Selain itu asramanya juga penuh sehingga banyak yang tidak bisa diakomodir karena daya tamping asrama putri untuk SMP dan SMA sebanyak 180 orang saja.
Untuk tahun 2026 ini, Yayasan Santu Gabriel bekerjasama dengan pihak swasta putera asli Sikka Ense da Cunha Solapung membangun asrama putera untuk menampung para siswa.
“Kami berupaya untuk membangun ruang kelas tingkat 3 di bagian tengah.Kami tidak menerapkan pembelajaran shift karena tidak efektif apalagi sesuai kurikulum nasional pembelajaran mendalam,” ungkapnya.
Sarjana Filsafat ini mengakui SMAS Bhaktyarsa Maumere tidak mengejar jumlah siswa yang banyak agar bisa mendapat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Untuk mendaftar di sekolah ini kata Suster Marcelina, tidak ada persyaratan-persyaratan dan lebih banyak yang mendaftar dari luar Kabupaten Sikka.
Bahkan untuk Kelas XI dan Kelas XII sekolahnya menerima siswa yang pindah dari sekolah manapun dan memiliki karakter separah apapun.
Tidak Ada Penyeragaman
Di SMAS Bhaktyarsa Maumere seorang anak didik hampir tidak pernah dikeluarkan dari sekolah sebab kalau mengeluarkan anak maka sekolah dianggap gagal total.
Menurut Suster Marcelina pada prinsipnya anak didik berproses karena sekolah membentuk siswa sesuai dengan ritme siswa bukan penyeragaman.
Bahkan di SMAS Bhaktyarsa Maumere, seorang anak didik tidak pernah dibilang bodoh sebab menurut Suster Marcelina,Tuhan tidak pernah menciptakan seorang bodoh tetapi menciptakan seseorang sesuai dengan kodratnya.
Suster Marcelina menegaskan sekolahnya menerima semua anak didik dan tidak bisa menyeragamkan sebab kalau penyeragaman maka ada ketidakadilan disana, ada pembunuhan karakter karena ada yang sombong dan ada yang akan rendah diri.
Dirinya memaparkan untuk saat ini jumlah siswa di Kelas XI sebanyak 257 orang sementara untuk Kelas XII jumlah siswanya tidak sampai 200 orang.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










