“Jika Anda ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendirian, tetapi jika ingin berjalan lebih jauh, maka berjalanlah bersama orang lain.”…Pepatah Ubuntu, Afrika.
“Seperti halnya kaca spion, kita gunakan untuk melihat ke belakang hanya agar berhati-hati dalam melanjutkan perjalanan ke depan.”
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk
“Tempora mutantur, et nos mutamur in illis”, yang artinya waktu berubah dan kita berubah di dalamnya, adalah sebuah diktum yang benar untuk direnungkan, bahwa hidup kita manusia berada dalam kitaran waktu, ada awal (alfa) dan pasti ada akhir (omega), dan kita bisa menamakannya ziarah hidup.
Kita manusia yang hidup di dunia ini, memang di sebut sebaagai makhluk peziarah atau homo viator adalah istilah yang diperkenalkan oleh filsuf Eksistensialisme Kristen Prancis, Gabril Marcel dalam buku yang berjudul sama Homo Viator: Introduction to a Metaphysic of Hope.
Istilah ini mengacu pada konsep yang sudah ada sejak dulu, dalam tradisi pagan, yang menganggap bahwa kehidupan mulai dari kelahiran hingga kematian sebagai sebuah perjalanan atas pembelajaran, proses memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan, atau dalam tradisi kristen perjalanan menuju pengampunan. Ziarah di sini berarti ‘perjalanan’ dalam hidup dari lahir hingga mati.
Dari tema yang diangkat, saya merenungkannya bahwa tema itu memiliki dua makna yang tersembunyi, yakni pertama: menunjuk pada waktu sekarang (present) dan yang kedua: menunjuk pada waktu yang akan datang (future).
Dua hal inilah yang akan saya share kan pada tulisan ini. Apalagi, tema ini sangat pas dengan akan berakhirnya tahun 2023, dan kita akan menyambut tahun baru 2024.
Dan akan ada banyak tembang kenangan, ada banyak ucapan kenangan atau perpisahan dan kaleidoskop, khususnya kaleidoskop peristiwa setahun, yang biasanya akan menghiasi dan mewarnai akhir dari sebuah perjalanan waktu.
Secara etimologi kata “Kaleidoskop” berasal dari bahasa Yunani kuno “kalos” yang berarti indah, lalu “eidos yang berarti bentuk, dan “skopeō” yang berarti melihat”.
Brewster membuat kaleidoskop pertama dengan bentuk tabung, dengan cara meletakkan sepasang piringan tembus cahaya di satu ujung tabung dan sepasang cermin di ujung lainnya.
Dari etimologi diatas, maka kaleidoskop adalah beberapa peristiwa yang terjadi di suatu tahun, dan disajikan dengan padat dan singkat.
Kata ini sangat populer digunakan setiap akhir tahun dalam beberapa acara kilas balik peristiwa setahun di beberapa stasiun televisi. Namun, tidak hanya menyajikan ringkasan kejadian selama satu tahun terakhir.
Kaleidoskop juga berfungsi sebagai refleksi kilas balik. Kaleidoskop muncul untuk mencoba mengevaluasi diri dengan harapan pada tahun selanjutnya menjadi titik awal dan semangat baru.
Refleksi tersebut akan dimulai dengan menanyakan, beberapa hal berikut:
apa saja yang sudah dilakukan selama setahun belakangan?
apa keberhasilan dan kegagalannnya?
berapa banyak perbuatan baik yang telah kita lakukan selama setahun?
Apa harapan baru atau target ditahun yang baru?
Apa yang perlu di perbaiki di tahun baru?
Apakah kita sudah berubah menjadi manusia baru?
Sudah berapa kali kita memaafkan sesama?
Adakah kita ingin menjatuhkan sesama atau mengasihinya?
Inilah sejumlah pertanyaan refleksi untuk kita renungkan, dan kita bisa membuat pertanyaan refleksi sendiri sebagai evaluasi diri.
Present (waktu sekarang).
Present memiliki dua makna: pertama: waktu sekarang, dan kedua: hadiah. Dalam kaitan dengan tema, maka dipenghujung sebuah perjalanan, bisa bermakna bahwa kita sebagai makhluk peziarah (homo viator) yang ada dalam kitaran waktu, kita akan mengakhiri peziarahan kita untuk 1 tahun di tahun 2023.
Tentunya, selama sepanjang tahun 2023 ada banyak hal yang telah kita lakukan dan telah kita alami. Ada banyak kisah, baik yang menggembirakan, dan yang menyedihkan.
Ada banyak perasaan yang silih berganti, baik perasaan yang menyenangkan, perasaan damai, bahagia pun perasaan benci, kuatir, cemas, sakit hati, kecewa dan galau. Ada banyak keberhasilan, pun pula kegagalan. Ada banyak pergulatan dan pergumulan, ada banyak peristiwa yang turut mewarnai dan menghiasi peziarahan kita.
Inilah kaleidoskop kehidupan kita. Dan sebagai insan yang beriman, tentunyadibalik semua yang terjadi, dibalik semua peristiwa dan pengalaman, pasti ada hikmah, pasti ada makna dan pesan.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tetapi ketahuilah, bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, tawa disetiap air mata, berkat disetiap cobaan, dan jawaban dari aetiap doa.
Oleh karena itu, penting bagi kita bahwa kita bukanlah seperti seorang musafir yang hanya berkelana tanpa tujuan, melainkan kita adalah seorang peziarah menuju tanah terjanji.
Untuk itu, sebagai seorang peziarah sangat penting untuk merefleksikan makna kehidupan ini. Kata socrates: “hidup yang tidak pernah direfleksikan tidak layak untuk dihidupi”.
Dan hanya dengan melakukan refleksi, maka kita bisa memaknai hitam dan putihnya kehidupan kita. Namun, yang perlu disadari pula bahwasannya kita tidak hanya berhenti pada sebuah refleksi, melainkan refleksi harus berbuah dan berubah dalam diri dan hidup kita.
Maka dari itu, dipenghujung sebuah perjalanan hanya akan bermakna, manakala kita mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan tapak – tapak peziarahan kita.
Dan jikalau tidak ada refleksi, maka kita hanya berziarah, seperti seorang musafir yang berkelana, sampai dipenghujung sebuah perjalanan, namun tanpa makna.
Oleh karena itu, dipenghujung sebuah perjalanan harusnya: ada asa, ada prospek dan ekspektasi, sebagai bekal untuk peziarahan selanjutnya. Dan jika kita masih akan terus melangkah dalam peziarahan hidup sampai tahun 2024, itu adalah sebuah hadiah dari Tuhan (a present from God).
Oleh karena itu, isi dan hiasilah peziarahan dengan hal hal yang bermakna. Dan jangan pernah biarkan peziarahan kita berlalu begitu saja, tanpa makna.
Di eja lebih jauh, bahwa dipenghujung sebuah perjalanan, bisa jadi ada persimpanngan jalan. Untuk itu, dibutuhkan sebuah discernment, untuk memilih jalan yang terbaik, yang harus di lalui.
Sebab, jika kita salah memilih jalan, maka bisa terjadi kita akan tersesat. Dan jika kita tersesat, maka kita tidak akan pernah sampai pada tanah terjanji…Lirik Lagu Janjimu Seperti Fajar – Nikita, barangkali bisa memberi jawaban: “ketika kuhadapi kehidupan ini; Jalan mana yang harus kupilih; Ku tahu ku tak mampu; Ku tahu ku tak sanggup; Hanya kau Tuhan tempat jawabanku. Dan Yesus menjawab: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”…(Yohanes 14: 6).
Itu artinya, kita memang homo viator, tetapi kita harus menyadari bahwa kita berjalan bersama Tuhan, Sang Pemilik waktu (Dominus Temporis).
Future (waktu yang akan datang)
Hidup kita tidak akan pernah berakhir di dunia ini. Bahwa kehidupan kita di dunia ini merupakan persiapan untuk kehidupann berikutnya, yakni kehidupan yang abadi. Atau dengan lain kata, bahwa hidup kita di dunia ini sifatnya hanya sementara saja.
Rasul Paulus dalam suratnya, 2 Korintus 5:1, berkata: “karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.
Oleh karena itu, dipenghujung sebuah perjalanan bisa bermakna bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir, namun masih ada kehidupan berikutnya, yakni kehidupan eskatologi. Jika demikian, maka kehidupan yang akan datang itu, sangat ditentukan oleh peziarahan hidup kita saat ini.
Ingat hidup kita di awali dengan huruf B (Birth: kelahiran) dan diakhiri dengan huruf D (Death: kematian), namun di tengahnya ada huruf C (Chance : kesempatan). Kesempatan ini, tentu saja kesempatan untuk bermain peran, sesuai dengan peran yang diberikan, sesuai dengan kompetensi, keterampilan dan bakat.
Kesempatan bisa juga berarti peluang untuk kita mengekspresikan potensi yang kita miliki, juga kesempatan untuk mengeksplorasi diri. kita berbenah diri atau berubah (Changed) atau bertobat.
Kesempatan adalah hadiah waktu yang Tuhan berikan kepada kita, untuk menjadi manusia baru, yang memiliki hati dan budi yang baru, dan juga memiliki harapan hsarapan atau target target target yang baru di tahun baru 2024, sekaligus sebagai persiapan waktu parousia, yang tidak akan pernah kita tahu di waktu yang akan datang (future).
Maka, sangat bijak bila kita memakai waktu yang Tuhan berikan kepada kita, untuk melakukan hal hal yang positif, hal hal yang baik, untuk memperbaiki hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan sesama, hubungan dengan alam dan hubungan dengan Tuhan.
Oleh karena itu, kesempatan itu bisa merupakan saat rahmat, dan saat keselamatan bagi kita, ketika kesempatan itu di manfaatkan dengan baik, seefektif dan seefisien mungkin, karena kita tidak akan pernah tahu, apakah kita bisa benar benar sanpai di penghujung sebuah perjalanan?
Yang pasti dipenghujung sebuah perjalanan bisa bermakna akhir dari sebuah peziarahan hidup di dunia ini, akhir dari satu kurun waktu, atau pun etape, namun masih ada etape lanjutannya. Dan itulah waktu yang akan datang (future). Waktu yang akan datang, kita tidak akan pernah tahu. Itu adalah hak prerogatif Sang Pemilik Waktu (Dominus Tempus).
Dan oleh karena kita tidak akan akan pernah tahu, maka dipenghujung sebuah perjalanan, adalah baik untuk kita merefleksikan peziarahan kita, sebelum kita meneruskan etape selanjutnya.
Dipenghujung sebuah perjalanan, bisa jadi ada banyak persimpangan jalan, dan kita diharuskan untuk memilih.
Di penghujung sebuah perjalanan hanya ada satu kata, yakni CINTA: Cerita Indah Namun Trsgis Akhirnya. Kenapa tragis? Karena perjalanannya harus berakhir. Atau CINTA: Cerita Indah Nan tiada Akhir. Itu artinya ada banyak kisah indah yang akan terus di rajut sampai Tuhan menjemput kita.
Penutup
“Akhir dari perjalanan berarti awal untuk sesuatu yang lain.”
“Perjalanan yang tidak pernah selesai adalah perjalanan mencari jati diri, mencari siapa kita sesungguhnya, mencari apa maunya kita.”
Dipenghujung sebuah perjalanan adalah sebuah tema yang menhajak kita untuk merefleksikan peziarahan selama kurun waktu satu tahun 2023 atau juga untuk kehidupan di tahun baru 2024 atau saat parousia.
Bahwa hidup dan pengalaman kita di tahun 2023 akan menjadi nostalgia dan menjadi sebuah catatan historis.
Sedangkan di tahun 2024 kita akan membuka catatan atau lembaran baru, yang akan kita tulis atau goreskan untuk ziarah selama 1 tahun.
Dan yang kita tulis adalah pengalaman atau peristiwa nyata dalam sebuah kronik, yang kita impikan atau niatkan dipenghujung sebuah perjalanan atau diawal perjalanan berikutnya.
Dengan begitu, kita akan melihat apakah yang kita impikan atau niatkan itu, sungguh menjadi sebuah kenyataan, sekaligus asa serta prospek atau hanya sebatas mimpi.
Dan agar tidak hanya menjadi sebuah mimpi, maka kita harus bangun dari tidur kita, untuk meraih atau mewujudkan mimpi di tahun 2024.
Sedangkan tahun yang akan datang adalah sebuah misteri, dan merupakan saat parousia, yang tidak akan pernah kita tahu kapan saatnya.
Untuk itu, sebagai homo viator, maka kita juga perlu berjaga jaga, sambil berdoa, bersedekah, beramal kasih dan berpuasa sebagai suatu bentuk pertobatan yang tujannya adalah persatuan dengan Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.
Akhirnya, dipenghujung sebuah perjalanan, sepertinya tidak akan pernah selesai atau berakhir, namun hanya mungkin rehat sejenak untuk mengumpulkan energi dan menghirup angin segar yang baru.
Karena sejatinya:“perjalanan tidak akan pernah selesai, sebab kita akan terus dan terus berjalan untuk mencari jati diri, mencari siapa kita sesungguhnya, dan mencari apa maunya kita, serta mencari dan menyesuaikan dengan kehendak Tuhan atas hidup kita.
Bukan kehendakku, melainkan kehendakMu yang terjadi…”Carpe diem, quam minimum credula postero” yang berarti: “petiklah hari, dan percayalah sedikit mungkin hari esok”. Mari kita renungkan hidup kita (cogitemus vitam). *










