MAUMERE, FLORESPOS.net-Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago tetap bersikukuh akan melakukan penutupan Pasar Wuring yang dikelola CV.Bengkunis Jaya dan Pasar PNPM di lokasi yang berdekatan di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat.
Rencana penutupan aktivitas Pasar Wuring dan Pasar PNPM di Kabupaten Sikka tersebut direncanakan akan dilaksanakan hari ini, Selasa (9/12/2025) meski mendapat penolakan dari pedagang.
Penegasan ini kembali disampaikan Bupati Sikka di hadapan puluhan pedagang yang menolak penutupan pasar Wuring dalam dialog yang digelar di Kantor Bupati Sikka, Senin, (8/12/2025).
“Besok (hari ini) kami tutup. Bapak mama mau ikut pemerintah, biarkan pemerintah yang mengatur. Jadi besok kami tutup, bapak mama mau datang tidur di sini (kantor bupati) silakan,” tegas Juventus.
Juventus mengatakan, keputusan pemerintah dilaksanakan untuk menindaklanjuti keputusan kasasi Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan bahwa Pasar Wuring, yang dikelola oleh CV Bengkunis Jaya, merupakan pasar ilegal.
Bupati Sikka berdalih, penutupan ini dilakukan semata-mata demi kepentingan dan kebaikan kolektif seluruh warga Kabupaten Sikka.
Meskipun demikian, ia menyatakan pemerintah tetap membuka diri terhadap masukan dan aspirasi para pedagang untuk proses perbaikan ke depan, khususnya terkait relokasi.
“Usul saran, keluh kesah bapak dan mama, kami terima untuk pembenahan Pasar Alok lebih baik di depan,” ucapnya.
Pernyataan tegas Bupati tersebut segera disambut dengan protes keras dan kekecewaan mendalam dari para pedagang.
Fokus utama keluhan mereka adalah kondisi Pasar Alok, lokasi relokasi yang ditetapkan pemerintah, yang dinilai tidak layak dan tidak mendukung aktivitas niaga mereka.
Para pedagang menyoroti kondisi fisik Pasar Alok yang minim penerangan dan dianggap tidak representatif untuk berdagang.
Ida salah seorang pedagang mengungkapkan, di Pasar Alok mereka yang menjual eceran harus bersaing langsung dengan pedagang partai besar atau grosir sehingga membuat dagangan mereka sulit terjual.
Dirinya juga mengungkapkan kekhawatiran serius terkait keamanan saat harus berdagang hingga malam hari dan risiko perampokan dalam perjalanan pulang.
Ia menegaskan, hasil berjualan di Pasar Wuring adalah sumber utama pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dan, yang terpenting, biaya pendidikan tinggi anak-anak mereka.
“Hasil jualan di pasar tersebut adalah sumber utama biaya pendidikan tinggi anak saya yang kini menempuh kuliah tahun pertama di Universitas Nusa Nipa,” ucap Ida.
Ida dan para pedagang berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dapat mengambil kebijakan yang lebih bijak dan mempertimbangkan kembali nasib mereka sebelum secara definitif menutup pasar yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










