Kasus Narkoba Jenis Ganja, Amankan Barang Bukti 3,3 Gram
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:55 WITA

Pulihkan Populasi Pisang Kepok, Butuh Gerakan Seluruh Flores

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:06 WITA

Nando Watu Serahkan Beasiswa PIP Aspirasi AHP untuk 30 SDK Marsudirini Detusoko- Ende

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:00 WITA

Tingkatkan Penemuan Kasus TBC, Tim Peneliti Dosen Prodi Keperawatan Ende Latih Kader Kesehatan di Wolowaru

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:44 WITA

Dugaan Pencurian Berulang Kali, Orang Tua Terduga Pelaku Curi Kambing Dituding Selalu Bela Anaknya

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:03 WITA

Pemkab Ngada Dukungan Program Cetak Sawah Rakyat

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Pulihkan Populasi Pisang Kepok, Butuh Gerakan Seluruh Flores

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:55 WITA

Nusa Bunga

Pemkab Ngada Dukungan Program Cetak Sawah Rakyat

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:03 WITA