Warga Translok Nggorang Kecewa Terhadap Ternak Berkeliaran - FloresPos Net

Warga Translok Nggorang Kecewa Terhadap Ternak Berkeliaran

- Jurnalis

Selasa, 29 Agustus 2023 - 07:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Warga tansmigrasi lokal (Translok) Nggorang, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) kecewa berat karena tanaman pertanian mereka terus dimakan ternak yang berkeliaran bebas di daerah itu.

Meski demikian, masyarakat Translok Nggorang tak berkutik di hadapan pemilik ternak. Mereka tidak berani protes kepada tuan- tuan yang punya hewan karena takut mati akibat diguna-gunai (disantet)  atau rasung (racun) dalam bahasa setempat.

Nober Ludi, penduduk Translok Nggorang sampaikan itu kepada Florespos.net di Labuan Bajo, Senin (28/8/2023).

Menurut Ludi, pekerjaan pokok penduduk Translok Nggorang rata-rata petani, termasuk dirinya. Belakangan kendala terberat yang mereka hadapi di Translok terkait usaha di sektor pertanian adalah ternak berkeliaran, antara lain kambing dan sapi.

Segala isi kebun/ladang, sawah maupun pekarangan rumah warga  setempat, ungkap Ludi, habis dimakan kambing-kambing dan sapi-sapi  yang dilepas bebas di wilayah itu.

Apalagi pada musim kemarau sekarang, lanjut Ludi, rerumputan di wilayah itu kering kerontang. Sehingga isi kebun/ladang orang jadi sasaran, tanaman ubi, pisang,  sayur dan lain-lain habis dimakan hewan ternak berkeliaran.

Baca Juga :  Terungkap, Dugaan Manipulasi Data Pajak Hotel Terapung di Manggarai Barat

Sekuat apapun pagar yang warga buat, kata pria yang tinggi 2 meter kotor itu tetap dijeboli ternak- ternak tersebut, lebih-lebih sapi. Apabila roboh, warga perbaik atau buat lagi pagarnya. Tetapi kalau sudah dua tiga kali begitu terus pasti lelah juga, akhirnya putus asa, dan itulah yang dialam warga Translok Nggorang tertentu belakangan, termasuk dirinya.

“Saya punya (tanaman) ubi tatas, ubi kayu, pisang, habis semua dimakan kambing dan sapi-sapi,” kata Ludi.

Ludi yang tinggal di bilangan Blok A Translok Nggorang, nomor rumah 39, lebih jauh ungkapkan, sapi dan kambing tersebut diduga dari luar Blok A, pemiliknya bukan warga Blok A, karena semua sapi dan kambing milik warga Blok A dikandang/ diikat, tidak lepas bebas di alam liar, jumlahnya juga tidak banyak.

“Saya tau (tahu) itu. Tetangga- tetangga saya paling piara satu dua ekor saja. Ada kandangnya juga,” kata Ludi.

Terhadap ternak-ternak yang masih berkeliaran bebas tersebut, masyarakat korban tidak berani protes atau melapori pemerintah. Warga lebih memilih diam karena takut diguna-gunai pemilik ternak yang ternaknya dilepas liar itu. Soalnya takut mati diguna-gunai.

Baca Juga :  Jelang Pilkada Puluhan Desa di Ende Masih Masuk Zona Blank Spot

“Kita tidak berani protes. Paling ngomel sendiri kecil-kecil atau dalam hati saja. Rantang rasung, takut pemilik hewan mungkin guna-gunai kita. Kalau sudah begitu mati kita. Makanya lebih baik diam saja, ” ujar Ludi.

Diharapkan kepada pemerintah setempat supaya mengeluarkan aturan penertiban ternak, diikat/ dikandang. Yang langgar didenda. Dan kalau dimungkinkan petugas rutin lakukan patroli di Translok demi penertiban ternak-ternak setempat.

Beberapa waktu lalu pernah di lakukan itu, petugas rutin patroli. Hasilnya baik, ternak tidak dilepas bebas. Tanaman ubi, pisang, padi, sayur, aman. Hasilnya dijual dan warga dapat uang. Tapi sekarang itu tidak lagi karena alasan ternak berkeliaran tadi, keluh Ludi.

Wakil Bupati (Wabup) Mabar Yulianus Weng secara terpisah membenarkan.

“Ya, tidak hanya di Translok (Nggorang) saja, di tempat lain di Mabar juga begitu,” kata Wabup Weng.

Menurutnya, persoalan dimaksud mungkin Perda Mabar tentang penertiban ternak Perlu direvisi terkait sanksi terhadap pemilik ternak yang tidak kandang/ikat hewan piaraannya, kata Wabup Weng.*

Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Pemda Flores Timur Diminta Lakukan Pendekatan ke OJK Agar Debitur Penyintas Lewotobi Diberikan Kemudahan
Pertamina Pantau SPBU di Ende, kondisi Pasokan BBM Berangsur Normal
PWI NTT Salurkan Bantuan untuk 13 Wartawan Terdampak Bencana Gempa Flores di Ende
Kesan dan Pesan Wisuda 35 Wisudawan–‘STIE Karya Ruteng Jadi Rumah Persemaian Aneka Nilai Kemanusiaan’
John Tuba Helan Kritisi Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah
Djafar Achmad Temui Direktur Utama PT Pelindo Bicara Soal Perhatian ke Pensiunan Pelabuhan se Indonesia
Kapal Wisata KM Feronia Tenggelam di Perairan Tatawa, Taman Nasional Komodo, Satu Orang Belum Ditemukan
Dua Tahun Terakhir, Antrean Panjang BBM Berulang Kali Terlihat di Tiga SPBU Kota Ende
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:29 WITA

Pemda Flores Timur Diminta Lakukan Pendekatan ke OJK Agar Debitur Penyintas Lewotobi Diberikan Kemudahan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:18 WITA

Pertamina Pantau SPBU di Ende, kondisi Pasokan BBM Berangsur Normal

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:19 WITA

PWI NTT Salurkan Bantuan untuk 13 Wartawan Terdampak Bencana Gempa Flores di Ende

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:37 WITA

Kesan dan Pesan Wisuda 35 Wisudawan–‘STIE Karya Ruteng Jadi Rumah Persemaian Aneka Nilai Kemanusiaan’

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:08 WITA

John Tuba Helan Kritisi Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah

Berita Terbaru

Nusa Bunga

John Tuba Helan Kritisi Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah

Rabu, 14 Okt 2026 - 11:08 WITA