“Kita menerapkan home visit sehingga anak meski jauh dari orang tua dia akan merasa ada orang tua asuh,ada yang memantaunya. Sejak tahun 2016 guru-guru juga selama sekali seminggu ada kelas guru kerana di mata saya tidak ada guru yang hebat dan tidak hebat,” tuturnya.
Suster Marcelina besyukur meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada rumah Bhaktyarsa terkait dengan pelayanan dimana anak didik melihat sekolah melayani mereka dengan baik.
Di SMAS Bhaktyarsa Maumere sekolah melihat anak didik dan orang tua sebagai pelanggan dan sekolah adalah penyedia jasa sehingga dengan mindset ini maka anak didik harus diperlakukan dengan baik.
Suster Marcelina menyebutkan hanya ada kerinduan agar bisa melayani anak ddik berkualitas dan ada rasa selalu tidak puas dan terus melakukan inovasi, pelayanan bermutu dan selalu merasa belum puas.
“Tahun ajaran baru kita akan menerapkan bilingual bahasa Indoensia dan Bahasa Inggris dalam pembelajaran.Selama ini kami sudah menerapkan misa Bahasa Inggris setiap hari Jumat dan saat ini pun guru-guru sedang les Bahasa Inggris,” terangnya.
Suster Marcelina katakan jumlah tenaga pendidik di sekolah ini sekitar 50 orang dan terdapat 12 orang guru berstatus ASN namun pihaknya tidak membedakan status guru apakah ASN atau guru dari yayasan,semua statusnya sama.
Ia menyebutkan, tantangan terbesar di sekolah ini yakni bagaiamana memanage waktu sebab karakterisitik dari setiap angkatan itu berbeda-beda sehingga bagaimana mengorbankan waktu dan energi untuk mengatasinya.
“Bagi saya tantangan itu ketika kita mengalami suatu keberhasilan, itu tantangan terbesar. Bagaimana agar tetap konsisten. Bersyukur atas keberhasilan iya tapi tidak ada yang harus kami banggakan, sombongkan,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










