BAJAWA, FLORESPOS.net-Manager Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri, Mikael Hengkoda Djawa mengatakan erosi solidaritas anggota koperasi dapat merusak kemajuan kehidupan berkoperasi.
“Erosi solidaritas anggota koperasi dapat merusak kemajuan kehidupan berkoperasi,” kata Mikael Djawa dalam sambutan pada kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke 38 Kopdit Sinar Harapan Malapedho, Sabtu (11/4/2026).
Mikael mengungkapkan yang mengikuti RAT biasanya anggota yang disiplin, simpan teratur, pinjam bijaksana serta angsur tepat waktu bukan anggota yang macet. Kalaupun yang macet hadir maka banyak yang sengaja tidak mau mendengarkan.
Sebagai anggota yang baik maka seharusnya dapat memberikan kesaksian dan memberikan semangat untuk terlibat aktif dengan menjadi anggota yang bertanggung jawab.
Juga memberikan motivasi dengan mengajak anggota yang sering kali lalai atau apatis, “adalah tanggung jawab semua anggota untuk menjadikan koperasi dapat bertahan juga bertumbuh dengan baik.”
Menurut Mikael, hal yang penting juga adalah pendidikan koperasi yang merupakan jantung dari kehidupan dan keberlanjutan koperasi termasuk Kopdit Sinar Harapan.
Pendidikan anggota dilakukan secara terus-menerus untuk menumbuhkan literasi kehidupan, membangun kecakapan hidup agar tidak terjebak dalam lingkaran maupun pinjol.
Mikael Djawa mengatakan, filosofi koperasi kredit yaitu “Kau Susah Saya Bantu dan Saya Susah Kau Bantu” harus ditanamkan secara baik ketika hendak dan telah menjadi anggota.
Menumbuhkan kesadaran berkoperasi yakni simpan teratur setiap bulannya, pinjam bijaksana serta angsur tepat waktu.
“Sehingga peran fungsionaris Kopdit Sinar Harapan diharapkan menjadi pemimpin perubahan yang senantiasa memperkuat budaya mencintai perubahan dengan melakukan pembelajaran berkelanjutan.”
Mikael Djawa mengatakan, Kopdit Sinar Harapan telah memiliki kantor cabang tersebar di wilayah Flores dan Sumba. Maka perlu membangun platform teknologi digital yang dapat mempermudah ekosistem data simpan pinjam, dashboard sistem pengendalian internal serta inovasi pendidikan berbasis digital.
Divisi IT perlu diperkuat dengan berbagai infrastrukturnya termasuk kesiapan kualitas sumber daya manusia, katanya.
Mikael Djawa mengatakan pada posisi Desember 2025 memiliki 28.114 anggota dan aset Rp 198,9 Miliar. Posisi ini menempatkan Kopdit Sinar Harapan pada posisi kedua setelah Kopdit Sangosay di tingkat Puskopdit Flores Mandiri.
Dan di tingkat Propinsi Tenggara Timur dari jumlah anggota menempati urutan ketujuh dan dari segi aset menempati urutan kesembilan dari 136 Kopdit dan tersebar di 5 Puskopdit.
Diungkapkannya juga bahwa Kopdit Sinar Harapan Malapedho merupakan salah satu penyangga utama Puskopdit Flores Mandiri.
Pihaknya menyampaikan terima kasih atas dukungan, komitmen dan konsistensi Kopdit Sinar Harapan dalam satu jejaring yang kuat dan solid guna sama-sama membangun perekonomian masyarakat.
Orang Kecil dan Sederhana
Sementara Marianus Sae anggota Kopdit Sinar Harapan Cabang Labuan Bajo kepada Florespos.net, pada kesempatan yang sama mengatakan dirinya memilih bergabung karena dari awal berdiri sampai saat ini anggotanya adalah orang-orang kecil yang terpanggil untuk terhimpun dalam sebuah lembaga keuangan yang muncul dari desa dan berkembang pesat.
Begitu pula dengan fungsionaris Kopdit terdiri dari orang-orang sederhana yang terpanggil untuk selalu menyelamatkan sehingga dirinya terpanggil untuk masuk menjadi anggota.
Marianus Sae bilang, anggota yang awalnya terdiri dari para penjual kelapa, bercocok tanam ubi serta nelayan sederhana dapat membangun sebuah koperasi yang kini berkembang pesat menjadi sebuah lembaga keuangan di wilayah Selatan Kabupaten Ngada.
Mantan Bupati Ngada ini juga mengatakan kalau dulu dibangun dengan segala keterbatasan dan sekarang menjadi kuat.
Diharapkan tetap menjadi sebuah lembaga keuangan yang mampu membangkitkan perekonomian masyarakat dari waktu ke waktu.
Disinggung tentang ada kredit macet, kata Marianus Sae, salah satu masalah adalah situasi negara yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sebetulnya, menjadi beban bersama segenap stakeholder di mana anggaran dari pusat yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi kini terganggu.
Penguatan ekonomi kerakyatan dapat dilakukan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga lainnya sehingga perekonomian dapat bertumbuh, berkembang dan koperasi bisa berjalan.
Dengan situasi seperti ini menjadi keprihatinan semua pihak termasuk lembaga keuangan di mana pendekatan yang dilakukan kepada penunggak para kreditur macet dilakukan dengan lebih humanis dan memberikan ruang dalam memberdayakan mereka dapat berusaha lebih baik dan semangat.
“Saya melihat lebih pada situasi nasional yang membuat seluruh kehidupan dan nadi masyarakat sangat terganggu,” katanya.
Terkait rentenir ataupun koperasi harian dengan bunga tinggi, kata Marianus Sae, merupakan sebuah keprihatinan. Dia mendukung, kalau pemerintah menerbitkan keputusan atau peraturan yang melindungi masyarakat. *
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando










