LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Bank Dunia tertarik dengan aneka karya tangan para Kelompok Tani Hutan (KTH) di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), NTT karena sebagian besar prodaknya serba alami/hasil hutan.
KTH binaan/dampingan pihak Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Mabar. KPH adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kehutanan Provinsi NTT.
Kepala KPH Mabar, Stefanus Nali, mengatakan, untuk sementara pihak Bank Dunia masih sebatas diskusi dengan KPH terkait hasil karya tangan para KTH di daerah itu.
Mereka kagum dan tertarik karena semua berbahan baku alam, seperti kayu, bambu dan aneka bahan alam lainnya.
“Mungkin sebentar mereka diskusi lagi dengan kita soal ini,” ungkap Nali kepada Florespos.net di Labuan Bajo, Selasa (24/ 10/2023).
Diterangkan Nali, karya tangan para KTH tersebut di antaranya berupa termos bambu, vas bunga, pipet bambu, dan sachet kopi.
Termos bambu untuk isi air dingin. Airnya bertahan dalam bambu tersebut sekitar 3 hari. Setelah itu airnya ganti/isi ulang, termosnya tetap. Vas bunga, vas dari bambu atau kayu tapi diisi bunga plastik.
Khusus pipet bahan bakunya bambu tamiang. Yang diambil jadi pipet yakni yang ukuran jari kelingking orang dewasa atau anak-anak, panjang sekitar jengkalan anak-anak atau dewasa.
Bambu ini sangat tipis dan banyak tumbuh liar di Mabar sampai sekarang. Kemudian dari bambu yang sama, juga dibuat sachet kopi. Besarnya sekitar ibu jari kaki orang dewasa, panjang lebih kurang 1 jengkal.
Dalam bambu tersebut diisi kopi bubuk yang sudah dibungkus daun pisang kering, juga ada gulanya. Itu bertahan lama. Takaran 1 sachet untuk 1 x putar minum.
Produk kopi sachet tersebut taruh dalam 1 wadah/kotak dari kayu. Isi 1 kotak/wadah sekitar belasan sachet. Dijual per kotak/wadah.
“Kalau semua karya tangan berbahan baku alam ini rusak dan dibuang, tidak akan merusak lingkung, sebaliknya menyuburkan tanah,” ujar Nali.
Menurut Nali, KTH dampingan/binaan instansinya di Mabar sekarang antara lain 2 sachet bambu. Untuk kopi 3 kelompok berbasis wilayah, yaitu kopi Rego, Kuwus, dan kopi Ndoso.
Juga ada madu 7 klompok, 6 di Kecamatan Boleng dan 1 di Golo Mori Kecamatan Komodo. Ada pula gula puteng atau gula malang berbahan dasar aren sebanyak 2 kelompok.
Selain Bank Dunia, ada pula Perguruan Tinggi dari luar NTT yang tertarik dengan aneka karya tangan para KTH Mabar. Mereka datang ke kantor KPH Mabar di Labuan Bajo bicara tentang prodak yang serba dari alam tersebut.
Bahkan mereka merasa kagum dan menilai prodak langka, di dunia lain tidak mereka temui, seperti pipet dan sachet bambu isi kopi.
Kerja sama/permintaan pasar terhadap karya tangan para KTH Mabar juga belakangan kian ramai. Baik di Labuan Bajo maupun dari luar NTT.
Sehubungan dengan ini, lanjut Nali, keterlibataan KPH Mabar hanya sebatas motivator, vasilitator, edukasi, binaan/ dampingan. Yang menampung/mencari pasar/memasarkan karya tangan para KTH adalah Koperasi milik KPH.
Manakala ada yang butuh prodak para KTH tersebut, KPH tinggal sampaikan kepada mereka. Nanti mereka datang bawah prodaknya ke Koperasi dan ambil uangnya di koperasi, ujar Nali.
Selain hal-hal tadi, lanjut Nali, sejauh ini KPH Mabar juga mendampingi kelompok kuliner di kawasan Hutan Wae Bobok, Sano Limbung dan dan lain-lain di Mabar, termasuk dampingan pembuatan kalung/gelang dari biji genitri, yang bahan bakunya banyak terbuang di hutan Mabar.
“Masyarakat yang kami bina, damping ini tetap kami sebut kelompok tani hutan atau KTH. Kalau di luar sebut UKM atau UMKM tidak apa- apa. Intinya semua untuk tujuan yang sama, masyarakat sejahtera, hutan lestari,” ujar Nali. *
Penulis: Andre Durung / Editor: Wentho Eliando










