LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Warga tansmigrasi lokal (Translok) Nggorang, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) kecewa berat karena tanaman pertanian mereka terus dimakan ternak yang berkeliaran bebas di daerah itu.
Meski demikian, masyarakat Translok Nggorang tak berkutik di hadapan pemilik ternak. Mereka tidak berani protes kepada tuan- tuan yang punya hewan karena takut mati akibat diguna-gunai (disantet) atau rasung (racun) dalam bahasa setempat.
Nober Ludi, penduduk Translok Nggorang sampaikan itu kepada Florespos.net di Labuan Bajo, Senin (28/8/2023).
Menurut Ludi, pekerjaan pokok penduduk Translok Nggorang rata-rata petani, termasuk dirinya. Belakangan kendala terberat yang mereka hadapi di Translok terkait usaha di sektor pertanian adalah ternak berkeliaran, antara lain kambing dan sapi.
Segala isi kebun/ladang, sawah maupun pekarangan rumah warga setempat, ungkap Ludi, habis dimakan kambing-kambing dan sapi-sapi yang dilepas bebas di wilayah itu.
Apalagi pada musim kemarau sekarang, lanjut Ludi, rerumputan di wilayah itu kering kerontang. Sehingga isi kebun/ladang orang jadi sasaran, tanaman ubi, pisang, sayur dan lain-lain habis dimakan hewan ternak berkeliaran.
Sekuat apapun pagar yang warga buat, kata pria yang tinggi 2 meter kotor itu tetap dijeboli ternak- ternak tersebut, lebih-lebih sapi. Apabila roboh, warga perbaik atau buat lagi pagarnya. Tetapi kalau sudah dua tiga kali begitu terus pasti lelah juga, akhirnya putus asa, dan itulah yang dialam warga Translok Nggorang tertentu belakangan, termasuk dirinya.
“Saya punya (tanaman) ubi tatas, ubi kayu, pisang, habis semua dimakan kambing dan sapi-sapi,” kata Ludi.
Ludi yang tinggal di bilangan Blok A Translok Nggorang, nomor rumah 39, lebih jauh ungkapkan, sapi dan kambing tersebut diduga dari luar Blok A, pemiliknya bukan warga Blok A, karena semua sapi dan kambing milik warga Blok A dikandang/ diikat, tidak lepas bebas di alam liar, jumlahnya juga tidak banyak.
“Saya tau (tahu) itu. Tetangga- tetangga saya paling piara satu dua ekor saja. Ada kandangnya juga,” kata Ludi.
Terhadap ternak-ternak yang masih berkeliaran bebas tersebut, masyarakat korban tidak berani protes atau melapori pemerintah. Warga lebih memilih diam karena takut diguna-gunai pemilik ternak yang ternaknya dilepas liar itu. Soalnya takut mati diguna-gunai.
“Kita tidak berani protes. Paling ngomel sendiri kecil-kecil atau dalam hati saja. Rantang rasung, takut pemilik hewan mungkin guna-gunai kita. Kalau sudah begitu mati kita. Makanya lebih baik diam saja, ” ujar Ludi.
Diharapkan kepada pemerintah setempat supaya mengeluarkan aturan penertiban ternak, diikat/ dikandang. Yang langgar didenda. Dan kalau dimungkinkan petugas rutin lakukan patroli di Translok demi penertiban ternak-ternak setempat.
Beberapa waktu lalu pernah di lakukan itu, petugas rutin patroli. Hasilnya baik, ternak tidak dilepas bebas. Tanaman ubi, pisang, padi, sayur, aman. Hasilnya dijual dan warga dapat uang. Tapi sekarang itu tidak lagi karena alasan ternak berkeliaran tadi, keluh Ludi.
Wakil Bupati (Wabup) Mabar Yulianus Weng secara terpisah membenarkan.
“Ya, tidak hanya di Translok (Nggorang) saja, di tempat lain di Mabar juga begitu,” kata Wabup Weng.
Menurutnya, persoalan dimaksud mungkin Perda Mabar tentang penertiban ternak Perlu direvisi terkait sanksi terhadap pemilik ternak yang tidak kandang/ikat hewan piaraannya, kata Wabup Weng.*
Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus










