Penutupan Program di Flores Timur, Childfund Indonesia dan Yayasan FREN Harap Praktek Baik Terus Berkelanjutan - FloresPos Net

Penutupan Program di Flores Timur, Childfund Indonesia dan Yayasan FREN Harap Praktek Baik Terus Berkelanjutan

- Jurnalis

Kamis, 26 Juni 2025 - 08:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Childfund Internasional di Indonesia dan Yayasan FREN resmi menutup kemitraan pelaksanaan dan pendampingan program selama 37 tahun di wilayah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara resmi penutupan program dengan tajuk Perayaan Kemandirian “Merajut Perubahan, Menyerahkan Estafet” dimaksud berlangsung di aula Bruder Niko FICP Biara La Mennais-Weri, Larantuka, Rabu (25/6/2025.

Koordinator Progam Kemitraan Yayasan FREN, Maria M. Palapadi menjelaskan, Childfund Internasional di Indonesia dan Yayasan FREN sejatinya masuk wilayah Kabupaten Flores Timur sejak tahun 1989 di Kecamatan Ile Mandiri, tepatnya di Desa Riangkemie.

Dalam perjalanan, pada tahun 2000, Childfund dan Yayasan FREN masuk pada sejumlah desa di Kecamatan Adonara Barat, Kecamatan Wotan Ulumado, Kecamatan Solor Timur dan Kecamatan Solor Selatan.

Maria Palapadi menjelaskan berbagai latarbelakang hingga Childfund International di Indonesia dan Yayasan FREN masuk di Flores, khususnya Kabupaten Flores Timur.

Menurut dia, latar belakang sehingga Childfund dan Yayasan FREN melakukan intervensi, yakni, tingginya angka putus sekolah di pendidikan dasar dan menengah; tingginya gizi buruk, rendahnya kesadaran dan praktik perilaku hidup bersih dan sehat.

Baca Juga :  BMK Kemendikbudristek Dukung Festival Genang Era Leworok

Keterbatasan akses terhadap air bersih, khususnya di daerah pedesaan, minimnya layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) pada sebagian besar wilayah; semakin marak kasus kekerasan terhadap anak, baik yang terjadi dalam lingkungan keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat secara umum.

Kata Maria Palapadi, dari latar belakang itu, Yayasan FREN dan Childfund masuk melalui sejumlah phase. Pertama, membangun hubungan baik dan mobilisasi masyarakat, identifikasi pihak-pihak terkait untuk pelaksanaan program.

Phase kedua, mobilisasi masyarakat dan mereka diharapkan bisa berpartisipasi. Phase ketiga, pemberdayaan masyarakat. Fase empat program sudah bisa diserahterimakan ke pihak desa dan phase kelima serahterima atau pengalihan kemandirian 100 persen.

“Selama berada kami masuk di tahapan hidup anak terutama pengasuhan dan lembaga pendidikan PAUD. Pola komunikasi, pelatihan-pelatihan, literasi keuangan, melatih menabung, responsif terhadap bencana, penguatan melalui forum anak, dan lainnya,” katanya.

Maria Palapadi mengharapkan model pendampingan dan pemberdayaan serta cara-cara kerja yang selama ini diterima dari Childfund dan Yayasan FREN dapat terus berkelanjutan tidak hanya dari individu, pemerintah desa tapi juga pemerintah daerah meski tidak ada lagi pendampingan.

Baca Juga :  Lentera Pancasila di Ujung Timur Nusantara

“Kami tentu punya harapan agar isu-isu dan program-program tersebut bisa telah menjadi dasar pijakan dalam merancang dan melaksanakan berbagai program transformasi sosial yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak secara holistik. Praktek baik ini dapat terus berkelanjutan,” katanya.

Selain itu, kata Maria Palapadi, juga agar program pendampingan dan pelayanan itu bisa terus ada dan bisa ada peraturan desa tetang perlindungan anak, pengurangan resiko bencana serta pemda mengoptimalkan fasilitator dalam pelaksanaan program-program.

“Kami mendorong dan harapkan agar keberlanjutan program dapat diambil alih oleh Pemda, Pemdes, dan pihak lain melalui kebijakan lokal, integrasi ke dalam RPJMD maupun RKPDes, serta pendanaan desa dan kemitraan multisektor,” tutup Maria Palapadi.

Perayaan Kemandirian “Merajut Perubahan, Menyerahkan Estafet” dihadiri para pemangku kepentingan baik Pemda, Pemdes, maupun pihak-pihak terkait lain. Hadir juga anak-anak pendampingan Childfund dan Yayasan FREN dari semua desa di Flores Timur. *

Penulis : Wentho Eliando

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton
Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat
Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU
Reses di Ende, Oktovianus Moa Mesi Serahkan Hand Traktor Bantuan Julie Laiskodat ke Petani
Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi
STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0
Patris Lali Wolo Sebut Anggaran Jembatan Pomakeke Aeramo Sudah Ada, Tapi Tidak Dieksekusi Pemprov NTT
Cegah Bullying dan Judol, Tim Polres Ende Sosialisasi di SMAN 1 Ende
Berita ini 120 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:15 WITA

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:11 WITA

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:57 WITA

Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:16 WITA

Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WITA

STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA