LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar), dalam hal ini Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP), menilai petani di daerah itu yang belum melek rotasi tanaman adalah tantangan.
Demikian Kepala DTPHP Mabar, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tarsisius Gonsa menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama berselang.
Ia dimintai tanggapan terkait kemungkinan dampak ganda bilamana kaum tani di Mabar terbiasa melakukan rotasi tanaman, utamanya di sawah.
Selama ini petani di daerah itu sepertinya “harga mati” kalau lahan sawah harus selalu ditanami padi, tidak terbiasa dengan pola bergantian tanaman, seperti merotasi tanam padi, jagung, kacang dan tanaman semusim lainnya.
Menurut Gonsa, sepertinya sampai sekarang petani Mabar belum terbiasa melakukan pola pergantian tanaman semusim, di sawah utamanya. Sebabnya mungkin antara lain semacam budaya. Bagi petani Mabar kalau tidak tanam padi sepertinya semacam belum apa-apa.
Sehingga mau hasil tidak hasil harus tetap tanam padi, dan itu setiap tahun. Menanam padi terus menerus di sawah seperti jadi turun temurun, tradisi, budaya.
Padahal, kalau melakukan pola tanam bergantian, rotasi tanam, paling tidak hasilnya berlipat ganda. Antara lain karena berkaitan unsur hara tanah, mengembalikan kesuburan tanah, dan mengoptimalkan hasil panen berkelanjutan.
Gonsa menilai, belum terbiasanya petani Mabar melakukan rotasi tanaman merupakan tantangan bagi Pemkab Mabar, dalam hal ini DTPHP. Pemkab/DTPHP Mabar terus menyadar/mencerah/mensosialisasikan kepada petani di Mabar untuk melakukan rotasi tanaman, utamanya tanaman semusim di sawah.
Misal, kata Gonsa, kalau musim ini tanam padi, musim berikutnya digangti dengan tanaman semusim lainnya, seperti jagung atau kacang kedelai atau kacang-kacang jenis lain, atau tanam sayur atau lombok, atau semangka, atau tanaman semusim lainnya, kemudian kembali ke padi lagi, lalu musim tanam/panen berikutnya diganti tanaman lain. Lakukan itu terus menerus, kontinyu.
Manfaat rotasi tanaman, terang Gonsa, banyak. Di antaranya terkait unsur hara, dimana kesuburan tanah akan kembali. Harga tanaman semusim lainnya, bukan padi/beras, seperti jagung dan lain-lain, juga menjanjikan.
Tanaman semusim lain selain padi, seperti jagung, kacang-kacangan, hortikultura, yakni tidak rakus air khususnya.
“Saya berharap petani di Mabar kelak jadi melek rotasi tanaman. Ini tantangan bagi Pemkab/DTPHP Mabar. Pemkab/DTPHP Mabar terus melakukan sosialisasi kepada petani Mabar ke depan jadi melek rotasi tanaman, lakukan terus menerus, kontinyu,” kata Gonsa. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










