Ketika uang, yang seharusnya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, berubah fungsi menjadi alat untuk mengejar keuntungan melalui perjudian, maknanya pun hilang.
Selain itu, kita juga perlu memberikan perhatian serius terhadap pendidikan digital. Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan digital yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Oleh karena itu, pendidikan iman tidak hanya cukup dengan mengajarkan doa dan moral secara umum. Anak-anak dan remaja perlu dibekali dengan kemampuan untuk membaca iklan digital, mengenali manipulasi algoritma, memahami risiko finansial, serta membangun disiplin dalam menggunakan teknologi.
Menghadapi judi online bukan semata-mata soal memblokir situs atau memberikan nasihat kepada orang agar berhenti berjudi. Pertarungan yang lebih fundamental adalah membangun masyarakat yang menawarkan harapan nyata tanpa menjadikan individu sebagai korban dari keuntungan.
Dalam terang Ajaran Sosial Gereja, kita dipanggil untuk hadir bukan hanya ketika seseorang sudah jatuh, tetapi juga ketika masyarakat sedang membangun budaya yang memungkinkan terjadinya kejatuhan.
Masyarakat kita perlu dididik, didampingi, dikritisi, dan ditawarkan alternatif yang konstruktif. Ketika manusia mencari pendapatan melalui keberuntungan judi, mungkin yang hilang bukan hanya uang, melainkan juga harapan.
Tugas kita adalah membantu setiap orang untuk menemukan kembali harapan tersebut, bukan melalui janji kekayaan instan, tetapi melalui pekerjaan yang bermartabat, solidaritas, keadilan, keluarga yang kokoh, dan kehidupan yang menghormati martabat setiap manusia. *
Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende










