Mahasiswa KKN UNIPA Gandeng Pemdes Tanarawa Tekan Angka Stunting - FloresPos Net

Mahasiswa KKN UNIPA Gandeng Pemdes Tanarawa Tekan Angka Stunting

- Jurnalis

Jumat, 28 Juli 2023 - 12:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net-Puluhan mahasiswa yang sedang menjalani praktik Kerja Kuliah Nyata (KKN) Universitas Nusa Nipa (Unipa) Indonesia memiliki kepedulian dalam upaya mengatasi stunting di Desa Tanarawa, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT.

Sebagai wujud konkret dukungan atasi stunting, mahasiswa KKN Unipa Indonesia menggandeng pemerinhan desa setempat dengan gencar melakukan edukasi seputar pencegahan dan penanganan stunting dengan sasaran ibu hamil dan ibu yang memiliki anak berumur 0 – 24 bulan.

Mahasiswa dalam edukasinya menyadarkan masyarakat untuk memperhatikan pola asuh dan pola makan sesuai kelompok sasar di atas.

Kepedulian Mahasiswa KKN Unipa ini berawal dari adanya fakta di mana Desa Tanarawa menjadi salah satu desa yang angka stuntingnya cukup tinggi, meskipun data itu masih bisa diperdebatkan di kalangan pemerintahan setempat, termasuk mahasiswa Unipa yang sedang menjalani praktik KKN di wilayah itu.

Stunting Cukup Tinggi

Ketua Kelompok KKN Desa Tanarawa 2023, Sofronius Loking mengemukakan bahwa data stunting di Desa itu  terbilang tinggi di mana terdata ada 48 balita yang masuk kategori itu.

“Angka stunting di sini terbilng sangat banyak sebab Desa Tanarawa menjadi salah satu desa penyumbang angka stunting tertinggi Kabupaten Sikka sebanyak 48 Balita,” katanya.

Melihat data di atas, lanjut Sofronius, maka pihak mahasiswa menyepakati melaksanakan program utama selama menjalani KKN di Desa Tanarawa sejak 10 hingga 31 Juli yakni mencegah stunting dengan nama Program Gemas Linting, yakni Gerakan Mahasiswa Peduli Stunting.

“Untuk menyukseskan program ini, maka kami menggandeng pemerintah desa, kecamatan dan pihak kesehatan dalam hal ini pihak puskesmas Desa Tanarawa,” katanya.

Sofronius menjelaskan bahwa kelompok mereka terdiri dari 22 mahasiswa yang menjalankan KKN dengan mengusung tema “Selamatkan bumi kita dengan green lifestyle” dengan program unggulannya yaitu fokus ke kesadaran masyarakat terhadap pola asuh dan pola makan.

“Untuk edukasi terkait stunting ini kami memilih sasaran seperti ibu hamil dan ibu yg memiliki anak berumur 0 – 24 bulan” katanya.

Baca Juga :  Flores United dan Tiwu Telu Bermain Imbang di Laga Pertama Askab Ende Cup

Butuh Analisis

Sofronius Loking mengakui bahwa dalam upaya mencegah dan mengatasi stunting tidak saja pada upaya pencegahan dan pendampingan, tetapi juga fokus pada upaya penanganan yang sertai dengan analisis seperti pengukuran dan cari tahu permasalahan lain.

“Gejala yang sering dijumpai itu biasanya pertumbuhan tinggi anak yang tidak sesuai dengan umur dan penilaian itu pastinya bersumber dari analisis permenkes” katanya.

Untuk maksud itu, lanjut Sofronius maka selama program KKN yang berlangsung hingga Agustus 2023, mahasiswa juga memiliki sejumlah program kerja lain seperti penggalian potensi makanan lokal pengganti asupan gizi dan makanan pendamping air susu ibu (MP ASI).

“Pelbagai upaya ini  bisa berdampak pada upaya  pertumbuhan normal balita sesuai dengan harapan kita,” katanya.

Sofronius berharap pentingnya kolaborasi dan sinergi tersebut dalam upaya meningkatkan kesadaran masayarakat akan pentingnya pola hidup sehat serta memperhatikan faktor-faktor pertumbuhan dan perkembangan balita.

“Kami berharap semoga dengan program dan kegiatan yang kami jalankan di desa ini sedikit banyak dapat membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya pola makan dan pola asuh serta sanitasi lingkungan yang baik pada balita agar dapat keluar dari persoalan stunting,” katanya.

Pertanyakan Data Stunting

Sementara Kepala Desa Tanarawa, Laurensius Sesu, SI.Pust, menjelaskan bahwa melonjaknya data stunting di desa yang dipimpinnya disebabkan karena adanya  perbedaan pemikiran antara petugas kesehatan dan masyarakat desa.

“Sampai hari ini, saya juga masih sedikit bingung penjelasan teman-teman dari nakes, bahkan kita sudah rapat koordinasi tingkat kabupaten yang mana kita harus memilah antara stunting dan stunted,” katanya.

“Tapi kondisi di desa ini kita masih pakai kata stunting saja. Jadi setiap orang pendek tetap didata, sekalipun lilanya bagus, gizinya bagus, berat badan bagus tetap didata sebagai stunting karena badannya pendek. Badan pendek  bisa jadi itu karena faktor gen,” kata Kades.

Baca Juga :  Cara Membuat Minyak Kelapa Sendiri di Rumah

Meskipun demikian, Kades Tanarawa mengakui peningkatan stunting di desanya berawal dari kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap pentingnya pola asuh, pola makan dan sanitasi lingkungan sebagai upaya pencegahan stunting.

Sejalan dengan Kades Tanarawa, Mystica Bemu salah seorang mahasiswa Unipa yang menjalani KKN di Desa Tanarawa juga mengaku heran  karena seturut pantauan lapangan, anak balita yang masuk kategori stunting, tetapi kondisi fisik mereka terlihat baik-baik dan sehat-sehat.

“Kami sedikit bingung dan sanksi terhadap data yang diberikan sebab sasaran anak stunting yang kami kunjungi terlihat baik-baik, dan sehat-sehat saja, anehnya mereka digolongkan dalam katagori stunting,” kata Mystica Bemu rada heran.

Meskipun demikian, Mystica menyarankan agar pentingnya upaya edukasi yang lebih detail tentang pemahaman mengenai stunting dengan indikator penilaian dan penetapan stunting dan stunted agar jangan stunted dikaitkan lagi dengan stunting.

“Pasalnya penggolongan tersebut sebenarnya dapat memperburuk keadaan psikologi orang tua yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak,” katanya.

Mystica dan juga mahasiswi KKN Unipa lainnya Putri Kurniawati dari Prodi Ilmu Hukum tetap berkomitmen terlibat aktif bantu menurunkan angka stunting di desa itu.

“Kami tetap beroptimis untuk membantu penurunan angka stunting dengan melakukan gerakan-gerakan kecil dalam kelompok program KKN yang tidak hanya sekadar sosialisasi melainkan pemberikan pendampingan pola asuh dan pola makan pencegahan stunting. Kita juga memberikan sesuai sasaran agar dapat berjalan lebih efektif. Tentunya Permenkes menjadi salah satu acuan utama dalam melakukan edukasi,” kata Putri Kurniawati.

Untuk diketahui, stunting menjadi perhatian pemerintah, pasalnya angka prevelensi stunting di Indonesia berada di angka 21,6 persen.

Artinya hampir 1 dari 4 balita menderita stunting. Data ini berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementrian Kesehatan 2022. *

Laporan: Mystica Bemu, Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Unipa

Editor: Wall Abulat

Berita Terkait

Kumpulkan 200 Guru Hononer, Melchias Marcus Mekeng Komit Perjuangkan Anggaran Pendidikan dan Nasib Guru
Pemangku Adat Kecewa Terkait Pola Pikir Pejabat Partai dan Pemberian Gelar Raja untuk Jokowi
Kader Kesehatan Puskesmas Riaraja Jadi ‘Jembatan Emas’ Temukan Kasus Suspek TBC Secara Dini
PAN Ende Gelar Rakerda dan Lantik Pengurus DPC, AYO: Ini Rumah Besar untuk Semua
Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026: Hadirkan Harmoni Spiritualitas, Budaya, dan Pariwisata Berkelanjutan
Setelah Soekarno Cup, PBVSI Ende Gelar Turnamen Voli Antar Pelajar Sedaratan Flores-Lembata
Sukses Gelar Soekarno Cup 1, Yosef Badeoda: Ini Akan Jadi Ajang Rutin dari PDI Perjuangan
Dorong Swasembada Pangan, Pemda Nagekeo Monitoring Cetak Lahan Desa Langedhawe
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:50 WITA

Kumpulkan 200 Guru Hononer, Melchias Marcus Mekeng Komit Perjuangkan Anggaran Pendidikan dan Nasib Guru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:36 WITA

Pemangku Adat Kecewa Terkait Pola Pikir Pejabat Partai dan Pemberian Gelar Raja untuk Jokowi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:26 WITA

Kader Kesehatan Puskesmas Riaraja Jadi ‘Jembatan Emas’ Temukan Kasus Suspek TBC Secara Dini

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:17 WITA

PAN Ende Gelar Rakerda dan Lantik Pengurus DPC, AYO: Ini Rumah Besar untuk Semua

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:15 WITA

Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026: Hadirkan Harmoni Spiritualitas, Budaya, dan Pariwisata Berkelanjutan

Berita Terbaru