Menjahit Kreativitas, Mengatasi Krisis Pangan dengan Berpijak pada Ensiklik Caritas In Veritate - FloresPos Net

Menjahit Kreativitas, Mengatasi Krisis Pangan dengan Berpijak pada Ensiklik Caritas In Veritate

- Jurnalis

Kamis, 12 Oktober 2023 - 15:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sarina Daiman

PANGAN menjadi salah satu kebutuhan pokok keberlangsungan hidup manusia. Salah satu pangan yang menjadi sumber makanan manusia adalah beras.

Sungguh sangat malang jika persediaan beras menjadi berkurang, dan masyarakat menderita kelaparan.

Kemalangan ini sesungguhnya realita yang tengah dihadapi masyarakat saat ini, yakni terjadinya krisis pangan.

Krisis pangan saat ini menjadi persoalan yang hampir melanda seluruh wilayah di Indonesia, termasuk juga Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Krisis pangan ini ditandai dengan naiknya harga beras di semua wilayah NTT dan ini tentu menjadi salah satu penderitaan besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Krisis pangan yang dialami ini tentu tidak muncul tanpa ada sebab dibaliknya.

Krisis ini dipicu oleh berbagai faktor, antara lain Pertama, penuaan petani, petani yang ada di Indonesia saat ini masih didominasi oleh generasi x yang berusia 45-60 tahun, dan usia ini dikategorikan sebagai usia yang tidak produktif lagi untuk bekerja.

Kedua, faktor lingkungan yang ditunjukkan dengan kemarau berkepanjangan yang membuat para petani kesulitan mengairi sawah.

Selain itu kesuburan tanah yang semakin berkurang akibat banyaknya zat kimia yang disemprotkan ke dalam tanaman (padi) yang ditanam.

Ketiga, faktor peperangan, khususnya perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina yang berdampak pada degradasi ekonomi diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Keempat, tata kelola pemerintahan, dalam artian kebijakan pemerintah pertanian gampang diwacanakan namun sulit diimplementasikan.

Kelima, rendahnya kreatifitas serta lemahnya semangat kerja dari masyarakat.

Baca Juga :  SVD: Dari Logos Menuju ‘Filosof Praksis’

Seyogyanya, persoalan ini tidak hanya sebagai titik jeda dari usaha manusia, melainkan sebagai cambuk agar manusia sadar serta mulai bergerak.

Tentu dalam hal ini Gereja Katolik juga bergerak menanggapi krisis ini dengan berpijak pada ajaran sosial gereja.

Nah, salah satu ajaran sosial gereja Katolik yang bisa dijadikan sebagai pijakan dan petunjuk agar menjawabi permasalahan ini adalah ensiklik Caritas In Veritate.

Caritasin veritate dalam art. 27 menegaskan bahwa “kelaparan tidak berarti sangat tergantung pada kekurangan materi sumber daya alam tetapi pada sumber daya manusia dan sumber kelembagaan, persoalan kerawanan pangan perlu ditanggapi dalam perspektif jangka panjang dengan menghilangkan sebab-sebab structural yang menimbulkan persoalan tersebut dan dengan meningkatkan pengembangan pertanian di negara-negara miskin.

Hal ini dapat dilaksanakan dengan berinvestasi pada infrastruktur pedesaan, sistem irigasi, penyebarluasan teknologi dan memperkuat sumber daya manusia yang inovatif dan kreatif”.

Dengan berpijak pada bunyi Caritas in Veritate ini secara eksplisit mau memberikan jawaban agar masyarakat bisa keluar dari krisis pangan ini.

Hemat saya, dari Ensiklik Caritas In Veritate ditemukan jawaban untuk mengatasi krisis yang terjadi di NTT saat ini.

Bahwa pemerintah bukan hanya menyediakan sarana dan prasaran bidang pertanian tetapi yang paling penting adalah mendidik dan mendampingi para petani agar bukan hanya petani bekerja keras tetapi juga bekerja cerdas, dan mampu membaca peluang untuk bisa keluar dari krisis pagan ini.

Baca Juga :  Mungkinkah Demokrasi Deliberatif dalam Kasus RS Pratama Solor

Caritas in Veritate secara tegas menyuarakan bahwa perlunya memperkuat sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif.

Pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada fasilitas yang mereka butuhkan tetapi juga yang paling penting adalah berfokus untuk memperhatikan sumber daya manusia agar menjadi petani kreatif dan aktif.

Implementasi dari petani kreatif adalah petani bisa mencari jalan keluar lain untuk menangani krisis pangan dengan menanam kembali pangan lokal.

Hal ini memang sudah dilakukan oleh petani NTT seperti yang dilakukan petani di Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flotim, NTT yang menanam sorgum, jagung dan juga ubi untuk menanggulangi krisis beras.

Selain itu, perlu mengolah tanah pertanian dengan bijak dengan mengurangi zat kimia seperti pupuk pada tanaman, sehingga kesuburan tanah tetap terjaga.

Dengan begitu, lahan-lahan pertanian tetap subur, tidak kosong, sehingga mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan serta bisa menanggulangi krisis pangan saat ini.

Selain itu juga, Gereja Katolik juga perlu memberi kontribusi bukan hanya melalui kata-kata tetapi melalui tindakan konkret dengan berpijak pada Caritas in Veritate. Gereja perlu berjalan bersama petani untuk bisa keluar dari krisis ini.

Dengan demikian, semua ini bisa dilaksanakan ketika semangat kerja petani khususnya generasi muda tidak melemah dan diimbangi sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif juga disertai solidaritas kerjasama antara Gereja, pemerintah dan masyarakat. *

Penulis, adalah Mahasiswi STIPAS Ruteng, NTT

Berita Terkait

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 17:36 WITA

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Berita Terbaru