Sebagian besar sekolah di wilayah terdampak masih tutup atau berjalan tidak normal karena bangunan rusak dan anak-anak takut ke sekolah.
“Sekarang anak-anak tidak sekolah karena trauma. Lihat gedung retak sedikit saja mereka lari. Tapi sampai hari ini belum ada solusi trauma healing yang masif dari pemerintah daerah,” kata seorang guru SD di Aesesa, yang enggan nama di sebutkan.
Ironisnya, dalam rapat bersama Presiden, Bupati Simplisius justru fokus memuji program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia mengklaim kehadiran siswa “nyaris 100 persen” dan tingkat kebugaran anak meningkat. Ia bahkan menyebut KDRT menurun.
Namun ia tidak menyinggung sama sekali soal berapa banyak pelajar yang menjadi korban luka, patah kaki, atau yang saat ini tidak bisa sekolah karena trauma.
“Tidak ada data, tidak ada program pemulihan psikologis yang jelas. Yang ada cuma laporan MBG bagus. Padahal anak-anak kami masih tidur di tenda dan takut masuk kelas,” keluh salah satu orang tua.
Dalam rapat tersebut, Bupati Simplisius juga tidak menjelaskan kendala mendasar listrik dan internet sempat lumpuh, akses bantuan terhambat, dan banyak rumah rusak berat tapi tercatat ringan.
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










