Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital - FloresPos Net - Page 2

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena ‘doxing’ di media sosial kerap direduksi menjadi masalah privasi atau kejahatan siber biasa. Padahal, praktik penyebaran data pribadi ini menyimpan dimensi psikologis yang jauh lebih kompleks.

Dalam kacamata psikologi sosial, ‘doxing’ merupakan manifestasi dari agresi kolektif dan hilangnya kendali diri. Ia adalah bentuk perusakan psikologis yang terorganisasi di ruang digital.

Masyarakat digital sering kali mengalami fenomena ‘deindividuasi’, di mana identitas personal melebur ke dalam anonimitas kerumunan. Ketika seseorang dianggap melanggar norma, individu di dalam kelompok maya langsung kehilangan hambatan moral mereka. Mereka tidak lagi memproses informasi secara rasional.

Mereka menjatuhkan vonis psikologis melalui penyebaran data sensitif korban. Tindakan ini mencerminkan bias kognitif dan kebutuhan purba manusia untuk merasa superior secara moral. Media sosial berubah menjadi katalisator bagi pelepasan impuls agresif. Di sana, empati mati, sementara kepuasan sadistik kolektif dirayakan melalui penghancuran mental individu yang menjadi sasaran.

Baca Juga :  Kebisingan Demokratis

Mekanisme ‘doxing’ sangat sejalan dengan mekanisme pertahanan diri berupa proyeksi dan pencarian kambing hitam. Kerumunan yang sebenarnya menyimpan frustrasi terpendam tiba-tiba menemukan pelepasan emosi dengan cara menyalahkan satu orang. Korban ‘doxing’ dikorbankan demi memuaskan dahaga psikologis akan katarsis semu. Dalam proses ini, batas psikologis korban yang seharusnya melindungi rasa aman telah dihancurkan.

Baca Juga :  Menimbang Etika Politik Pilkades

Privasi adalah ruang mental yang menjaga kewarasan dan identitas diri. Karena itu, ketika data pribadi diekspose ke ruang publik yang toksik, integritas psikologis korban runtuh. Ia mengalami trauma akut, merasa terasing, dan kehilangan rasa aman yang fundamental.

Ironi terbesar dari penghakiman digital ini adalah matinya kapasitas untuk berempati dan memaafkan. Psikologi manusia membutuhkan ruang untuk pemrosesan emosi, refleksi, dan rekonsiliasi. Namun, jejak digital yang disebar melalui ‘doxing’ menciptakan ilusi keabadian yang melumpuhkan. Korban tidak pernah diberi kesempatan untuk mencapai penutupan psikologis (psychological closure).

Berita Terkait

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Rabu, 23 September 2026 - 17:36 WITA

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Berita Terbaru

Opini

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:58 WITA