Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja) - FloresPos Net - Page 4

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

- Jurnalis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika uang, yang seharusnya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, berubah fungsi menjadi alat untuk mengejar keuntungan melalui perjudian, maknanya pun hilang.

Selain itu, kita juga perlu memberikan perhatian serius terhadap pendidikan digital. Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan digital yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Oleh karena itu, pendidikan iman tidak hanya cukup dengan mengajarkan doa dan moral secara umum. Anak-anak dan remaja perlu dibekali dengan kemampuan untuk membaca iklan digital, mengenali manipulasi algoritma, memahami risiko finansial, serta membangun disiplin dalam menggunakan teknologi.

Baca Juga :  Euthanasia Dalam Pandangan Gereja Katolik Menurut Ensiklik Evangelium Vitae

Menghadapi judi online bukan semata-mata soal memblokir situs atau memberikan nasihat kepada orang agar berhenti berjudi. Pertarungan yang lebih fundamental adalah membangun masyarakat yang menawarkan harapan nyata tanpa menjadikan individu sebagai korban dari keuntungan.

Dalam terang Ajaran Sosial Gereja, kita dipanggil untuk hadir bukan hanya ketika seseorang sudah jatuh, tetapi juga ketika masyarakat sedang membangun budaya yang memungkinkan terjadinya kejatuhan.

Baca Juga :  Soal Ranperda Tramtibum di Ende, Pemda Seharusnya Mengatur, Bukan Melarang

Masyarakat kita perlu dididik, didampingi, dikritisi, dan ditawarkan alternatif yang konstruktif. Ketika manusia mencari pendapatan melalui keberuntungan judi, mungkin yang hilang bukan hanya uang, melainkan juga harapan.

Tugas kita adalah membantu setiap orang untuk menemukan kembali harapan tersebut, bukan melalui janji kekayaan instan, tetapi melalui pekerjaan yang bermartabat, solidaritas, keadilan, keluarga yang kokoh, dan kehidupan yang menghormati martabat setiap manusia. *

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Berita Terkait

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 397 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Berita Terbaru

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA

Advertorial

Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:52 WITA