MAUMERE, FLORESPOS.net-Pandemi Covid-19 tahun 2020 membuat pemerintah mengeluarkan himbauan agar segala aktifitas dilakukan di rumah dan membatasi pergerakan orang beraktifitas di luar rumah.
Melihat kondisi ini, Kepala Desa Tilang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka memberanikan diri untuk terjun menggeluti sektor pertanian khususnya tanaman hortikultura.
“Awalnya sejak 26 Mei 2020 terjun menanam hortikultura karena saat itu Covid-19 dan himbauan pemerintah untuk berada di rumah saja,” sebut Kades Tilang, Rofinus I.M/Luer saat ditemui di kebunnya tak jauh dari rumahnya,Rabu (15/4/2026).
Rofinus berpikir, desanya dialiri aliran air dari Kali Nangablo yang setiap tahun tidak pernah kering dan di pinggir kali banyak terdapat lahan-lahan potensial yang bisa ditanami hortikultura.
Dirinya pun menyewa alat berat untuk menggusur lahan yang sudah ada pohon kakao dan kelapa yang berproduksi seluas 3 hektare untuk ditanami aneka tanaman hortikultura.
“Masyarakat menyebut saya gila karena kakao dan kelapa saya gusur semua meskipun sudah berbuah.Panen pertama saya bisa untung puluhan juta rupiah,” ungkapnya.
Rofinus mengaku sejak awal dirinya menerapkan manajemen yang baik berkat pengalamannya sebagai kepala desa sehingga segala pengeluaran biaya maupun penjualan hasil produksi tercatat dengan baik.
Ia ingin memberi contoh bahwa meskipun petani, manajemennya harus bagus sehingga bisa mengetahui berapa keuntungan yang diperoleh dan kapan harus menanam jenis tanamannya.
“Saya punya kalender tanam sehingga produk yang dihasilkan bisa terserap pasar dengan harga jual yang layak.Ini untuk menghindari agar hasil panen tidak masuk ke pasar saat stoknya sedang melimpah dan harga jualnya pasti anjlok,” ucapnya.
Rofinus mengaku saat ini dirinya bisa membeli mobil dan membiayai anaknya untuk sekolah dokter serta memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga berkat bertani hortikultura.
Luas lahannya pun kini bertambah menjadi 4,5 hektare belum termasuk petani-petani binaannya di Desa Tilang yang totalnya memiliki lahan seluas sekitar 3 hektare lebih.
“Setelah menggeluti saya melihat dampak ekonomi bagi warga sangat bermanfaat sehingga saya tetap menggeluti hortikultura. Masyarakat juga saya ajak bertani hortikultura dan saya damping termasuk anak-anak muda di desa ini,” terangnya.
Rofinus mengakui anak-anak muda yang ingin bertani setelah sudah mempunyai bekal ilmu yang mumpuni akan dia berikan bantuan modal usaha
“Saat banyak orang-orang muda meninggalkan dunia pertanian saya mengajak masyarakat saya, terutama anak-anak muda untuk menggeluti pertanian khususnya hortikultura,” katanya.
Banyak anak-anak muda, para perempuan yang kita damping untuk menanam hortikultura dan ada yang sarjana diberikan bekal budidaya hortikultura agar bisa berperan membangun masyarakat dari kebun.
“Dari kerja horti juga sudah banyak menciptakan peluang kerja ada dampaknya masyarakat bisa menyekolahkan anaknya. Mereka bisa bangun rumah yang layak bisa beli sepeda motor. Sebagian besar kebutuhan ekonomi mereka bisa terpenuhi,“ ucapnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










