Mengenal Kebun Adat Etnis Tana Ai di Sikka - FloresPos Net

Mengenal Kebun Adat Etnis Tana Ai di Sikka

- Jurnalis

Minggu, 16 Februari 2025 - 20:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebun Adat di Kampung Wairbou, Desa Watuomok, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT. (FOTO: EBED DE ROSARY)

Kebun Adat di Kampung Wairbou, Desa Watuomok, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT. (FOTO: EBED DE ROSARY)

MAUMERE, FLORESPOS.net-Bagi etnis Tana Ai, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kebun adat biasanya kebun atau lahan pertanian yang sudah lama dibiarkan dan tidak ditanami padi, beda dengan kebun biasa yang sering ditanami padi dan jagung saban tahun.

Bisa juga membuka kebun baru di lahan yang tidak pernah ditanami padi atau jagung sehingga harus dibuat adat terlebih dahulu.

“Di kebun adat, segala proses mulai dari pembukaan lahan hingga panen harus melalui tahapan ritual adat,” sebut Henderikus Hiong, Pemangku Adat Suku Soge, Rabu (22/2/22025).

Hiong yang berdiam di Kampung Wailoke, Desa Udek Duen, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka ini mengakui, bagi etnis Tana Ai Muhang, biasanya sebelum membuka kebun pemangku adat akan melihat lokasi dahulu.

Baca Juga :  Ivan Aksi Damai Tumpuk Tiga Kubik Batu di Pintu Masuk DPRD Sikka, Suarakan Berbagai Tuntutan

Dia menyebut, bila dianggap di areal kebun terdapat Nitu (roh, arwah orang meninggal) yang berdiam di pepohonan besar maka harus dibuat ritual awal dahulu sebelum kebun dibuka.

Nitu harus dipindahkan terlebih dahulu lewat ritual adat ke tempat lain. Ritual ini wajib dilakukan,” ungkapnya.

Di kebun adat, tegas Hiong, selama 3 tahun proses tanam hingga panen harus dibuat ritual adat oleh pemangku adat yang mempunyai kewenangan untuk melakukan ritual.

Baca Juga :  Wabup Berni Dhey: WNF 2025 Momentum Strategis Perkuat Jatidiri Masyarakat Ngada

Mulai Menanam

Ritual membuka kebun baru berawal saat Opi atau menebang pohon dan membersihkan lahan diawali dengan memindahkan dahulu Nitu (roh, arwah orang meninggal) yang dipercaya berdiam di pohon-pohon besar.

Ritual ini sebut Rafael Raga, pendiri Yayasan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat untuk Pengembangan Wilayah Tana Ai (YLPM-BANGWITA ), biasa dilakukan terutama membuka kebun baru di areal hutan.

“Biasanya di areal tersebut banyak terdapat pepohonan besar dan tanah tersebut tidak pernah atau lama sekali tidak ditanami padi dan jagung,” ucapnya.

Penulis : Ebed de Rosary (Kontributor)

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Posko Tanggap Darurat Pemkab Ende Mesti Aktif Up Date Data Dampak Gempa dan Penanganan ke Publik
Wapres Gibran Bermalam di Lepo Bispu, Istana Keuskupan Maumere Usai Tinjau Sejumlah Lokasi Terdampak Gempa
Ikut Rombongan Wapres Gibran, Enam Mahasiswa Psikolog UI Akan Bertugas di Maumere Selama Seminggu
Wapres Gibran Meninjau Dua Gereja Terdampak Gempa Flores di Maumere
Peduli Korban Gempa, Setelah Aksi Donor Darah Partai Golkar Keliling Bagi Barang Kebutuhan Pokok
PAD Perubahan Manggarai Barat 2026 Dirancang Naik Rp23 Miliar
Dampak Gempa Flores, Tim SAR Gabungan Akselerasi Evakuasi Medis dan Penyisiran
Wabup Domi Imbau Pedagang di Ende Tidak Naikkan Harga dan Timbun Barang di Tengah Situasi Bencana
Berita ini 476 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:16 WITA

Posko Tanggap Darurat Pemkab Ende Mesti Aktif Up Date Data Dampak Gempa dan Penanganan ke Publik

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:32 WITA

Wapres Gibran Bermalam di Lepo Bispu, Istana Keuskupan Maumere Usai Tinjau Sejumlah Lokasi Terdampak Gempa

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:45 WITA

Ikut Rombongan Wapres Gibran, Enam Mahasiswa Psikolog UI Akan Bertugas di Maumere Selama Seminggu

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:36 WITA

Wapres Gibran Meninjau Dua Gereja Terdampak Gempa Flores di Maumere

Kamis, 20 Agustus 2026 - 19:13 WITA

Peduli Korban Gempa, Setelah Aksi Donor Darah Partai Golkar Keliling Bagi Barang Kebutuhan Pokok

Berita Terbaru