Oleh karena itu, kita tidak dapat sekadar memberi seruan kepada umat, “Jangan berjudi.” Meskipun ajakan moral itu penting, akan tetapi hal tersebut belum cukup.
Kita perlu mempertanyakan mengapa orang begitu mudah tergoda untuk mencari uang secara cepat. Mengapa harapan ekonomi mendorong sebagian orang untuk percaya bahwa keberuntungan dapat menjadi solusi dari kemiskinan? Mengapa generasi muda begitu rentan terhadap promosi perjudian di ruang digital?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengarahkan kita pada prinsip keadilan sosial dan solidaritas. Masyarakat yang adil tidak boleh membiarkan kelompok miskin dan rentan menjadi sasaran eksploitasi ekonomi.
Apabila individu yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup terus-menerus dibombardir dengan tawaran “uang cepat” melalui judi online, masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kelemahan pribadi, melainkan juga mencerminkan lingkungan sosial dan ekonomi yang perlu dikritisi.
Dalam konteks ini, prinsip solidaritas mengajak kita untuk tidak menghakimi orang yang terjerat dalam perjudian online. Meskipun orang yang terlibat dalam perjudian perlu mempertanggungjawabkan tindakan mereka, mereka juga membutuhkan dukungan untuk bangkit.
Stigmatisasi hanya akan menyebabkan individu semakin terasing. Keluarga, komunitas, paroki, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus menciptakan ruang yang aman untuk pendampingan, literasi keuangan, dan pemulihan hubungan yang memungkinkan orang keluar dari jeratan judi online.
Di titik ini, ASG menekankan pentingnya tanggung jawab dalam penggunaan kekayaan. Kekayaan tidak seharusnya menjadi tujuan akhir kehidupan, melainkan memiliki fungsi sosial yang harus diarahkan untuk mendukung kehidupan manusia.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










