MBAY, FLORESPOS.net-Puluhan perempuan warga Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi spontan dengan mendatangi Markas Batalyon 834 Wakanga Mere, Kamis (11/6/2026) pagi.
Kedatangan mereka bukan untuk berkonfrontasi, melainkan untuk mengembalikan patok-patok batas yang sebelumnya dipasang di wilayah tambak garam milik warga.
Peristiwa ini bermula Rabu (10/6/2026) sore, ketika anggota Batalyon 834 TP/WM melakukan pemasangan patok di areal sisi utara jalan desa. Lokasi tersebut selama ini dimanfaatkan warga Tonggurambang sebagai tambak garam.
Pemasangan patok tanpa komunikasi sebelumnya membuat warga, khususnya para perempuan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari garam, merasa terkejut dan khawatir.
Merasa lahannya akan diambil, sekelompok “emak-emak” ini bergerak cepat. Kamis pagi kemarin mereka mendatangi titik pemasangan patok, mencabut satu per satu patok yang ditemukan, lalu mengumpulkannya.
Setelah itu, secara bersama-sama mereka berjalan kaki menuju markas Batalyon 834 TP/WM untuk mengembalikan patok tersebut langsung ke hadapan petugas.
“Kami tidak mau ribut dengan bapak-bapak TNI. Kami hanya mau tanya baik-baik. Ini tanah warisan nenek moyang kami, tempat kami cari makan garam untuk anak cucu. Kalau mau dipakai, bicaralah dulu dengan kami. Jangan langsung tancap patok,” ujar Karolina Sowa salah seorang ibu yang ikut dalam aksi, sambil menyerahkan patok ke petugas jaga.
Aksi para ibu ini berlangsung tertib dan tanpa anarkis. Mereka datang membawa patok, menyerahkan, lalu menyampaikan aspirasi agar ada dialog dan kejelasan status lahan sebelum ada tindakan lebih lanjut.
Sikap ini mendapat apresiasi karena menunjukkan cara warga menuntut hak dengan kepala dingin. Hingga berita ini ditulis, pihak Batalyon 834 TP/WM belum memberikan keterangan resmi terkait tujuan pemasangan patok dan status lahan di sisi utara jalan Desa Tonggurambang. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










