Oleh: Budi Nasu
SEMINARI Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret menggelar seminar komunitas bertajuk “Mengenal Diri: Menemukan True Self di Balik Jubah” pada Sabtu, 25 April 2026.
Seminar ini mempertemukan para formator, ratusan calon imam (frater), serta akademisi psikologi guna membedah kedalaman integritas kemanusiaan dalam ziarah panggilan klerikal.
Seminar ini berlangsung di Saint Peter’s Hall yang kerap menjadi saksi bisu peristiwa sakral di perbukitan Nita. Diskusi yang dimulai pukul 07.00 hingga 09.00 WITA ini menghadirkan Dr. Khanis Suvianita, dosen psikologi sekaligus peneliti senior di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sebagai narasumber utama serta dipandu oleh Fr. Bayu Tonggo, mahasiswa pascasarjana IFTK Ledalero yang juga dikenal sebagai penulis reflektif.
Forum ini mengeksplorasi integrasi antara kematangan psikis dan kehidupan spiritual, mencakup tantangan manajemen emosi hingga strategi pencegahan skandal seksual di lingkungan Gereja melalui perspektif psikologi.
Dalam sambutannya, Ketua Seksi Akademik, Fr. Budi Nasu, menyatakan diskusi ini dilaksanakan karena adanya kesadaran bahwa jubah bukan sekadar kain pembeda, melainkan simbol yang menuntut keselarasan antara wajah publik dan batiniah.
Menurut Budi, para calon imam sering terjebak dalam paradoks: mencari identitas di luar diri, padahal kebenaran sudah ada di dalam batin.
“Jubah bisa menjadi instrumen ‘promosi panggilan’ yang indah, namun ia juga berisiko menjadi ‘topeng’ jika kita gagal mengenali True Self yang sebenarnya,” tegasnya.
Mengawali pemaparannya, Dr. Khanis Suvianita tak ragu mengungkapkan rasa apresiasinya terhadap keterbukaan Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret.
Bagi pakar identitas dan keberagaman manusia ini, kesediaan institusi Seminari untuk memberikan panggung bagi kaum awam dan perempuan untuk berbicara tentang integritas psikis adalah sebuah keterbukaan, kejujuran dan kerendahan hati.
Ia memandang ruang dialog ini sebagai jembatan penting bagi perspektif psikologi untuk masuk ke jantung pembinaan klerus, sebuah wilayah yang secara historis sering kali kedap terhadap diskursus eksternal.
Khanis menyajikan makalah yang memantik refleksi tajam: “Kasus Skandal Seksual dalam Gereja: Bagaimana Mempersiapkan Calon Imam?” Melalui pendekatan psikologis, ia menarik benang merah antara kegagalan individu dalam menemukan “Diri Sejati” (True Self) dengan munculnya perilaku patologis yang berujung pada krisis moral di dalam institusi Gereja.
Ia mengajak para frater untuk berani membedah lapisan-lapisan subjektivitas mereka agar tidak hanya menjadi “orang suci di permukaan,” melainkan pribadi yang utuh dan jujur pada kemanusiaan mereka sendiri, termasuk pada segala kerentanannya.
Gema seminar ini ternyata bersambut dengan kebijakan strategis di tingkat regional. RD. Richardus Muga Buku, selaku moderator Seksi Akademik Ritapiret sekaligus formator, menegaskan bahwa agenda ini merupakan respon konkret atas penekanan para Uskup se-Provinsi Gerejawi Regio Ende dalam sidang terakhir mereka (09-13 Maret 2026).
Menurut RD. Richard, para gembala di Flores dan Bali kini memberikan atensi khusus pada penguatan aspek psikologi dalam kurikulum pembinaan calon imam. Sinyal dari para Uskup ini ditangkap dengan cepat oleh pihak Seminari sebagai upaya mitigasi jangka panjang terhadap potensi krisis imamat di masa depan.
Kehadiran narasumber awam di mimbar Seminari ini pun memiliki landasan teologis yang kokoh dalam dokumen Konsili Vatikan II. Dekrit tentang Pembinaan Imam, Optatam Totius artikel 2, secara eksplisit menyatakan bahwa tugas memupuk panggilan merupakan hak dan tanggung jawab “seluruh komunitas Kristen”.
Dokumen ini menegaskan bahwa pembinaan calon imam bukanlah monopoli hierarki semata, melainkan tugas kolektif umat Allah yang harus didukung oleh penggunaan riset psikologis dan sosiologis modern dalam mengevaluasi serta membina panggilan tersebut.
Antusiasme para frater yang memenuhi Saint Peter’s Hall menunjukkan adanya dahaga intelektual akan model pembinaan yang lebih inklusif dan transparan.
Diskusi yang berjalan dinamis hingga lonceng penutup berbunyi membuktikan bahwa kejujuran pada kemanusiaan kini mulai diletakkan sebagai fondasi paling dasar bagi kesucian masa depan.
Di bukit suci Ritapiret, para calon imam kini diingatkan kembali bahwa sebelum mampu menggembalakan umat, mereka harus terlebih dahulu memiliki keberanian untuk menanggalkan topeng dan menatap diri mereka sendiri dengan jujur. *
Penulis adalah Ketua Seksi Akademik Ritapiret










