Kemarau Panjang, Produksi Ubi Kayu Nuabosi Ende Turun Drastis - FloresPos Net

Kemarau Panjang, Produksi Ubi Kayu Nuabosi Ende Turun Drastis

- Jurnalis

Kamis, 26 Oktober 2023 - 14:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ENDE, FLORESPOS.net-Cuaca panas yang ekstrim dan kemarau panjang yang melanda Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi NTT sangat dirasakan petani.

Petani mulai mengeluh karena sebagian besar tanaman dan sawah mereka sudah mengalami gagal panen. Hal ini pun dirasakan petani ubi kayu di Desa Detundora 2, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, NTT.

Petani ubi kayu di dataran Nuabosi Ende ini mulai mengeluh karena produksi ubi kayu yang menjadi komoditas unggulan dan sumber penghasilan utama di wilayah itu menurun drastis.

Kepala Desa Detundora 2, Adrianus Renga menyampaikan kondisi ini sudah dialami para petani sejak September 2023.

Baca Juga :  Diduga Tilep Dana Sertifikasi Guru, Jaksa Tahan Mantan Kadis dan Operator Dinas PKO Sikka

Dia mengatakan produksi ubi kayu milik petani di desa Detundora 2 dan sekitarnya sangat menurun dari sebelumnya karena dampak dari kemarau panjang.

“Sekarang kita lihat dijual di pasar itu sisa dari musim tanam kemarin dan hasilnya sangat kurang,” kata Adrianus dihubungi Florespos.net, Kamis (26/10/2023).

Untuk memanen ubi yang ditanam pada musim tanam lalu, kata dia, petani harus membutuhkan air untuk disiram di pohon ubi agar bisa dicabut.

“Kalau mau cabut yang ada sekarang kita harus siram air di pohon dulu agar bisa cabut karena tanahnya sudah kering,” katanya.

Adrianus juga mengatakan, saat ini seharusnya sudah musim panen namun karena kemarau panjang maka petani belum bisa masuk kebun untuk tanam.

Baca Juga :  Sudah Sebulan Akses Menuju 7 Desa di Ndona Timur Lumpuh

Kata dia, ubi kayu adalah komoditas unggulan bagi petani di wilayah itu dan sebagian besar petani sudah menggantungkan hidup pada komoditas ini. Saat ini petani sangat merasakan dampak secara ekonomi.

Dia mengharapakan agar pemerintah memberikan bantuan pangan kepada petani untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang dialami.

“Mereka bersandar hidup pada komoditas ini maka di saat produksi menurun dampak ekonomi sangat dirasakan petani. Kami harap ada bantuan pangan kepada masyarakat untuk atasi kebutuhan makan minum,” kata Adrianus.*

Penulis: Willy Aran / Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Pemda Nagekeo dan BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Kematian Rp42 Juta untuk Ahli Waris Sekdes Degalea
Sekolah Rakyat di Nagekeo Senilai Rp250 Miliar, Sekjen Kemensos: Lokasi Sangat Bagus
Meski Efisiensi Anggaran, Pemda Sikka Tetap Berusaha Penuhi Berbagai Program Prioritas
Kolaborasi Divers Alert Network, Kemenpar dan BPOLBF Perkuat SDM Keselamatan Wisata Bahari di Labuan Bajo
Sekjen Kemensos di Nagekeo: Sekolah Rakyat untuk Kemuliaan Wong Cilik, NTT Masuk 7 Besar Anak Putus Sekolah
Pemda Nagekeo Siapkan Lahan 8,1 Hektar untuk Sekolah Rakyat, Sekjen Kemensos: Segera Dibangun
Kemensos Salurkan Bantuan Rp308 Juta di Nagekeo, 30 Anak Terima Bantuan ATENSI
Sekjen Kemensos Tatap Muka dan Dialog di Nagekeo: ‘Negara Benar-Benar Hadir’
Berita ini 115 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 19:56 WITA

Pemda Nagekeo dan BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Kematian Rp42 Juta untuk Ahli Waris Sekdes Degalea

Jumat, 17 April 2026 - 19:51 WITA

Sekolah Rakyat di Nagekeo Senilai Rp250 Miliar, Sekjen Kemensos: Lokasi Sangat Bagus

Jumat, 17 April 2026 - 19:37 WITA

Meski Efisiensi Anggaran, Pemda Sikka Tetap Berusaha Penuhi Berbagai Program Prioritas

Jumat, 17 April 2026 - 19:21 WITA

Kolaborasi Divers Alert Network, Kemenpar dan BPOLBF Perkuat SDM Keselamatan Wisata Bahari di Labuan Bajo

Jumat, 17 April 2026 - 16:12 WITA

Sekjen Kemensos di Nagekeo: Sekolah Rakyat untuk Kemuliaan Wong Cilik, NTT Masuk 7 Besar Anak Putus Sekolah

Berita Terbaru