Lanjutnya, tenaga psikiater tidak tersedia di 27 Puskesmas yang ada di Kabupaten Sikka dan hanya ada 2 psikiater di rumah sakit TC Hillers Maumere yang siap memberikan pelayanan.
“Teman-teman tenaga kesehatan di Puskesmas serius memberikan pelayanan maksimal kepada pasien kesehatan jiwa.Namun kendalanya tidak ada tenaga khusus dan obatnya pun terbatas sehingga banyak yang belum mendapatkan obat,” ucapnya.
Venty mengakui setelah adanya LSM Yayasan Papha Indonesia,program kesehatan jiwa gaungnya tidak segencar saat ini dimana sekarang program-program kesehatan jiwa berjalan bagus.
Dirinya berharap agar kesehatan jiwa menjadi perhatian serius bagi semua warga Kabupaten Sikka terutama keluarga yang ada anggota keluarganya mengalami masalah kesehatan jiwa.
Kristianus Pana dari Kelompok Kasih Insanis (KKI) yang merupakan relawan peduli ODGJ membenarkan ketiadaan obat bagi pasien kesehatan jiwa di puskesmas-puskesmas di Kabupaten Sikka.
Pihaknya pun membantu membelikan obat bagi pasien kesehatan jiwa dari hasil sumbangan dana anggota relawan namun tentu saja jumlahnya sangat terbatas sesuai kemampuan mereka.
“Hasil diskusi dulu pernah diusulkan agar ada bangsal khusus di rumah sakit untuk melayani pasien kesehatan jiwa namun sampai saat ini usulan tersebut belum terealisasi,” ungkapnya.
Titon Nau, Officer Project Yayasan Papha Indonesia menjelaskan,aturan baru dari pemerintah pusat tidak diperbolehkan lagi membangun rumah sakit jiwa yang khusus menangani pasien kesehatan jiwa.
Titon menyebutkan, rumah sakit diperbolehkan membangun bangsal atau klinik khusus yang melayani pasien kesehatan jiwa sehingga saat ini rumah sakit jiwa pun menangani pasien umum.
“Pemerintah provinsi NTT merencanakan membangun rumah sakit jiwa satu di Pulau Flores dan satu lagi di Pulau Sumba namun aturan tidak membolehkan. Makanya dibangun bangsal khusus bagi pasien kesehatan jiwa di rumah sakit,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










