LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manggarai Mabar (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) ketar ketir ketika kontainer-kontainer sampah di Labuan Bajo Ibu kota Mabar mendadak dipenuhi sampah “siluman”, karena tak tahu sumbernya.
“Terlebih di Pelabuhan Labuan Bajo. Ko sekecap saja sampah sudah penuh kontainer. Padahal mobil-mobil sampah baru angkut. Kita ketar ketir di bawah itu (Pelabuhan Labuan Bajo),” komentar Vinsen Gande, Kepala DLHP Mabar menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama berselang, terkait sampah.
Menurutnya, sejauh ini memang ada oknum di Labuan Bajo yang buang sampah di semak belukar dalam kota Labuan Bajo atau hutan sekitarnya. Ada juga yang buang di kontainer sampah di Pasar Rakyat Batu Cermin Labuan Bajo dan lain-lain. Tetapi yang viral adalah melubernya sampah di Pelabuhan Labuan Bajo.
Ketika itu, cerita Vinsen, kejadiannya malam. Para petugas sampah kebersiahan bersama sopir dan mobil sampah turun angkut sampah di sana (Pelabuhan Labuan Bajo).
Sampah-sampah dalam kontainer diangkut semua sampai malam. Dan itu sesuai kalender tetap DLHP tentang pengangkutan sampah setempat. Setelah itu para petugas pulang rumah.
Namun tiba-tiba kontainer-kontariner tersebut sudah penuh sesak sampah lagi, meluber sampai di luar kontainer, berserakan. Sampah-sampah itu diisi dalam kantong-kantong plastik hitam besar. Kejadiannya dini hari, subuh. Entah bersumber dari mana, tidak diketahui pemiliknya. Situasi hebo, viral. Pihak Dinas turun bersih dan angkut semua TPA Warloka, kerja berjam-jam.
“Saya sendiri turun kerja bersama teman-teman dinas, termasuk petugas kebersihan. Yang begini kan kambing hitamkan pemerintah, padahal ulah orang lain,” ujar Vinsen.
Sejak saat itu, DLHP sudah menempatkan petugas di pelabuhan Labuan Bajo. Di antaranya untuk memastikan pelanggan-pelanggan sampah yang menurunkan sampahnya di pelabuhan setempat, antara lain sampah dari kapal-kapal.
Sedangkan kasus sampah buang berteruk-teruk tadi sampai saat ini belum diketahui sumbernya, kata Vinsen.
Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Mabar dari sampah, sesungguhnya menjanjikan manakala semua pihak mau berlangganan sampah, di antaranya sampah rumah tangga, sampah dari dunia usaha, termasuk kapal.
Jumlah kapal yang keluar masuk Labuan Bajo terkini lebih dari 800 unit, termasuk kapal wisata dan milik Pelni serta ASDP. Sebelumnya lebih dari 700 unit kapal. Namun yang bayar retribusi sampah sekitar 200 unit. Ini peluang sekaligus tantangan buat PAD Mabar.
“Memang yuran sampah buat kapal tidak bayar tiap bulan. Kalau ada di Labuan Bajo, bayar. Kalau di luar, berlayar di daerah/kabupaten lain, tidak bayar,” ungkap Vinsen.
Berdasarkan data DLHP Mabar Tahun 2026, potensi pelanggan sampah setempat yakni 2.931. Kategori/potenai umum mencakupi bisnis makan sebanyak 208.
Rinciannya: restoran 73, rumah makan/warung makan 131, kedai makan 2, Bar 1, penyediaan makanan keliling/tempat tidak tetap 1.
Kategori hotel 117, terdiri dari melati 91, bintang satu 1, bintang dua 4, bintang tiga 11, bintang empat 4, bintang lima 6. Kategori kapal 739, terdiri dari 1GT-25 GT 315, 26 GT-50 GT 163, 51 GT-100 GT 126, Di atas 100 GT 135.
Kategori rumah tangga 1233, terdiri dari rumah tangga kelas miskin 0, rumah tangga kelas bawah 980, rumah tangga kelas menengah 245, rumah tangga kelas atas 1.
Katergori fasilitas swasta 589, terdiri dari kelas-kelas-K1 0, Kelas-K2 589, Kelas-K3 0, fasilitas umum 42, mencakupi umum-1 0, umum-2 35, umum-3 7. Kategori pasar/rincian ada 3. Dengan demikian total potensi pelanggan sampah 2026 di Mabar yaitu 2.931.
Diberitakan media ini sebelumnya, BBM dan rendahnya kesadaran masyarakat, tantangan urusan sampah Manggarai Barat.*
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










