Dua Desa di Manggarai Barat “Terkurung” HPL, Cagar Alam, Hutan Tutupan - FloresPos Net

Dua Desa di Manggarai Barat “Terkurung” HPL, Cagar Alam, Hutan Tutupan

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Dua desa di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) “terkurung” hutan tutupan (HT), kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Wae Wuul, dan Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Kedua desa yakni Warloka dan Macang Tanggar.

“Desa Warloka dan Desa Macang Tanggar itu semacam enklave. Di situ HPL, kawasan konsevasi Cagar Alam Wae Wuul dan juga ada hutan tutupan. Kasihan masyarakat,” ujar Wakil Ketua Dua DPRD Mabar Sewargading S. J. Putera menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama ini, terkait perkembangan urusan HPL dan CA Wae Wuul.

Diungkapkan, kawasan HPL tersebar di 4 desa, yaitu Golo Pongkor, Warloka, Macang Tanggar, dan Pantar. Sedangkan kawasan konservasi CA Wae Wuul meliputi Desa Warloka dan Desa Macang Tanggar. Kedua desa (Macang Tanggar dan Warloka) juga bagian dari zona hutan tutupan. Semua desa tersebut berada di selatan Kecamatan Komodo.

Baca Juga :  Deputi Operasi Basarnas Pimpin Langsung Asistensi Operasi SAR 3 WNA Spanyol di Labuan Bajo

“Yang mengerikan dua desa, Macang Tanggar dan Warloka, karena di situ ada HPL, daerah konservasi (CA) Wae Wuul, juga ada hutan tutupan di timurnya,” ujar wakil rakyat disapa Sewar atau Gading tersebut. Dia juga berasal dari Kenari, Desa Warloka.

Kebijakan Negara/Pempus (Indonesia) yang menghadirkan 3 status tersebut (HPL, CA Wae Wuul, HT) berdampak pada hak masyarakat setempat. Banyak lahan masyarakat masuk dalam status HPL dan CA Wae Wuul atau pun mungkin hutan tutupan.

Tak sedikit lahan warga yang sudah bersertifikat tetapi tidak berguna, antara lain karena tidak bisa dijadikan jaminan untuk kredit di bank misalnya. HPL, hutan tutupan, kawasan konservasi, termasuk CA Wae Wuul adalah milik negara.

“Saya punya juga kena. Tanah milik saya di Kenari, Desa Warloka, yang sudah disertifikat 2002 dulu masuk HPL. Kawasan konservasi Wae Wuul kena juga saya. Ironis sekali, karena yang terbitkan sertifikat itu pemerintah/negara, tapi tidak berguna akhirnya,” ujar Gading.

Baca Juga :  Warga Desa Pocolia Terima Beras Bantuan Pangan

Sebelumnya Wakil Bupati Mabar, Yulianus Weng, menanggapi media ini di Labuan Bajo, mengatakan, untuk area HPL, yang luas ribuan hektare, sedang diperjuangkan para pihak di Mabar, termasuk Pemkab Mabar, agar itu segera dilepas/dikeluarkan dari HPL.

Supaya tanah-tanah milik masyarakat yang masuk status HPL, dilepas, dikeluarkan dari HPL. Dan sekarang sedang berproses di pemerintah pusat/kementerian terkait.

Demikian juga dengan kawasan konservasi CA Wae Wuul, Pemkab Mabar melalui Pemerintah Kecamatan Komodo, Pemerintah Desa setempat dan lain-lain, beberapa waktu lalu bersama pihak CA Wae Wuul, KSDA dan lain-lain telah melakukan rekonstruksi tatas batas kawasan konservasi bersangkutan, CA Wae Wuul.

Diharapkan hasilnya baik, tidak merugikan masyarakat, kata Wabup Weng. *

Penulis : Andre Durung

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Hari Kesepuluh Pencarian, Satu Korban Tenggelamnya Kapal Wisata KM Feronia Belum Ditemukan
Dampak Kemarau Panjang, Produktivitas Tanaman Perkebunan Petani Ende Menurun Hingga 70 Persen
Kadis Nakertrans Kabupaten Sikka Lepas Resmi Dua Calon PMI dan Satu Pekerja Antar Daerah, Pesan Prosedural Jadi Sorotan
Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah
20 Unit KDKMP di Ngada Mencapai 100 Persen Pembangunan Fisik Gerai
Enam Nelayan Selamat Usai Kapal Mori Sama 02 Tabrak Karang di Pulau Siaba Kecil
Realisasi Sementara PAD Manggarai Barat Rp.237 Miliar Lebih
Pemkab Sikka dan BTN Tandatangan Kerjasama Terkait Penyediaan Jasa Layanan Perbankan
Berita ini 333 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:40 WITA

Hari Kesepuluh Pencarian, Satu Korban Tenggelamnya Kapal Wisata KM Feronia Belum Ditemukan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:13 WITA

Dampak Kemarau Panjang, Produktivitas Tanaman Perkebunan Petani Ende Menurun Hingga 70 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:12 WITA

Kadis Nakertrans Kabupaten Sikka Lepas Resmi Dua Calon PMI dan Satu Pekerja Antar Daerah, Pesan Prosedural Jadi Sorotan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:05 WITA

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:34 WITA

20 Unit KDKMP di Ngada Mencapai 100 Persen Pembangunan Fisik Gerai

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:05 WITA