MAUMERE, FLORESPOS.net-Rumah kecil berukuran 2×4 meter persegi terletak di pinggir Jalan Strategis Nasional Pantai Utara Flores, NTT, tampak reyot. Tiang penopang dan dinding bambu sudah rapuh. Lantai tanah dan atap seng sudah rusak.
Selama ini, rumah reyot ini menjadi tempat tinggal Heribertus Tegu (65) dan Maria Wonga (65), warga Dusun Koro, Desa Reroroja, Kabupaten Sikka. Rumah reyot pasangan suami istri (Pasutri), ini persis berbatasan langsung dengan Kecamatan Kota Baru wilayah Kabupaten Ende.
“Selama ini kami tinggal di rumah ini. Sekitar 10 tahun. Kami numpang di tanah keluarga,” ungkap Maria Wonga dikediamannya, Kamis (10/10/2024) siang.
Maria Wonga saat itu sedang memasak air panas di rumah yang selama10 tahunan itu menjadi tempat keduanya berlindung dari terik matahari dan hujan.
Keduanya membangun satu bale-bale (belahan bambu) untuk tempat tidur ditemani selimuti kelambu kusam berwarna biru agar tidak digigit nyamuk malaria.
“Saat malam hari, kami kadang pakai lampu pelita, kalau listrik tidak dinyalakan dari rumah tetangga,” kata Maria Wonga diamini sang suami Heribertus Tegu.
Sehari-hari, untuk bertahan hidup, Heribertus Tegu dan Maria Wonga, terpaksa harus menjadi buruh tani di lahan persawahan milik orang dengan upah yang jauh dari harapan agar bisa makan dan minum.
Maria Wonga bilang, berbagai macam bantuan sosial yang diluncurkan Pemerintah Pusat seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun bantuan non tunai, PKH, perumahaan yang layak huni maupun BPJS belum pernah mereka terima atau dapat.
“Hanya saat Covid, kami dapat dari Dinas Sosial berupa beras, mie dan telur. Setelahnya, kami tidak pernah terima atau dapat bantuan,” tutup.
Kesenjangan sosial ini masih saja ada. Hal ini bisa menjadi perhatian para pemimpin dan calon pemimpin di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur-Wakil Gubernur NTT dan Bupati-Wakil Bupati Sikka. *
Penulis : Shinto Koban (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando










